Kematian makin akrab bertamu ditelinga kita. Satu-satunya kesamaan diantara kita semua adalah dilahirkan dan akan meninggal. Meninggal bukanlah hal yang aneh melainkan hal yang sangat biasa. Pasalnya, dunia selalu membuat terlena. Dan anehnya, kita menikmati keadaan nyaman yang tiada duanya itu. Dengan terus menerus melakukan hal yang salah berulang-ulang. Harap-harap cemas, masih punya banyak waktu untuk bertaubat. Membangun dinding batas untuk menghindari pertemuan dengan alarm kematian adalah hobby baru kita. Sibuk dengan target-target dunia, memelihara keangkuhan, memperbudak keegoisan dalam dada adalah hal yang mutlak dipertahankan. Bagaimana pun penjelasannya, tetap saja, apa yang kita pahami yang paling benar. Kita sukar mempercayai sesuatu sampai kita sendiri yang merasakannya atau orang-orang terdekat yang sering bercengkrama dengan kita mengalaminya. Menolak membuka diri melawan ketiadaan yang tak kasat mata. Berkelahi dengan tangan kosong berbekal ambisi untuk menutupi kelemahan yang sebenarnya sangat manusiawi. Kita telah banyak kehilangan: waktu dan harta, kenangan dan teman setia.

Bercerita tentang waktu, banyak menit yang kita lewatkan tanpa tersadar sudah berubah cuaca, dari siang menjadi malam. Kita terkejut padahal kita sangat suka kejutan apalagi kejutan ulang tahun yang menjadi momen ke-eksis-an. Namun, kejutan kali ini lumayan menakutkan. Kenapa masih lumayan? Karena tak sepenuhnya menakutkan bagi sebagian. Pandemi COVID-19 membuat  kita menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak perlu dipikirkan, mempertanyakan sesuatu yang tak ada jawaban atau berandai-andai akan masa depan tanpa kepastian yang entah kapan semua berakhir.

Pandemi COVID-19 membuat  kita menghabiskan waktu untuk memikirkan hal-hal yang tak perlu dipikirkan, mempertanyakan sesuatu yang tak ada jawaban atau berandai-andai akan masa depan tanpa kepastian yang entah kapan semua berakhir.

NANDA SRI WAHYUNI

COVID-19 membangunkan kita dari tidur panjang. Tidak ada jalan yang bisa kita harapkan, kita sendiri yang membuat jalan setapak walau ditumbuhi semak belukar. Belajar menjalani pandemi, megap-megap secara ekonomi, anak-anak didik belajar mandiri, guru gagap teknologi, buruh di phk sepihak karena tak sanggup untuk menggaji, para bapak frustasi memikirkan uang membeli susu bayinya yang baru lahir beberapa hari dari ibu tak tammat SMA yang tak paham MPASI. Takut imunisasi dan akhirnya anak tumbuh stunting dan malnutrisi. Pernikahan dini, kehamilan dini dan cerai dini adalah trend kita saat ini. Lansia dengan penurunan kognitif demensia semakin resah, gelisah, tertekan dan rentan karena penurunan kualitas hidup, imun lemah dan tingkat kematian tinggi. Prasangka, stigma dan diksriminasi terhadap penyandang disabilitas sampai pekerja seks komersil sudah menjadi makanan sehari-hari. Terhalang akses pelayanan kesehatan dengan biaya tinggi sampai resiko HIV sudah tak di indahkan lagi.

Kemudian mulai hibernasi. Menghadapi dengan cara tidak tepat. Lepas tangan.  Melepamparkan tanggung jawab kepada pemerintah daerah masing-masing kota yang tak paham aturan dan guadline penyakit menular. Muncul pula hipotesis bahwa corona hanya sekedar kontroversi tiada arti, mengisi kantong dokter, rumah sakit dan pemerintah. Dan memanjakan pasien-pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dengan imbalan uang puluhan juta asal surat ditandatangani. Hingga kematian adalah ujung dari ketidakberdayaan. Kematian adalah tantangan terakhir yang bersedia kita hadapi. Kesiapan yang prematur membuat Indonesia diam dikepung bisu.

Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang”, begitulah salah satu filosofi jawa menyebutkan. Hakekat hidup itu hanya persoalan bagaimana seseorang melihat sebuah kehidupan. Kita telah terlanjur kehilangan kepercayaan kepada para wakil rakyat, kepada dokter dan kepada COVID-19. Dengan berbagai alasan-alasan personal atau terpengaruh cerita orang lain atau kebencian yang mendalam karena terdampak kekejaman rezim ini. Masing-masing orang berhak atas apa yang dirasakannya, pendapatnya dan keluh kesahnya.

