Duhai diri, seringkali engkau sibuk memburu kehilangan.

Mendayungkan perahu menuju suatu kerajaan yang membinasakan.

Dunia yang melenakan dan penuh kefanaan.

Sungsang menampung malang, berteman gelombang, asal hati senang.

Sesuatu terasa teramat berarti ketika sudah pergi.

Waktu yang telah berlalu takkan terulang lagi.

Kesempatan yang di sia kan tak akan datang lagi. 

Seribu tanda seru memendam berjuta tanda tanya.

Apakah pilihan ku ini sudah tepat? Apakah aku salah memilih? Apakah dan apakah? Kenapa dan bagaimana? Mengapa?

Banyak tanya yang hanya bisa dijawab oleh waktu.

Kau tahu, ketika aku sudah memutuskan sesuatu, aku akan bersungguh-sungguh untuk itu.

Tapi begitu sulit untuk memutuskan sesuatu dalam hidup ini.

Tapi begitu mudah untuk menyesali dan menyalahkan siapapun atas keputusan itu.

Masuknya susah. Keluarnya pun susah.

Jalan berliku-liku penuh rambu-rambu harus ini, harus itu, ikuti aturan ini, tapi aturan itu katanya begitu.

Pusing aku.

Namun sungguh aku merasa malu, ketika ada yang bertanya kepada ku dan aku tak tahu.

Dan terkadang aku menangis karena malu akan ketidaktahuan ku.

Akan ketidakingintahuanku.

Akan kemalasan ku.

Akan betapa tak ada gunanya aku jika aku tak tahu apa-apa.

Bukannya aku tak mau dan tak mau tahu tapi terkadang ketika mau, tidak tahu mulainya darimana.

Rasanya sudah sangat tertinggal jauh dari yang diharapkan.

Tapi, rasanya aku masih punya waktu untuk memperbaiki, tunggang langgang berpacu  meskipun dengan terbata-bata.

Di perjalanan, banyak tikungan ke tikungan, tanjakan ke tanjakan atau kemelut yang ingin menjatuhkan dan mencerai beraikan.

Tak usah kau hiraukan, ya.

Kamu harus kuat.

Biar saja, kamu sendirian.

Biar saja, rindu pergi.

Biar saja.

Matahari tenggelam selalu memberi waktu untukmu ketika kamu penat.

Bersabarlah.

Sebentar lagi, kamu akan menuai apa yang kamu tanam. 

Duhai diri, kamu hebat.

Tetap semangat

+4

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..