Mozaik 3

Semester 6 di Fakultas Kedokteran

Bertolakbelakang dengan dugaanku, jika lima semester lalu kubiarkan berlalu dengan begitu saja, indeks prestasi semester dibawah tiga, praktikum banyak yang remedial dan nilai ujian akhir nyaris menyerupai rantai carbon yang tak jelas ikatannya. Apakah ia membentuk ikatan kovalen? Atau malah tak ada ikatan sama sekali? Hampa. Tanpa gairah. Semester enam masa perkuliahanku ini, matahari pertama yang bersinar tepat pada 16 Februari 2020 menyambut pagi dengan ragu-ragu, redup-redup tapi segan bersembunyi. Semoga keragu-raguan itu akan berlalu seiring berjalannya waktu. Walau tak menentu, kita tidak pernah tahu akan ada badai atau topan atau salju atau malah hanya hujan rintik-rintik yang mengganggu.

“Semester enam akan ku goncangkan dunia, kubuat mereka menganga, terperanjat melihat nilai A berderet dengan manisnya dalam balok-balok kertas hasil studiku, Semangat!” begitulah aku menyemangati diriku sendiri.

Namun, kata-kata memang luarbiasa dahsyatnya, walaupun kalimat itu hanya ku ucapkan dalam hati dan ku yakinkan dalam pikiran, secepat kilat menjadi nyata. Tenyata oh ternyata, bukan hanya watak manusia saja yang penuh dengan kejutan, paradoks dan abstrak. Virus juga punya taksonomi yang rumit. Kedatangannya tiba-tiba, tak terduga, misterius, ambigu dan mengejutkan banyak orang.  Siklus hidupnya yang tak mudah dipahami dan protein yang menyusun tubuhnya super duper mungil dan kompleks. Bisa melemahkan tubuh manusia kemudian menjumpai sekarat lantas meninggalkan dunia dengan kematian adalah tumbal terakhirnya.

Orang-orang di Fakultas Kedokteran sangat sibuk dengan urusannya sendiri. Hampir jarang terpapar dengan dunia luar karena harus menghabiskan waktu mulai fajar menyongsong hari  hingga berganti senja sebelum malam dengan rutinitas yang mungkin itu-itu saja tapi dengan ambisi yang berbeda-beda. Kami tak punya kesempatan untuk memandang semburat sinar dari langit pagi sambil menikmati kopi dan membaca koran di depan halaman rumah ditemani musik saksofon atau melodi lawas yang mendayu-dayu untuk menciptakan ketenangan dihati sebelum memulai hari. Jua tak hirau dengan awan gemawan yang bergerak perlahan menyingkap kesedihan dan menawarkan biru yang menawan di langit-langit bersahaja. Kecantikan senja kemerah-merahan yang Sukab sembunyikan dalam sepotong surat kepada Alina, dengan angin, debur ombak, matahari terbenam dan cahaya keemasan. Hm, sudah bertahun lamanya aku tak mencium aroma laut, bermain kejar-kejaran diatas pasir-pasir dan melayang di udara karena ayah memberikanku dorongan yang kuat saat ku mencoba ayunan rotan diikat di ranting pohon beringin yang sudah sangat tua. Aku sedikit cemburu kepada Alina karena dia punya Sukab yang begitu romantis tapi alangkah malangnya Sukab diabaikan berkali-kali lipat. Jika kamu belum mengenal Sukab dan Alina, mereka ada dalam rumah yang berjudul sepotong senja untuk pacarku oleh Seno Gumira Adjidarma.

Sore itu, sehabis selesai praktikum menjelang ashar, aku singgah di kantin FK Selatan, sekalian bertemu dengan teman-teman sebelum pulang kampus ke kos masing-masing. Karena lapar, aku mengambil dua tempe goreng lengkap dengan saus tomatnya.

“Belum pulang nih, guys?”

“Belum, masih lapar, mesan indomie kuah yuk? Pengenn..” Imah merayuku.

“Enggak ah, males udah kenyang..”

“Iya, kita makan aja dulu, kalau soto gimana?” timpal Aila mencoba menawarkan opsi lain.

“Hmm.. cemmanalah ya, lagi diet, hahah”

“Diet, diet tapi makannya banyak” jawab Nika.

Kami memang sering sekali mengatakan ingin diet, gendut banget, cubby nih pipiku dan sejenis kalimat lain yang mendukung pada makna takut obesitas. Karena ya cewek gitu, takut banget gak laku. Pasalnya, kasus seperti itu memang kejadian diantara kita. Asyila baru saja diputusin pacarnya yang udah lima tahun bareng sejak SMA dan sekarang lagi kuliah di Bandung, IPDN. Maklum tempat belajar kelas atas.

“Sumpah? Demi apa? Zidan mutusin kamu?,” jelas banget kami semua terkejut mendengar berita itu. Kami tahu persis kisah percintaan Asyila.  Cowok tinggi yang kalau foto berdua sama dia, serasi banget.

“Kenapa?.”

“Boong kan?”

“Aku ga boong kok, benar!,” mukanya tampak tak murung tapi mengarah ke ekpresi kesal.

“Zidan mutusin aku karena dia udah punya cewek baru di Papua.”

Oiya, enam bulan belakangan Zidan dapat tugas ke Papua dan menetap disana setahun ini.

“Terus? Karena itu aja?”

“Dia bilang aku gendut, dia gak suka. Kesel banget sih nengok cowok kek gitu!.”

“Tiap pagi, dia selalu sms aku dan bilang harus olahraga biar ga gendut, aku capek juga tiap hari nurutin mau dia.”

“Yang sabar, Syila”  balas Ocha sambil memegang pundak Syila.

“Iya Syil..”

“Songong banget tuh cowok, sukak-sukak oranglah mau gendut atau kurus, itu kan hak kita, sok ngatur banget jadi orang, udah ga usah sedih gara-gara cowok kek gitu,” aku juga ikut kesal.

Begitulah, terkadang kita tak bisa memaksakan oranglain untuk terus bersama kita. Sekalipun kita yang sudah selalu disampingnya ketika dia belum lulus fakultas impiannya contohnya. Ketika sudah mendapatkan jabatan yang bagus seolah dia tinggi rasa mencampakkan kita. Begitulah cara kerja dunia yang mementingkan uang dan fisik sebagai porosnya.

Lupakan tentang Asyila. Kini, kita beralih ke topik hangat obrolan seluruh dunia dan juga menjadi isu yang kami perbincangkan sore itu.

“Gimana kita we? Corona udah menyebar diluar negeri.”

“Tapi kita kan belum ada ya?”

“Memang, tapi takut juga.”

“Bentar-bentar, corona apa guys?” aku memotong percakapan itu sebelum mulai memanas, aku belum tahu soal informasi ini sama sekali.

“Ituloh Nadinnn. virus baru dari Wuhan, China. Cepat banget penularannya. Kabarnya, China mau lockdown.”

“Ia, bisa-bisa pembuatan proposal skripsi kita bakal terkendala nih,”

“Tapi Menteri Kesehatan bilang virusnya ga mungkin masuk ke Indonesia.”

 Udah ah, kita makan sotonya dulu mumpung masih panas campur sama cabe hijau pedas biar makin mantap.

+2

2 Comments

  1. Terkesam Santai, dan akhirnya tau juga ternyata mahasiswa kedokteran itu masalahnya sama kayak aku heheh, kirain mereka cuman mikirin belajar aja. Lanjut kak

    0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..