Halo NaFren (Nanda’s Friend) , apa kabar? Semoga baik ya. Terimakasih sudah singgah ke blog nandsy.com. Semoga ga bosan-bosan kesini.

Kali ini kita akan belajar bagaimana sih menulis puisi keren dengan efektif dan mudah, no ribet? Penasarankan?

Tapi tidak semudah yang dibayangkan juga, mie instan aja harus direbus dulu, masa tiba-tiba mau bisa langsung nulis puisi, kenalan aja belum ya kan? Kita belajarnya pelan-pelan aja ya, Oke?

Pasti kita sudah sering mendengar pertanyaan-pertanyaan: Mengapa sulit sekali merangkai kata dalam puisi? Mengapa kata-kata itu seolah tinggal di balik tembok tebal yang tinggi dan berduri? Mengapa saya tidak bisa menulis puisi? Ide nya saja susah apalagi menuliskannya? Tapi aku pengen nih ikut lombo menulis puisi atau pengen juga punya karya.

Gapapa kok, kalau tulisan pertama masih acak-acakan. Tetap semangat teman!

Ketika ingin mulai menulis seringkali kita hanya terpaku dalam lamunan didepan kertas putih yang kosong dengan pulpen, tapi tak ada yang bisa kita ditulis. Atau juga idenya udah ada tapi memulai kalimat pertamanya susah banget. Sama, aku juga gitu kok. Memancing kalimat pertama itu yang agak sulit, tapi kalau kita udah menemukan kalimat pada baris pertama, baris berikutnya akan lebih mudah menuliskannya. Yang penting, jangan langsung menyerah di baris pertama, teman.

Seorang ahli/profesional pun pada awalnya juga merupakan seorang “pemula”.

Yup, semua orang, siapapun itu, sebelum menjadi expert dibidangnya, pasti akan selalu ada percobaan pertama, atau yang sering kita sebut dengan istilah pemula. Masih penulis pemula nih, masih blogger pemula atau masih youtuber pemula. Kata pemula ini jangan kita jadikan alasan untuk berhenti belajar ya fren, tapi dijadikan batu loncatan yang membuat kita semakin semangat mempelajari hal-hal baru. Sepakat?

Sebelum kita ke tips menulis puisi, teman-teman baca dulu yah selayang pandang puisi itu apa? Dan gimana perkembangannnya sekarang, https://nandsy.com/sastra/puisi/puisi-keren-abadi-sepanjang-zaman-yuk-berkenalan-dengan-puisi/

1. Pahami dulu apa itu puisi, sebelum mulai menulis puisi

Coba dulu untuk membaca puisi-puisi yang ada di buku, majalah dan berbagai media massa seperti facebook, instagram atau wattpad. Nafren juga bisa meminjam ebook di iPusnas yang merupakan perpustakan digital, bisa kamu download di Play Store.

Baca juga buku tentang puisi, Nafren akan tahu sendiri bagaimana menulis puisi. Bisa juga untuk pemula menggunakan metode Copy the Master yaitu mencontah cara penulisan para penyair-penyair keren. Bukan plagiat ya Fren.

Intinya, harus banyak-banyak baca buku puisi. Catat juga setiap kata indah yang bermakna menurutmu. Kamu bisa menyisipkan kata itu nanti, dalam puisi dalam baris dan kalimat yang tepat.

Sedikit cerita ya, pengalaman aku dulu waktu mau memulai menulis puisi tanpa modal apa-apa hanya tekad yang kuat ingin belajar.

Aku  akan memperdalam pengetahuan tentang tema puisi yang akan ditulis. Misalnya, ketika itu saya ingin sekali ikut FLS2N cabang cipta puisi. Tema yang selalu mereka tawarkan adalah tentang Indonesia, tanah air, budaya dan kemerdakaan.  

Aku nyari-nyari buku tentang kemerdekaan, memahami rentetan tanggal dan kejadiannya, juga baca buku puisi yang dipinjam dari guru bahasa Indonesia ku dulu ketika SMA.

2. Cari Inspirasi

Pengalaman estetik adalah pendorong dalam menulis puisi. Kita bisa cari tempat-tempat yang menurut kita nyaman dan memberi ide serta inspirasi dalam menulis. Bisa di bawah pohon kelapa, sawah, sungai, pegunungan, perkotaan, kantin sekolah, perpustakaan dan tempat tidur. Aku dulu, pertama kali mencoba menulis puisi untuk ikut tes sebagai tim cipta puisi sekolah memilih di atas tempat tidur kamar asrama dan sendirian.

