Politik itu punya cita rasa orientalnya yang sangat eksotik, bahkan mistis.

Dikedalaman hatiku, rakyat pelosok.

Sebuah nyanyian kata-kata bungkam

Sebuah nyanyian yang hidup di urat biru nadiku tidak akan mengalir ke atas kertas pemerintahan.

Mereka membuat perasaanku terkekang jeruji, membalutnya dengan jubah halus kata demokrasi

Apakah aku harus begitu cemas melihat carut marut  politik negeriku ini? Siapa aku? Seorang bocah yang merengek minta dikasihani? Seorang bocah yang tak punya kekuasaan dan uang tunai, korban para tukang korupsi?

Aku dilanda oleh kegegeran yang menyingkap bahwa kampanye hanya menyisakan pencitraan yang tinggal cerita yang ditutup-tutupi kemudian  dilupakan setelah ikrar janji di tandatangani. Wahai manusia, inilah nyanyian sebelum rembulan menyusut

Orang yang diam menjadi kambing hitam. Orang munafik bebas meja hijau dan hukuman. Buah manis permainan politik yang kejam dan mematikan

Istirahatlah negeriku dari kepura-puraan

Tidurlah pertiwiku dari segala macam kebengisan

Haruskah cucurkan airmata untuk memperjuangkan keadilan di negeri bergelombang yang tak ku kenal lagi jati dirinya?

Susah, kawan!                                                  

Nanti, kau sakit hati. Semua itu hanya permainan kata

Jangan meratapi diriku, putra-putri ibuku

Yang tumbuh di era manusia berjalan seperti dibungkus kain kafan

Jasadnya ada, nurani nya mati di telan ombak mengendap di dasar lautan

Menyanyilah lagu kebahagiaan sebagai lambang cinta

 Karena hanya cinta-lah yang kita punya sebagai taruhan

Biarlah, mereka bermain aman dengan kekayaan triliunan

Mengikis habis hingga rakyat melarat dan tertindas di jalanan

Saat ini, aku membuat diriku tak berpihak

Berfokus pada mencari ilmu untuk masa depan

Tidak berbicara problematika yang ruwet

Karena aku hanya gelandangan tak berpengalaman

Kawan, rumit meredam ego untuk  mengaku salah dan meminta maaf

Karena amal tanpa ilmu, ilmu tanpa amal adalah dusta

Setiap orang memiliki kegilaan dan menghalalkan segala cara untuk berjumpa dengan keinginan

Aku hanya ingin membersihkan diriku sendiri daripadanya

Dari debu ke-aku-an

Sebelum membersihkan milik oranglain

Hari-hari menjumpaiku, tapi aku takut kepada siang dan malam

Aku tinggal di bumi, tapi aku tegak bagai orang yang membatu, mendengarkan pun tak mengerti

Buang-buang energi

Cukup makan lima  kali sehari

O, itu sudah nikmat sekali

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..