Sejatine urip kuwi mung sawang sinawang”, begitulah salah satu filosofi jawa menyebutkan. Hakekat hidup itu hanya persoalan bagaimana seseorang melihat sebuah kehidupan. Kita telah terlanjur kehilangan kepercayaan kepada para wakil rakyat, kepada dokter dan kepada COVID-19. Dengan berbagai alasan-alasan personal atau terpengaruh cerita orang lain atau kebencian yang mendalam karena terdampak kekejaman rezim ini. Masing-masing orang berhak atas apa yang dirasakannya, pendapatnya dan keluh kesahnya.

NANDA SRI WAHYUNI

“Kok bisa dokter yang seharusnya paling mengerti kesehatan dan sehat yang paling banyak meninggal?,”

“Datanya ga ada yang jelas, tiba-tiba udah ratusan bahkan ribuan yang positif,”

“Kalau berbahaya, kok masih bisa sembuh?”

“Untuk apa pake masker, kita kan hirup udara kotor sendiri? Jadi susah bernapas,”

“Nakes ambil banyak untung selama pandemi,”

“Kenapa menjelang pilkada makin banyak yang positif?”

“Kenapa ketika anak dan mahasiswa akan sekolah mendadak dibatalkan,”?

“Kan banyak yang sembuh, berarti obatnya ada kan? Kok katanya obatnya ga ada? Harus nunggu vaksin yang belum tentu kapan ada?,”

“Kalau pasien positif paling beresiko pada pasien dengan penyakit penyerta, kenapa sibuk dengan pasien tanpa gejala?,”

“Kalau bisa sembuh sendiri kenapa sampai mengeluarkan dana sampai triliunan? Dimana sebenarnya kegawatdaruratan kasus COVID-19 ini?,”

“Kalau banyak kesalahan data jumlah pasien meninggal kenapa tidak pernah diumumkan?,”

“Kalau semua tergantung imun, pemerintah fokus juga dong sama program yang berhubungan dengan penguatan imun masyarakat!,”

“Masa sih dari banyaknya pasien yang meninggal antisipasinya cuman dengan jaga jarak, pake masker dan handsanitizer?,”

“Dari awal pak menteri kesehatan Terawan dengan percaya diri mengatakan Indonesia siap dengan COVID-19, kenapa sudah hampir 8 bulan ini, masih juga belum menemukan titik terang?,”

“Pemerintah harus jujur dong rincian uang triliunan itu untuk apa?,”

“Apakah COVID-19 ini adalah konspirasi bisnis dan perpolitikan belaka?,”

“Alah, ga ada nya Corona itu, makan enaknya kerja mereka di sana, dikasih uang banyak-banyak!”

Itu hanyalah segelintir pertanyaan dan pernyataan dengan bumbu keresahan, ketidaktahuan, ketakukatan, ketidakpedulian, kekhawatiran, keacuhan, kenaifan yang tumbuh di dalam lingkungan kita. Tidak ada yang bisa disalahkan dari kalimat-kalimat yang bermunculan di atas. Itu adalah tanda bahwa memang masyarakat masih belum memiliki pemahaman dan edukasi yang merata. Ini pertama kalinya kita terpapar kondisi pandemi yang benar-benar sangat meresahkan hingga memberi dampak dari segala multifaktor kehidupan.

Garda terdepan dalam peperangan ini adalah masyarakat. Dokter, perawat dan segenap tenaga kesehatan adalah gugus belakang jika masalah tak terselesaikan. Dokter yang mendapat insentif gaji hanya bagi mereka yang bekerja di rumah sakit rujukan yang jumlahnya pun tak seberapa dengan resiko mempertaruhkan nyawa, membungkam rindu keluarga, rela meninggalkan kepentingan pribadi demi kemanusiaan dan mereka yang paling rentan terinfeksi karena terpapar virus setiap hari. Bantuan BPJS sebesar 15 juta kepada pasien COVID-19 tidak seberapa jika kita hitung pengeluaran yang dihabiskan. Misalnya, isolasi selama dua minggu, berapa biaya satu kamar per malam? Tarif rawat inap untuk kelas II, biaya termurahnya adalah Rp 250.000. Bayangkan, jika harus melakukan rawat inap selama 4 hari saja, tagihannya sudah mencapai Rp 1.000.000, jika 14 hari sudah Rp 3.500.000.