Dari situlah, Nafren bisa menemukan pengalaman estetik, sebuah perasaan yang indah yang mendorong seseorang menciptakan dan menuliskan keindahan itu. Puisi cocok untuk menggambarkan segala perasaan yang kamu rasakan. Sedih, senang, galau, marah, menyesal atau kekesalan terhadap apapun. Kamu bebas menuliskan apapun itu. Mulailah dari sesuatu yang sederhana dalam kehidupanmu sehari-hari.

3. Coba bawa buku catatan atau buku kecil yang kamu bawa kemana-mana.

Kalau zaman modren sekarang, kamu bisa instal aplikasi notes yang bisa mencatat setiap ide dan perasaanmu saat itu tanpa ribet. Karena pengalaman dan perasaan yang kamu rasakan bisa lupa ketika tidak dituliskan. Ingat, bagi seorang penulis ini hal penting. Kalau terlewatkan momen tersebut, nunggu pulang sampai rumah dulu biasanya terlanjur malas. Maka, hilanglah inspirasi yang berharga itu.

4. Yok mulailah menuliskan puisimu

Tulis saja semuanya. Tulislah apa yang ada dalam pikiranmu (carut marut, pusing), perasaanmu (sedih, bahagia), uneg-unegmu, kegelisahanmu. Tulislah perasaan dengan bebas tanpa beban.

Ingat, jangan buru-buru menyerah dan mengatakan kamu tidak berbakat. Terus mencoba dan mencoba.

Untuk semakin memantapkan pengetahuan dan kemahiranmu menulis puisi, pahami dulu elemen-elemen pembentuk puisi ya Nafren.

Lebih jelasnya, simak gambar dibawah ini ya.

Jangan lupa untuk memperbanyak diksi dari banyak baca buku juga ya..

5. Baca dan perbaikilah

Setelah Nafren selesai menulis puisi, coba endapkan dulu beberapa jam atau hari kemudian. Setelah itu, baca lagi puisimu dan kamu akan menemukan sesuatu yang berbeda, barangkali muncul perspektif berbeda. Jangan terlalu memaksakan untuk mengedit tulisanmu saat itu juga, bisa jadi kamu sedang buntu dalam memikirkannya. Jangan lupa perhatikan juga tanda baca sesuai Eyd (Ejaan yang disempurnakan) atau kata yang kamu pakai apakah sudah sesuai KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Barangkali, kamu akan heran dengan puisi yang kamu buat sendiri,  mungkin lebih bagus dari yang dikira atau malah jelek, ga papa kok Nafren, coba lagi yaa. Semangat!

6. Uji puisimu

Setelah menulis puisi, coba uji puisimu dengan mengirimkannya untuk dibaca teman, guru, orang tua, mengirim ke sosial media, koran atau kepada siapa saja.

Puisi sebagus apapun tak akan bermakna kalau kehilangan konteks lingkungannya. Sudah baguskah atau masih perlu diperbaiki puisimu?

Dengarkan komentar orang-orang disekitarmu dan catat saran, komentar juga kritik dari mereka.

Namun, alangkah lebih baiknya, kamu mengirimkannya ke media massa disana ada redaktur yang akan menyeleksi ribuan puisi yang masuk dan sudah paham masalah kepenulisan itu.

Nah, kalau puisimu lolos dari tangan redaktur, berarti bisa dijadikan tolak ukur puisimu sudah bagus. Ini hanya salah satu opsi saja karena pendapat redaktur juga bisa bersifat personal menurut pengalaman genre yang disukainya. Kalau belom lolos, yuk coba lagi. Wah, jangan stres dong!

Pokoknya, nikamati saja proses kamu dalam menulis puisi dan kirimkan lagi.

7. Bisa disimpan sebagai kenang-kenangan

Atau kalau kamu tidak mau mengirimkannya kepada siapapun, kamu bisa menyimpannya dalam buku harianmu sendiri. Tidak ada yang melarangnya.

Puisi adalah karya seni yang sangat pribadi, kalau memang tak laku dijual di penerbit atau media massa, puisi masih pantas untuk disimpan sebagai dokumen pribadi. Setelah sekian tahun kemudian, kamu bisa dengan bebas membacanya dan mengingatkanmu kepada momen yang kamu tulis itu.

Tidak mengapa bukan menulis puisi yang berisi curhatan? Semoga memberi sudut pandang baru dalam memaknai suatu hal. Iya kan?

Yup, gimana jurus jitunya? Semoga bermanfaat ya. Jangan lupa tinggalkan komentarmu di kolom bawah ya. Terimakasih.

+3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..