Mozaik 1

Berteman dengan Langit

Jika ditanya alasan kenapa akhirnya aku memantapkan hati memilih jurusan kedokteran untuk kelanjutan studiku, jawabanku paling utama karena sakit hati. Sakit hati adalah cara balas dendam paling ampuh. Tapi ya, ini aku arahkan ke sesuatu yang baik. Tersesat di jalan yang lurus, istilahnya. Hidup memang begitu acak, pada setiap percobaan ada peluang yang tak pernah disangka menjadi keberuntungan seperti durian runtuh, rejeki nomplok tiba-tiba didepan kita. Walaupun itu hanya 0,1% dari 100% tapi akan selalu ada peluang.

Oiya, dr. Ibnu, salah satu dokter yang sangat loyal dan punya sudut pandang yang unik, suka banget sama beliau, dalam suatu acara mini seminar kuliah kami, beliaumengatakan bahwa manusia bisa hidup lima hari tanpa makan, dua hari tanpa minum, dua menit tanpa udara. Tapi manusia tidak bisa hidup tanpa harapan. Dan kuncinya cuma satu, siapapun kita, apapun profesi kita, jangan jauh-jauh dari Tuhan karena disana tempat segala harapan di muarakan, dimunajatkan dan dikirimkan dari segala makhluk di penjuru bumi tanpa henti. Hanya Allah yang bisa bantu kita, sejahat apapun kita, Allah yang selalu menerima kita apa adanya. Dan aku juga selalu setuju dengan hipotesa Harun Yahya  bahwa tidak ada yang kebetulan dalam hidup, semua mutlak penciptaan yang tak terbantahkan.

Malam itu, tidak hujan juga tidak berangin, seperti malam-malam biasa yang kuhabiskan diatas ranjang malasku yang sepi. Tapi otakku ramai dengan segala macam ketakutan, kekhwatiran, kegelisahan, kebingungan dan menginginkan jalan keluar. Baru saja selesai Ujian Nasional SMA. Semua barang-barang selama di Asrama sudah di pindahkan ke rumah. Dan hanya sekitar beberapa Minggu jarak untuk keberangkatan ke Medan mengikuti les SBMPTN dan STAN.

Entah sebab karena apa, tiba-tiba nyeri tak terperikan menyelinap masuk di dalam telinga kananku tanpa rambu.

“Ginggggg….. Gingggg… Ginggg…”

Suara berdegung yang ngilu seperti ada yang memukul gong pada gendang telingaku. Aku pura-pura tegar dan menganggap mungkin itu hanya sebentar. Nanti juga kembali seperti semula lagi, pikirku. Tapi, kali ini pradugaku salah.

“Ginggg… Kreekkk..”

“Hiks..ngiss..,” aku meringis.

Rasa nyerinya semakin berulah, menjadi-jadi. Menoleh kesamping pun tak bisa, karena satu putaran kecil dileherku,  semua otot-otot dan saraf  berkontraksi memicu nyeri yang mengerikan.

Aku tak memanggil ibu. Tapi kuraih hp-ku. Hp yang baru saja ku beli karena semasa SMA ga punya hp, cuman punya modem dengan kartu paket Telkomsel supaya bisa browsing internet di asrama. Maklum saja, SMA-ku di kelilingi hutan, kebun dan sungai Aek Mata Batang Gadis yang dalam. Rasanya memang sudah perlu membeli hp karena akan ke Medan dan jauh dari orangtua di kampung. Walaupun harganya tak seberapa, tapi itu hasil tabunganku selama tiga tahun. Sangat bernilai bagiku. Uang jajan satu Minggu di asrama hanya lima puluh ribu yang diberikan Ayah. Itulah uang yang ku tabung sedikit demi sedikit.

Aku mencari kontak Saga, teman dekat yang ku harapkan menjadi kekasihku.

“Agaaaa….,” aku mengetik di dinding WhatsApp-ku.

“…” belum dibalas.

Aku menunggu. Setelah lima belas menit kemudian baru ada status online dibawah namanya.

“Ia?” balasnya mungkin bingung.

“Telingaku sakit sekali,”

“Kenapa?”

“Ga tau,”

“Rasanya pengen nangis, sakit banget,” aku menambahkan emot menangis di akhir kalimatku.

“Kenapa Nad? jelasin pelan-pelan,” jawabnya untuk menenangkanku.