Sementara rawat inap ICU membutuhkan sekitar Rp 1.800.000 per malam. Mungkin berbeda jauh dengan tarif ruang isolasi di rumah sakit. Tarif untuk ruang IGD dan tarif penggunaan ambulance. Biaya yang digunakan untuk pembelian APD (Alat Pelindung Diri) yang digunakan sekali pakai, mencapai harga Rp 500.000 per APD. Bayangkan, dalam sehari jika diperlukan 2 APD saja sudah Rp 1.000.000 dikalikan selama 14 hari,sudah Rp 14.000.000. Dalam pemakaian APD juga sangat menderita, bernapas susah, harus menahan tidak makan, minum, dan buang air selama 8 jam. Dan setelah dilepaspun harus mandi memakai sabun khusus yang sangat licin. Hingga banyak menimbulkan iritasi, kemerahan dan gatal pada kulit. Kemudian biaya untuk obat-obatan yang digunakan, berapa infus yang dihabiskan, berapa kali makan sehari. Belum lagi jika kasus sudah komplikasi dan harus memakai ventilator sebagai alat bantu pernapasannya. Biaya pemakaian ventilator 1 hari di ruang ICU adalah Rp 10.000.000. Bayangkan jika diperlukan selama 20 hari saja, sudah Rp 200.000.000 dana yang dihabiskan. Banyak petugas kesehatan seperti perawat, pekerja lab, administrasi, satpam, petugas kebersihan, listrik dan air  yang harus dibayar gajinya.Belum lagi biaya untuk pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan lab, CT Scan, X-ray, swab nasofaring RT PCR dan rapid test. Sebenarnya, malah Rumah Sakit tak mendapatkan keuntungan apa-apa. Mungkin ini juga yang menjadi penyebab banyak RS yang tiba-tiba menutup akses karena ketidaksiapan dan ketidaksediaan alat yang dibutuhkan.

Tidak sembarangan membuat pasien diagnosis COVID-19 positif. Satu pasien positif akan berdampak pada jumlah kasus per-provinsi dan setiap provinsi akan berdampak untuk data di Indonesia. Tidak sebanding dengan hujatan yang didapat oleh Indonesia. Sungguh, lebih banyak kerugian dari pada apa yang di anggap masyarakat sebagai keuntungan. Semua hal yang diputuskan sudah melalui kajian untung rugi. Lalu apa yang membuat keterlambatan data? Jadi, setiap pasien yang sakit akan dibuat laporan dari masing-masing rumah sakit, dan BPJS akan menilai apakah penggunaan dana yang dikeluarkan sudah tepat pada setiap pasien dan itu membutuhkan waktu yang cukup lama karena pemeriksaan keabsahan data dilakukan manusia bukan malaikat.

Tanpa sadar kita lah yang mendatangkan berbagai penyakit itu. Pada mulanya, alam ini sangat lugu, seimbang, permai, damai, bersih, indah, sejuk dan begitu nyaman. Manusia menangkap hewan liar untuk dijual dan memakannya. Pemerintah Tiongkok bahkan memperbolehkan 54 spesies hewan untuk dibiakkan dan dijual guna dikonsumsi termasuk ular, burung, musang, hamster dan makanan laut hidup-hidup. Tidak dimasak, daging setengah matang hingga tidak sampai membunuh bakteri yang ada dalam makanan tersebut.  Hingga terinfeksi selama prosesnya.”Banyak hewan liar, seperti ular dan burung, yang direbus maupun dijual ke peternakan resmi,” kata Sekretaris China Biodiversity Conservation and Green Development Foundation Zhou Jinfeng.

Hingga sekarang, belum diketahui berapa banyak pasar hewan liar di seantero Tiongkok, kendati para ahli memperkirakan jumlahnya mencapai ratusan. Beberapa swalayan dan toko besar juga menjual daging hewan liar untuk dikonsumsi. Sementara untuk para pembeli di pasar tradisional, kodok adalah hewan berharga cukup mahal yang umum didapati. Charles, seorang mahasiswa dari area Guangzhou, tempat konsumsi hewan liar tercatat tinggi, mengatakan bahwa kebiasaan tersebut sudah dinilai biasa saja. Parahnya, fenoma sekarang orang tua lebih banyak membeli hewan liar ketimbang anak muda. Dan untuk perayaan-perayaan besar juga menganut tradisi memakan hewan-hewan liar. China juga masih tetap mengadakan festival Yulin makan anjing yang dikuliti kerap dilakukan setiap menjelang musim panas. Jika tidak suka anjing, diganti dengan daging babi dan sapi. Umumnya, saat Festival Yulin, ribuan anjing dibunuh dengan kejam, yang disebut para aktivis sebagai aksi yang brutal. Anjing-anjing tersebut dipukuli atau direbus hingga mati dengan kepercayaan bahwa semakin ketakutan anjing tersebut, dagingnya terasa lebih enak.
Sekitar 10 juta hingga 20 juta anjing dikonsumsi dalam setahun di China, menurut data Humane Society International (HSI).

