Pengakuanku yang terbesar padamu,

“Yang ku sayangi selalu pergi”

Aku cuma sedikit kehilangan, tidak, banyak.

Aku merasa kehilangan sekali

Aku berhenti berhara, berhenti bertanya dan berhenti menyapa bujang misterius itu.

Bagaimana harus ku ucapkan pengakuan ini

Aku jatuh cinta berulangkali, setiap hari, pada ketiadaannya, kealfaannya, selalu tidak pernah disampingku.

Kami jarang sekali bertemu. Setidaknya hanya sehari dalam setahun dalam rentang waktu dua tahun belakangan

Kami hanya bungkam, bertukar tatap diam-diam dari kejauhan, tak ada cerita basa-basi, hanya melepas kecupan rindu dalam sepucuk surat yang tak berprangko

Bagaimana harus ku ucapkan pengakuan ini :

Aku jatuh cinta berulang kali pada matamu,

Telaga dalam savana luas di negeri ajaib yang jauh menyelusup dalam ingatanku

Aku jatuh cinta berulangkali pada senyummu,

Air terjun di dalam hutan di negeri ajaib yang menemani kesepianku

Sebab pada mata dan senyummu bertemu semua musim kenangan. Sesuatu yang mengingatkanku pada suatu senja yang begitu rahasia, waktu berhenti, kau sapa aku mesra sekali.

Cinta, barangkali, kegagapanku terpendam hingga akhirnya kau menghilang.

Aku menangis, ya, sendirian, bermalam-malam.

Dengan wajah yang tenggelam tertutup bantal, hatiku terpental, keningku dekat ke marmar, jiwaku memar.

Kelopak bunga mawar hitam berguguran dari sembab mataku.

Kau tinggalkan aku terpaku dengan segala keteledoranmu menjaga cinta kita

Seseorang dengan mahkota raja menjadi kekasihku yang setia, pada suatu senja rahasia juga, minggat begitu saja.

Aku patah. Jatuh sakit. Hatiku lemah. Langkahku hikang arah.

Aku menunggu, tidak , aku tidak menunggu

Aku menunggu, tidak, mustahil aku menunggu

Aku menunggu, ia muskil kembali, ia mungkin kembali.

Aku kini buta dan menanti

Berbaring di ranjang malasku dengan hati yang sesak, berminggu-minggu kemudian berbulan-bulan. Dengan lancangnya ia berbisik, “Maaf aku memilihnya, aku ingin mengenalnya lebih jauh. Aku tak ingin memilikimu. Kita hanya sepasang teman biasa”.

“Goblok!!!!”, betapa dungunya aku

Empat tahun menahan rindu, menganyam cinta yang kian hari kian meluas. Dengan mudah dia berkomentar tanpa hati.Segala sesuatu berubah.  Ketika bujangku mengenal wanita yang tua dan tahu diri itu

Tega teganya dia merebut kekasihku dengan rayuan abal-abal. Bodohnya kekasihku yang termakan perkataan setan. Betapapun, ku mencoba bertahan. Dengan harapan, dia berubah pikiran. Namun, waktu tidak berlari ke punggungku. Jauh. Semakin jauh. Asing .  semakin terasing. Sepi. Sunyi. Menyelimuti.

Aku benci kepada perasaanku. Rindu selalu saja berhenti dihatiku

Bahkan debu pun tak pernah pahaam, kenapa jejak-jejak itu selalu disitu.

Sepertinya, aku tak pernah paham bahwa membakar kemarau tak akan melahirkan bara, melainkan kristal-krista salju

Aku selalu lupa bahwa kau keras kepala

Akan ku tanggungkan semua laraku ini untuk merangkum senyum hingga berbinar dua bola matamu yang anggun itu

Akan ku simpan airmata dalam ruang diam, menenggalamkan tabir-tabir cintaku yang tak pernah padam terbang dengan doa-doa malamku

Di hari yang lain, pada suatu hari baik nanti, aku yakin, yang kusayangi akan datang kembali. Akan ada keajaiban. Semoga.

+5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..