Pilot Maskapai

Puisi Karya Nanda Sri Wahyuni

Tanah merah dan debu kelabu

Setan-setan pada berpesta dengan lakon-lakon hilir mudik tak menentu

Kering menganga mengelepar layu

Kaku akan nafsu

Gemercik menerjang batu-batu tak bergeming

Kami buta,

Hanya berjalan menerka

Sembari meraba kisar mata, angin yang kadang sembunyi dibalik reranting beringin.

Kami papa,

Hanya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara dunia di luar sana

Kami lumpuh akan biro abstraksi pendidikan

Masih terbata-bata, berusaha mengeja deretan kata perkata

Kami menangis tersedu-sedu sedan

Di ejek oleh sergapan cemoohan

Karena tak tahu apa-apa

Kami terjaga barang sesaat

Beranjak menyelami labirin dunia

Menanti jawaban dari puzzle dari teka teki rindu akan ilmu

Beruntung saja pabila ada sepetak lahan

Yang sudi jadi tempat persinggahan.

Disanalah tempat kami,

Memayungi diri dari murka terik gelombang hujan

Beruntung saja pabila hasrat rindu berlabuh

Ke tepi karang batu

Menjadi cerminan rasa lugu

Yang ingin bersilaju dari langit redup

Melipat suara kami dedalam sunyi

Dibawah tumpukan jerami kami mengintip

Seberkas celah cahaya

Terlihat dari lilitan belukar

Sepucuk isyarat bermuara dalam kegirangan

Keharibaan  bumi, ia berjalan

Membentangkan rel menuju lembah metamorfosa  sempurna

Keharibaan pertiwi , ia tergopoh-gopoh

Membagi ribuan garis-garis ilmu

Hilangkan rencong kebodohan

Keharibaan persada negeri ini,

Ia jelajahi , seikhas hati

Hingga tampak mutiara

Yang merekah dari karang cinta timbunannya

Jelajahi bara mimpi dibawah matahari

Mengusung kunang-kunang

Menyulam sarang abadi

Satu-satunya nahkoda yang berlayar  di atas bumi Allah

Yang kami sebut ia guru

Telah mencetak barisan gol panjang

Coretan asa dan cita

Yang terkubur berabad silam

Satu-satunya pilot maskapai kami

Melempari galaksi

Supaya bintang runtuh bertebaran

Menyejukkan gerah tiada tara

Untaian dan belaian tertera nyata

Tak bosan mengirim sajak

Terimakasih,Terimakasih

Untuk para pahlawan pilihan

Guru dimalam gelap gulita yang meronta

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..