Sementara Li Yongwei, warga Yulin mengatakan konsumsi daging anjing sudah merupakan tradisi di kotanya dan tidak ada bedanya dengan daging lainnya.
“Apa bedanya memakan daging anjing, dengan ayam, sapi atau babi? Ini adalah bagian dari kebudayaan lokal. Tidak seharusnya Anda memaksa orang melakukan apa yang mereka tidak mau. Merupakan hak asasi seseorang menentukan apa yang mereka ingin makan” kata Li.
Hal serupa disebutkan oleh Chen Bing. Dia mengatakan pemerintah tidak bisa begitu saja membatalkan pelaksanaan festival yang sudah berlangsung puluhan tahun.

Jika kita tidak melakukannya, manusia tidak akan terinfeksi. Keserakahan manusialah yang menjadi penyebab munculnya penyakit-penyakit baru, entah itu yang disebabkan virus, bakteri, protozoa, cacing, nyamuk dan hewan-hewan yang biasa kita konsumsi sehari-hari. Saat ini kita terlalu fokus bagaimana menanggulangi pandemi setelah sudah terjadi. Tak ada yang membahas pelarangan mengonsumsi hewan-hewan liar, penebangan hutan liar, pengolahan dan penjualan lahan hutan secara ilegal hingga merusak habitat ekosistem hewan menyebabkan harimau berkeliaran di jalan, gajah datang ke perumahan warga hingga bencana alam dimana-mana, banjir, longsor yang merugikan banyak segmen kehidupan. Pandemi ini bukan hal baru bagi masyarakat dunia, sebenarnya sudah banyak penyakit menular yang terjadi seperti TBC, AIDS, campak, SARS-CoV di China 2003, flu babi 2009, virus ebola di Afrika Barat 2014, MERS-CoV di Arab Saudi 2015 dan COVID 2019 adalah wabah CoV ketiga dalam sejarah manusia dan yang paling menantang.

Kelompok pneumonia yang memiliki asal yang tidak diketahui pertama kali dilaporkan dari Wuhan pada tanggal 31 Desember 2019 ke Komisi Kesehatan Nasional China. Corona berasal dari kelelawar yang berada di pasar seafood Wuhan, dimana dipercayai virus ini berpindah pada manusia. Tentu ada inang perantara, apakah itu ular,trenggiling, burung dan mamalia.Virus penyebab COVID ini adalah SARS CoV-2 menular melalui ular. Virus bernama SARS CoV-2 yang menyebabkan COVID berpindah dari kelelawar kepada inang perantara yaitu trenggiling atau ular sampai terinfeksi ke manusia.Trenggiling-mamalia pemakan semut sering digunakan dalam pengobatan tradisional Tiongkok adalah inang perantara potensial dari SARS-CoV-2 berdasarkan pada 99% homologi genetik. Manusia memakan sup ular dan kelelawar yang terinfeksi hingga menyebabkan dirinya sakit. Kemudian sesama manusia  menularkannya melalui kontak lansung seperti berjabat tangan, droplet/percikan saat batuk/berbicara dan tempat-tempat yang terpapar droplet orang yang terinfeksi.

Kebiasaan manusia yang sudah sangat bebas terkadang tidak bisa terkontrol lagi. Semisal menari-nari di diskotik bercampur baur dengan berbagai kalangan dalam dan luar negeri yang diduga menjadi awal kasus COVID-19 di Indonesia. Karena banyak hal yang selalu dikait-kaitkan dengan hak asasi manusia. “Hidup-hidup gue, suka-suka gue, ga usah ikut campur deh.” Setiap kita memang memiliki hak otonomi kebebasan terhadap diri kita, tapi jangan sampai ke-aku-an kita merugikan oranglain dan kita tak pernah merasa bersalah.

Siapa yang menyangka, hanya karena berawal dari kelalaian dan ketidakpedulian satu orang, seluruh dunia menelan dampaknya. Sekiranya, kita saling mengintrospeksi diri masing-masing. Kontribusi apa yang sudah kita berikan untuk masalah ini. Bukan hanya menjadi kaum julid yang merasa paling benar, selalu menuntut keadilan dan penyebar hoax yang menambah keresahan. Tapi diri sendiri belum bisa adil sejak dalam pikiran apalagi tindakan. Kita hanyalah manusia, wajar jika tak sempurna.

Salam,

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..