Ayah

Tercipta sejuk pada padang kota hatiku sampai meriam tepat di depan telingaku terhirau karena semangat hidupmu. 
Wahai, apakah kabarmu ayah? 


Sukma dari sukmaku mengalir dari sukmamu.

Jiwa dari jiwaku menitipkan muaranya padaku.

Kebersahajaanmu kian hari kian ku pahami. 

Tak banyak yang kau pinta atas keramahan dunia kecuali keluargamu bahagia.

Dan kadangkala aku mulai cemas jika permintaanku yang ini itu membuatmu resah dan banyak pikiran. 

Kupetik setangkai prahara untuk mencari ridho Allah dengan membahagiakan ayah dan ibu.

Telah ku untai wirid malam dan siang demi keberkahan hidup ayah dan ibu. 


Wahai, apakah kabarmu ayah? 

Cakap-cakap kita di rumah masih ku ingat.

Jalan-jalan sore bersama honda suzuki tua kesayanganmu itu masih membekas di memoriku.

Kita ke rumah nenek setiap sore kala itu.

Kau antar aku pergi sekolah dan kau jemput aku ketika pulang sekolah.

Dari aku SD, MDA, SMP hingga SMA.

Kau antar aku kemanapun aku pergi dan selalu kau usahakan untuk bisa.

Walaupun terkadang aku kesal karena kita sering terlambat.

Itu tak mengapa.

Yang penting itu bersamamu. 

Tak banyak aturan yang kau beri untukku. 

Karena selalu kau yakin anak pertamamu ini dewasa.

Bisa bijak membedakan yang baik dan buruk bagi dirinya tanpa diperintah atau dipaksa.

Aku tau, kau orang yang tak banyak bicara dan tak pandai dalam hal mengungkapkan rasa.

Tapi kau selalu tahu cara membuat kami bahagia. 

Kau, Ayah yang sederhana.

Tapi aku ingat kau yang mengajariku matematika, kau inspirasiku dalam menggambar dan melukis di waktu kala, kau yang menatahku naik sepeda dan menolongku ketika aku jatuh.

Kau yang mengajariku hidup harus berjuang.

Jangan kalah sebelum berperang.

Karena ku tahu masa mudamu begitu berapi-api ditengah ketidakberadaan ekonomi hanya kau yang bisa lulus pns dari saudara-saudaramu.

Kuliah sambil kerja memahat ukiran kayu.


Di umur belia sudah menjadi guru.

Tak banyak yang kutahu tentangmu.

Tapi itu saja sudah cukup untukku menghargaimu dengam rasa bangga, bahwa aku anakmu.

Senyummu mempesona.

Titah-titahmu bergelora.

Langkah mu berkharisma. 
Wahai, apa kabarmu ayah? 
Ku doakan agar kau baik-baik saja. 
Kau tetap ayah nomor satuku didunia.


 -Ditulis dengan rasa-

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..