Ya, namaku Nadin Risti Pulungan dan dia, Saga Linopra Lubis. Kami satu angkatan di SMA, tapi beda kelas. Dia manis, senyumnya indah, romantis tapi cukup kaku. Dia orang pertama dalam hidupku yang bersedia merayakan ulangtahun-ku dengan memberi kue bentuk kotak yang berukuran cukup besar berwarna pink dan coklat dan ada buah ceri diatasnya, lengkap dengan lilin angka 17 dan pisau khusus memotong kue ulangtahun. Tak hanya itu, dia juga memberikan buku gambar berisikan doodle namaku, selembar surat berisi puisi dan satu bingkai kaca. Gambarnya ga ada. Dan akhirnya, aku yang memasang sendiri. Nanti kuceritakan bagaimana kejadiannya, ya. Bertepatan di usia yang kata orang adalah sweet seventen.

Mungkin karena aku terlalu sering nonton sinetron SCTV yang tayang setiap jam sepuluh pagi sampai dua belas siang ya, hehehe. Jadi ketularan bucinnya. Itu sebabnya, aku sangat menginginkan bertemu dengan seseorang (cowok) spesial di umur tujuh belas tahun. Usia dimana masa pubertas memuncak, cinta coklat merah jambu atau apalah istilahnya itu bergelora. Sebuah keinginan klise yang mungkin saja ada dibenak remaja yang sudah terbiasa dengan dongeng cinta tanpa arti tapi akhirnya menjadi nyata dan terwujud.

Panggil saja aku Nadin, jangan lupa huruf “n” nya, kalau ga pake “n” nanti jadi Nadi pulak ya kan, ga lucu. Si cewek pendiam dan super duper kutu buku, anti sosial, ambisius dan penuh mimpi. Setiap hari kerjanya hanya belajar, belajar dan belajar terus. Tapi begitulah faktanya. Aku tidak tertarik untuk pacar-pacaran. Dan lebih prioritasin mimpiku untuk bisa ke Medan. Ya, ibukota Sumatera Utara. 12 jam dari kotaku, Panyabungan. Tentu saja alasan kuat dibalik itu adalah bisa ikut meet & greet boyband favoritku, Coboy Junior, beli baju yang ada gambar mereka, juga beli majalah tentang mereka. Beli topi yang sering di pake Iqbaal, salah satu personelnya. Masih ada yang ga kenal Iqbaal? Yang jadi Dilan dan Minke itu. Filmnya booming banget di bioskop.

“Dasar, anak baru gede.”

Tapi percayalah, mereka bisa mendorongku ke arah yang positif untuk meraih mimpi.

Kadang memang lebih baik menyukai seseorang yang tidak mengenal kita karena bisa mencintainya dengan leluasa tanpa ada yang melarangnya.

Selama mengidolakan mereka, harapannya ga muluk-muluk, di retweet di Twitter aja terus di say Halo, udah loncat-loncat kesenangan di atas tempat tidur. Pengen bisa foto bareng juga sama mereka, tapi sampai sekarang, Alhamdulillah belum terwujud. Oiya, aku suka Coboy Junior sejak SMP sampai SMA kelas dua. Kenapa berhenti?Ya, karena Aga. Ketika aku mengenal Aga, dia minta kami buat surat perjanjian yang ditandatangani olehku untuk tidak menonton video coboy junior lagi dan semua tentang mereka itu semua karena aku kalah tantangan untuk lulus diatas batas nilai minimal ujian kimia. Memang nasib banget, padahal aku udah belajar ngerjain banyak soal, tapi ya mau gimana, aku ga suka matematika, kimia dan fisika. Intinya, aku agak payah dalam menghitung tapi percayalah SMP aku selalu dapat nilai 100. Malu banget.

Sudah tahu kan,  gimana fanatiknya para remaja kalau udah nge-fans sama artis. Wahh, jangan diragukan lagi pengetahuannya. Mau nonton acara mereka di tv aja, aku numpang nonton ke tetangga sambil megang parabola karena sinyalnya ga ada. Dan bisa dipastikan, Coboy Junior ga pernah tahu perjuanganku selama jadi comate. Pernah juga, aku mesan id card SoniQ–nama fansnya Iqbaal dan video 3rdAnnivSoniQ, sampai hari ini belum pernah ku terima sejak tahun 2015. Maklum saja, aku orang kampung, mesannya ke admin di Jakarta, menurutku Jakarta itu jauh banget dan entah kapan aku bisa menginjakkan kaki disana, juga uang 200 ribu sudah sangat besar untuk ukuran anak kelas satu SMA, tapi semua itu ku korbankan demi beli kartu dan kaset itu. Tapi yasudahlah, sekarang aku udah ikhlas kok.

