(buat seorang tuan bertopi koboi dalam peti mati yang enggan kuantar ke bandara semata karena beberapa bulan merenda kasih dan menjalin affair yang merugikan)

Bagai hujan rusuh menghunjam lebuh gersang

Nestapa menghampiri tanpa rambu akan adanya perang

“Dungu!”, bunyi asing menyelinap menabuh tympanum, telingaku meradang

Di hotel yang dikepung melankoli dibalut mawar hitam bau bacin

Diantara gemuruh aduh,duh,duh tuan titipkan duh tubuh purulen kedalam vaginaku

Perawakan gagah, otot kekar, ruh lemahmu roboh dalam nistanya yang terakhir

Angin yang biasa menggerai anak-anak rambutmu sudah ingkar

Coffin menjemputmu menuju bawah tanah yang penuh dengan sudut-sudut kesepian tanpa bunga raya kesayangan

Ketika bangun pagi sekali, pada suatu hari, kau mengeluhkan nyeri hebat tak terperi pada pelirmu. Usah risau timpalku.

Malam pualam berlalu timbuh nanah menyengat aroma busuk dari urethra

Menyeruak bengkak dengan warna batu bata

Aku kota sunyi. Manatau aku rantai yang mengikatmu tanpa suara.

Setelah senja menyembunyikan dirinya

Kau hobby bermain cinta dan melupakan kondommu sendirian di atas meja

Menjelma api ditengah gerimis kau mengacuhkan anak istrimu menanti sepanjang masa

Pulang balik ke bordil menulis usia dosa sepanjang masa

Liuk tubuhmu yang paling liar. Kau hantu yang menyamar.

“Aku suka lesung pipi dan baju seragam loreng milikmu. Tapi dihadiahkan penderitaan olehmu. Aku takut menelpon orang tua ku, dan mengatakan Neisseria Gonorrhoeae telah bersarang dalam organ vitalku. Aku ingin kembali ke negeriku. Tempat jejak sedang dibangun. Masa remaja bersama teman setia. Memperjuangkan mimpi dan cita”, batinku.

Cinta bikin kau gila. Tindakanmu asusila.

Ku tinggalkan pintu rumahku tergesa menjemput matamu mengeja keserakahan dunia

Malu menggoda setiap saat terngiang-ngiangkan akan kesialan menembus nganga

Kemrungsung memahat dada. Oh, sakitnya.

“Dasar, pembual besar tak berperikemanusiaan!!,”

 Aku rindu zaman belia bermahkota cahaya.

logo

Panyabungan, 16 Oktober 2020

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..