Belantara Rindu

Hatiku adalah gubuk belantara kesepian di pedalaman hutan tak berpenghuni didampingi ribuan laba-laba menggantung seliweran.

Ada kecoa hitam kecoklatan kejar mengejar dan tikus menjijikkan menguntit dari balik tirai temaram malam.

Aku sendiri. Mengejarmu. Dunia. Menepis segala mantra yang terngiang-ngiang dalam ingatan.

Rindu itu adalah rasa sakit yang diselipkan estetika.
Rindu itu adalah kekesalan yang dibungkus pita.
Rindu itu, melodi tanpa nada.
Rindu  adalah kalimat halus dari ketidakberdayaan tak bisa berjumpa.
Rindu adalah sepi yang menekan kesabaran mengikhlaskan cinta.
Rindu juga terkadang sumber kelemahan dan kekuatan. Juga tidak memandang waktu dan keadaan.

Lalu, aku melihat mataku didepan cermin, memantulkan wajahku yang meratapi air mata menitik bukan sekedar rintik, tak terbendung dan tak tertahankan.

Akulah korban sepatah kata yang di ucapkan oleh bintang kemudian ditarik kembali. Dia berjanji menyinari dan menghiasi sunyi yang terperangkap dalam sekotak jiwa yang meronta minta dikasihani tapi entah kapan dia menepati.

Sore itu, alam bermuram durja. Kekasihku mencintai diriku tapi dia tak mau memeluk tangisanku. Dialah kebenaran dan akulah kesalahan. Tak mengapa dia tak tahu bahwa aku terisak. Tak mengapa dia tak tahu bahwa hatiku kacau berselemak.

Semesta berbicara bahwa hujan di takdirkan untuk selalu jatuh dan menerima.  Melawan ketetapan adalah mengingkari nurani saja. Disembunyikannya kesedihannya pada badai angin, mencipta puing sesaat menghancurkan tapi berharga dengan sedikit modifikasi ingin.

Wahai purnama bundar menawan, berpendar di langit bersama awan. Jenguklah aku dari ventilasi kamar reotku yang tidur merana menggalau bak kaleng kosong, sepi, hanya berteman hati yang  rindu sendu. Tak ada yang bisa di ajak berbincang.

+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..