Ghiroh for Palestina

Ashadu alla ilaha illallah,

Wa ashadu anna muhammadar rasululullah..

Ingatlah Allah, syukur pada-Nya

Langit malam cerah kerlip gemerlap bintang memayungi bumi

Nyanyian rayap ditengah sunyi masih jelas kita dengar

Udara segar yang tak dibeli masih bercengkrama dengan damai

Tak ada lendir yang mengikis selaput nanah

Tak ada raungan darah yang melimpah ruah

Tak ada percikan lumpur air mata

Hangat air suasana sejuk bening  masih kita rasakan

Tak pernahkah sejenak saja,

Mengambang di awang-awang benak kita nuansa batin mereka yang bobrok,

Di gorok, di arak-arak peluru kehancuran yang goblok?

Disiram nista tak berkesudahan?`

Diselimuti reruntuhan berlapis-lapis ton?

Sahabat mukmin hulubalang  disela-sela labirin rudal,

Diseret ketakutan yang rumit di deskripsikan.

Aku tertating tergopoh tak bernyali,

Berlipat lutut di halaman rumah penuh panorama kesenangan belaka,

Dijerat insisi kekejaman dan keegoisan hati yang  tak mau berbagi,

Dedaunan jadi kuning kering berkerak

Bermilyar insekta bunuh diri bersama

Ikut merasakan apa yang mereka rasakan..

Tidakkah kita malu?

Mengapa kita masih santai bersiul  mendengar irama piano?

Menghitung-hitung materi berbuat sia-sia dan amburadul?

Berpesta ria berfoya-foya dikedai tanpa etika?

Sementara jiwa mereka di sobek dicincang dokumen perjanjian..

Beratus merek antena televisi

Satu pun tak merasa pekak gendang  telinganya?

Alat perekam meledak dalam bahana ruang hampa…

Kezoliman berteriak dimana-mana

Titik kabar nya tak terjumpa di layar kaca

Kutunggu-tunggu perkembangannya..

Sekonyong-konyong aku berderak-derak

Aku tak mengerti, Tuhan…

Lengkaplah bagian biadab budaya barat komunis..

Yang garang , bringasan dan tamak pada uang

Tak menjunjung  atas nama perbedaan …

Semuanya jadi kabut,

Aneh?

Angin mati sehari,

Bukit gersang dikelilingi kubur,

Tiap dua puluh lima menit..

Bombardir merajalela pengap dengan keringat berduri..

Tarbiah Allah memulungkan ibrah,

Bersabarlah…

Letusan hanguskan paru-paru pada rongga dada

Dingin terasa menggigil sakaratulmaut merasuk sukma

Jihad fi sabillillah

Tiap makrodetiknya semesta  Aleppo bungkam tak bisa berkutik barang sepatah kata..

Cambukan haliintar riang mengiringi sekon demi sekonnya

Pertaruhan iman akan derita yang tak putus-putusnya

Memang tujuannya warga sipil..

Tapi, bertukar layar berlain corak..

Remuk redam bom melayang tak pandang bulu

Merambat , menjalar jaringnya pada masyarakat awam..

Simpang siur menyapu nyawa yang  telah terbang..

Tiap jam  Rusia sang pembantai kelas kakap yang gila..

Meneteskan peluh merah, mengepulkan debu yang berdarah ..

Siapakah yang tak menjerit??

Sepatu-sepatu serdadu menginjaki kening yang  tak berdaya..

Peluru menyapa anak kecil yang sembunyi di kolong meja..

Menembak punggung muslim yang menuai solat seraya berdoa..

Siapa yang tak iba?

Katakan padaku…

Hanya orang yang mati hatinya, jauh dari rahmat-Nya

Tertutup nuraninya dengan hawa dan nafsu..

Menilik eskalasi krisisnya,

Suriah memanggil kita begitu nyaring,

Bertandanglah , tuliskan senyuman di bibir mungil mereka..

Hapuskan elegi-elegi kesedihannya, luncurkan sedekah, ringan tangan..

Dan tenggelamlah dalam doa-doa yang bersahaja hingga memancar ke surga-Nya

Ghiroh Palestina takkan sirnah,

Bebaskan bumi anbiya’

Lahaula wala quwwata illa billah..

Panyabungan, 07 Mei 2016

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..