Mencintai seseorang yang tidak mengenal kita, meminimalisir kekecewaan atas pengharapan yang teramat perih ketika dia tidak menerima kita. Prinsip  itu yang terus kupertahankan. Aku hanya menempel foto Iqbaal di dinding asrama ku, ku edit tulisan “I want you study real hard.” Dan itu memang jurus yang manjur membuatku semangat dengan liat senyumnya aja, hormon dopaminku meningkat pesat dan siap kembali belajar tanpa lelah hingga itu juga salah satu yang mengantarkan ku menjadi juara umum satu angkatan. Kalau Iqbaal, Coboy Junior dan om Pattrick Effendy selaku produser dan pencipta lagu, baca tulisan ini, aku mau berterimakasih sama kalian semua karena sudah menemani masa SMP dan SMA ku dengan lagu-lagu yang selalu bikin semangat dan inspiratif banget.

Pada akhirnya, aku perlahan meninggalkan Coboy Junior setelah Aga masuk kedalam hidupku. Aga mengisi ruang-ruang hayalanku yang tak nyata itu dengan realita yang benar-benar bisa ku rasakan langsung. Aga adalah air dalam gersangnya hatiku yang haus akan perhatian-perhatian kecil.

Waduh, keasyikan bernostalgia nih. Kembali ke cerita tentang telingaku yang sakit.

“Kayaknya telingaku kambuh deh, kan dulu aku juga pernah sakit telinga waktu SD,” jelasku kepada Aga.

“Lebih baik diperiksakan segera Nad, jangan tahan-tahan, ceritakanlah sama keluarga,” sarannya.

“Yasudah, aku coba bicara sama Umak dulu, doakan aku ya!” Aku setuju dengan saran Aga.

Malam sudah semakin larut, aku menyerah, ku panggil ibu yang biasanya ku sebut dengan umak dalam bahasa Mandailing.

“Umak, ga tahan lagi,”

“Jadi harus gimana?,” Umakku pun panik.

“Ga tahuu..,” aku sudah tidak bisa memikirkan apa-apa.

“Praktik dokter sp. THT itu masih buka enggak ya?”

“Enggak tahu,”

“Yasudah, kita coba saja dulu kesana,”

“Iya,”

Aku buru-buru ganti baju dan memakai jilbab. Kami ga punya honda dan ayahku juga lagi pergi ke lopo, lopo itu sebutan untuk warung kopi khusus kaum ayah. Walaupun istilah Lopo ini sudah berkembang menjadi lebih luas, laki-laki maupun perempuan boleh nongkrong. Tapi yang ku maksud adalah warung kopi yang terbuat dari bangunan kayu dilengkapi dengan bangku dan kursi panjang.

Jadilah kami berangkat dengan berjalan kaki. Aku berjalan sambil menangis dan memegang telinga ku yang sakit. Cukup jauh, sekitar dua puluh menit berjalan kaki, tak ada becak yang melintas di jalan. Angkot malam hari sudah tidak ada lagi, juga angkot tidak lewat dari gang rumahku, gang rumahku sempit hanya jalan setapak yang masih dikelilingi sawah. Hanya ada kami berdua, aku dan umak.

Namun, tiba-tiba sebelum sampai di rumah praktik dokter, aku bertemu dengan tobangku, sebutan untuk kakak dari umak. Dan setelah menjelaskan kejadiannya, tobangku pun ikut untuk menemani kami. Kebetulan tobangku kenal dengan dokter tersebut. Kahanggi karena punya marga yang sama yaitu Pulungan.

Sampailah kami di rumah praktek dokter tersebut, tapi ternyata sudah tutup, karena sudah pukul sebelas malam. Kami bingung antara pulang atau mengetuk pintu dokter tersebut.

“Gimana, Mak?,”

Umakku & Tobang hanya diam sembari berpikir. Mau bertanya ke tetangga, juga tidak ada siapa-siapa lagi. Sepi. Mereka berjalan menuju pintu samping, mengetuk sambil memanggil-manggil dokter tersebut. Aku mengikuti.

