Seorang manusia mungkin tidak pernah menyadari bahwa dia seperti gunung berapi. Gunung berapi terbentuk karena pertemuan dua lempeng bumi. Begitu juga manusia, hubungan terbentuk karena pertemuan dua jenis manusia yang berbeda sifat, beda karakter, beda kekuatan, beda kesukaan, beda pantangan, beda pandangan dan berbeda keinginan. Jikapun ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan disaat itu saja, disaat kalian pertama kali berjumpa. Seiring berjalannya waktu, manusia kembali berubah. Dinamis. Tak stagnan pada satu dimensi. Persamaan itu hanya sebentar.

Bagian lempeng yang tenggelam memasuki lapisan astemosfir akan mencair karena suhu bawah lempeng bumi yang sangat tinggi. Bagian yang cair tesebut akan menambah magma dalam perut bumi. Karena magma yang terbentuk memiliki berat jenis yang lebih kecil daripada berat jenis batuan disekitarnya, maka magma akan terdesak hingga naik ke permukaan bumi.  Hubungan manusia yang satu dengan manusia yang lainnya tak akan pernah akur jika yang satu merasa lebih dikucilkan dari yang lain, yang satu lebih superior dari yang lain.

Tapi, bukankah memang begitu dasar hukum didunia ini? Siapa yang bisa beradaptasi dengan cepat dia yang akan maju di garis terdepan dan yang jalan ditempat atau terus menerus berhenti akan tertinggal, tenggelam dan dilupakan.

Nanda Sri Wahyuni

Tapi, bukankah memang begitu dasar hukum didunia ini? Siapa yang bisa beradaptasi dengan cepat dia yang akan maju di garis terdepan dan yang jalan ditempat atau terus menerus berhenti akan tertinggal, tenggelam dan dilupakan.

Yang merasa tidak punya apa-apa, yang merasa dia selalu kurang dari orang lain, yang merasa dengki kepada pencapaian orang lain, maka rasa cemburu akan terus menerus tumbuh dalam hatinya dan dia sendiri tidak mengetahui kapan dan bila cemburu bisa berproliferasi lebih cepat daripada yang diperkirakan. Dada menjadi sesak, perasaan geram dan tidak nyaman akan kebahagiaan oranglain hingga kemarahan adalah ujung tak berkesudahan.

Magma yang mencapai permukaan bumi disebut lava. Dengki yang mencapai batas ambang kesabaran disebut kebencian. Apapun yang mereka lakukan, tidak peduli itu baik atau buruk, kau akan selalu membencinya. Semuanya menjadi kabur dan kau menutup diri untuk menerima kebenaran.  Kemudian, lava dan abu yang meledak dari waktu ke waktu akan menumpuk membentuk gunung berapi. Inilah, yang memunculkan istilah bahwa gunung berapi dapat meledak sewaktu-waktu. Begitu juga manusia, dendam yang di pendam-pendam dalam-dalam akan mencuat kepermukaan hanya menunggu saat yang tepat untuk meluncurkan nuklir bom balas dendam dan kemarahan yang tak terbendung dengan apapun didunia ini.

Muncullah kebiasaan mengandalkan segala cara untuk menghancurkan kehidupan oranglain betapapun sulitnya cara itu, seberapa mahal bayarannya, tidak peduli berapa lama waktu yang dikorbankan. Asalkan tujuannya tercapai dia tidak menghiraukan apapun. Mulai dari membayar bandit kelas kakap, menyewa orang ketiga untuk berpura-pura sebagai bentuk merusak hubungan suami-istri, mengunjungi paranormal, dukun, santet, guna-guna, mengirim jelmaan jin dan iblis hingga membuat manusia target menjadi sakit-sakitan hingga Isroil menjemput nyawa di depan pintu gerbang kematian.

Kematian adalah puncak erupsi si pencemburu.

nanda sri wahyuni

Kematia adalah puncak erupsi si pencemburu. Ketika erupsi semua material gunung api berupa gas, debu, aliran lava dan fragmen batuan keluar menyembur ke permukaan. Saat kematian mengetuk manusia target, disanalah mereka merasa sangat bahagia tak ada tandingan, rasa cemburu meluap, sesak didadanya menguap, kebahagiaannya mencuat, karena merasa sudah tak ada saingan, merasa sudah menang.

Hari ini, itulah fenomena yang sangat viral dalam kehidupan kita sehari-hari. Dan sudah menjadi rahasia umum barangkali. Dukun sudah menjadi pekerjaan wajib karena setiap orang hampir mempunyai penyakit gaib tapi ditutup-tutupi dalam raib.

Ketahuilah, dibalik kecemburuanmu kepada seorang ayah yang PNS misalnya, ada istri dan sepuluh anaknya yang tidak mendapat sosok ayah, kasih sayang dan nafkah untuk sekolah karena kematian dini tanpa alasan yang bisa dibuktikan secara medis. Ada seorang bayi belum genap setahun umurnya yang tidak mendapat ASI dari ibunya, ada seorang yang tak kunjung bertemu dengan jodohnya dan ada banyak orang yang berkeinginan bunuh diri karena kehilangan orang yang dia sayangi. Tapi, si pencemburu tidak akan pernah peduli dengan semua nilai-nilai humanisme itu. Manusia tapi tak punya hati dan kedamaian. Tidak akan tenang melihat oranglain bahagia. Hidupnya gaduh tak pernah aman. Sakit hati dipelihara, dirimu susah sendiri dibuatnya.

Sebenarnya, itu adalah bentuk kekerasan lembut yang mematikan, pembunuhan yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang, yang tak pernah di tanggap polisi, tak pernah masuk pencajara atau dapat hukuman gantung mati. Kematian yang lebih sakit dari sekali tembakan. Karena sebelum kematian, kau akan dibuat menderita seperti cacing kepanasan atau leher domba yang dipotong dengan pisau tumpul yang tak pernah di asah hanya dengan sekali tusukan paku pada boneka-boneka santet yang ditulis dengan namamu.

Terkadang manusia memerlukan itu: kecemburuan. Tapi digubah dalam bentuk tantangan untuk menjadi bumbu semangat dalam rangka kebaikan. Cemburu melihat seorang ahli ibadah yang selalu menghidupkan mesjid, sholat, puasa dan sedekah yang tak henti ia dermakan. Cemburu melihat oranglain selalu membantu oranglain yang kesusahan. Sementara kita hanyak sibuk menimbun harta untuk bekal masa depan dan terlena untuk hal yang sia-sia. Lupa fakta sebenarnya bahwa masa depan kita adalah kematian.

Maka, pada akhirnya, hidup memang pilihan masing-masing dengan segala aneka kebahagiaan yang sulit didefinisikan. Bagiku, kebahagian ada dalam ketenangan jiwa dan merasa cukup. Zuhud. Kita perlu melepaskan. Melepaskan hati dari tipu daya dunia yang hanya sementara.

Maka, pada akhirnya, hidup memang pilihan masing-masing dengan segala aneka kebahagiaan yang sulit didefinisikan. Bagiku, kebahagian ada dalam ketenangan jiwa dan merasa cukup. Zuhud. Kita perlu melepaskan. Melepaskan hati dari tipu daya dunia yang hanya sementara.

NANDA SRI WAHYUNI

Panyabungan, 17 November 2020.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..