Seperti sepasang kekasih yang kasmaran atau patah hati yang digawat-gawatkan. Menyembunyikan gugup adalah persoalan utamanya. Padahal mereka mengacu pada dua hal yang bertolak belakang. Tapi bisa jadi responnya sama dengan nuansa yang berbeda. Yang pertama gugup karena rasa cintanya yang malu-malu dan kedua karena cintanya dipermalukan. Tanpa persiapan dan kepercayaan diri adalah fragmen sederhana yang menggangu diri, terlebih hati. Persoalan klasik menjadi pelik karena hal-hal yang dilakukan pertama kalinya, tak ada gambaran dan tak ada jaminan.

Untuk menghidupkan situasi genting, kita hanya butuh teman. Karena terkadang kita tak sanggup di responsi oleh sesuatu seorang diri. Memiliki teman membuat kita menjadi saling bergantung satu sama lain. Kita merasa lebih baik karena akan ada teman yang membantu jika kita tak bisa menjawab hal-hal yang ditanyakan. Aku tidak tahu itu benar-benar baik atau tidak? Secara tidak langsung, kita sedang tidak percaya diri. Itu sebabnya kita cemburu atau mengandalkan oranglain.

Tapi, terlepas dari itu semua. Ternyata azas tolong menolong masih erat diantara kita. Kita tidak akan dijamin menang jika meniup lilin oranglain. Dengan tujuan ingin melumpuhkan senjata lawan. Masing-masing orang punya potensi yang dimilikinya sendiri, porsinya sendiri. Maka, mekarlah menjadi bunga yang kau sukai. Mekarlah dengan kesungguhan dan kegigihanmu sendiri tanpa harus mencabut akar atau memotong batang oranglain.

29/03/2021 23.00

+3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..