“Tok, tok, tok, Assalamualaikum dokter.”

Aku dengar suara mereka resah, ingin menangis, kalut. Aku juga tak henti menangis.

Lima menit berlalu, tak jua ada yang membuka pintu.

“Udahlah Mak, ga usah lagi, kita pulang saja.” Aku pasrah.

Tapi umakku, tetap saja mencoba mengetuk pintu itu.

“Tok, tok, tok, dokter, dokter, dokter.”

Aku hanya diam memperhatikan mereka.

Tujuh menit kemudian, cukup lama bagiku yang tengah resah.

Ada yang membuka pintu, ya, dokter paruh baya dengan baju tidur putih  itu membuka pintu sambil mengucek-ucek matanya. Mungkin, mengaktifkan kesadarannya yang masih belum utuh.

“Ia, kenapa?” tanya dokter itu.

“Ini, anakku, sakit telinga,”

Dokter itu malam menutup pintunya. Kami bingung.

“Kenapa Mak? Mungkin dokter itu gak menerima pasien lagi Mak.”

Kami terdiam sejenak.

Dan beberapa saat kemudian, baru terdengar seperti membuka pagar depan. Membuka garasi tempat praktek dokter. Dan kami pun bergegas masuk kesana.

Beruntung, kami tidak menyerah dan masih terus berharap akan ada pertolongan. Setelah diperiksa dan dibersihkan dengan semprotan air hangat, telingaku dicongkel dengan suatu alat, aku juga tidak tahu apa namanya. Dan setelah selesai, aku tidak merasakan sakit lagi, hanya sedikit ngilu dengan telingaku.

“Ini kayaknya karena sering korek kuping ya, sampai ke dalam-dalam lagi, ya kan?,”

“Ia dok,” aku menjawab malu.

“Sebenarnya itu ga baik, biarin aja, kotorannya akan keluar sendirinya, bersihkan luarnya saja,”

“Ia dokter,” aku hanya tersenyum.

Setelah itu, Umak membayar perobatannya, cukup mahal, tapi katanya sudah dibuat murah karena kenal dengan Tobangku dan kami pun pulang.

Sambil berjalan menyusuri kesunyian, ibuku berterimakasih kepada Tobang yang sudah mau menemani kami. Dan sambil bercerita.

“Apa ya kira-kira jurusan yang diambil si Nadin untuk kuliah nanti?”

“Dia mau nya apa?”

“Gurunya di sekolah menyarakankan ambil Fakultas Kedokteran di Medan saja karena nilainya cukup bagus dan berpeluang. Walaupun, sebenarnya, belum pernah ada yang masuk dari jalur undangan, SNMPTN sejak empat tahun lalu,”

“Wah bagus itu, itu aja di ambilnya.” Tobangku sangat antusias menjawabnya.

“Orang-orang untuk masuk kedokteran harus jual sawah, mobil dan rumah, ratusan juta, dua ratus sampai tiga ratus uang masuknya. Kalau dia lulus undangan kan senang banget,”

Aku baru tahu, untuk masuk fakultas kedokteran harus mengeluarkan uang ratusan juta. Karena dari dulu aku memang tidak tertarik dengan kedokteran, jadi aku tidak tahu menau.

Ku tatap langit malam dengan hamparan bintang kecil kelap kelip. Apakah mungkin aku bisa berteman dengan langit? Sangat tinggi tapi ada harapan.

***

Baca selanjutnya Mozaik 2 : Polemik Memilih Jurusan : https://nandsy.com/sastra/novel/polemik-memilih-jurusan-novel-by-nanda-sri-wahyuni/

Notes:

Ini pertama kalinya, aku memulai mau menulis novel, sebelumnya aku sudah pernah menulis novelet sewaktu SMA dan itu masih jauh dari kata sempurna. Ini masih pemula banget, masih belajar menulis novel.

Jadi, aku sangat berharap kritik, saran, nasehat dan dukungannya. Terimakasih atas perhatiannya ya.

Salam,

+2

7 Comments

  1. Suka dengan alur cerita nya, keren. Trust me! You will have bright future soon, such a fantastic novel. Keep humble! Aku yakin sdh bnyak yg big fan of u.

    +1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..