“Bagaimana cara memulai?” 

Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah dasar. Sebagaimana anak usia enam tahun lainnya  hari pertama sekolah adalah hari yang mendebarkan dan masih diselimuti banyak ketakutan-ketakutan. Mulai dari takut berangkat ke sekolah sendirian  dan harus diantar orangtua dan beberapa murid justru harus ditemani sampai pembelajaran selesai, takut berbicara kepada teman-teman yang baru dikenal, takut jajan ke  luar pagar sekolah karena banyaknya kendaraan dan jenis takut lainnya.Namaku Nanda Sri Wahyuni Pulungan. Suku Mandailing asli. Di lingkungan keluarga dan sekitar rumah, mereka sering memanggilku Uni. Seperti panggilan kakak untuk suku Minang. Di ambil dari nama belakangku. Namun, di hari pertamaku itu ketika guru wali kelas mengabsen nama anggota kelas satu persatu, nama panggilanku berubah menjadi Nanda. Itu tak mengapa, mungkin karena nama depanku adalah Nanda. Terserah saja mau memanggilku apa, asalkan masih cakupan dalam tiga penggalan di atas, tidak masalah.Di hari pertamaku, aku kaget dan masih banyak bingungnya. Mungkin karena masih awal, jadi banyak kecanggungan di dalamnya. Setelah pengumuman pembagian kelas akhirnya aku tahu, aku masuk ke kelas 1C. Wajar saja aku di lemparkan ke kelas itu  karena aku tidak mengikuti pendidikan di Taman Kanak-Kanak. Jadi kelas C adalah kelas untuk seluruh anak yang tidak TK. Ya, aku tidak TK karena keterbatasan biaya. Aku sedikit kecewa tapi itu semua tak mengapa.

Terkadang aku cemburu, ketika hari tujuh belasan untuk memperingati kemerdekaan biasanya anak-anak TK akan ikut pawai berpasang-pasangan dan momen itu sangat baik untuk di kenang,bukan? Mungkin, momen-momen seperti itu sangat sulit di lupakan karena masih anak-anak jadi lucu dan menggemaskan melihat mereka memakai pakaian adat di dandan cantik pakai make-up dan mahkota princess.Jadi, ketika teman-teman sebayaku sekolah di TK, aku sekolah di rumah. Ibu ku yang mengajariku mengenal huruf dan angka. Aku memanggil ibu dengan sebutan  Umak  dan memanggil ayah dengan sebutan Ayak. Waktu itu, ibuku adalah seorang pegawai honorer bidang komputer di salah satu SMK Swasta di dekat rumahku. Namun, setelah kelas tiga  SD, ibu keluar dari pekerjaannya, karena ayah tidak memperbolehkannya lagi bekerja. Kata ayah, Ibu fokus untuk mengurus anak saja. Dan ayahku adalah seorang guru SMP menggambil bidang pelajaran seni budaya. Aku anak pertama dari lima bersaudara. Ketika aku masih SD kelas 1, aku masih mempunyai satu orang adik, namanya Suci Meliza. Hanya berbeda satu tahun. Dia dipanggil Uci. Uni Uci. Jadi kami sering di sebut kembar. Karena kemana-mana selalu bersama dan bajunya juga sama cuman beda warna saja. Pernah suatu ketika, aku dan Uci selalu menangis karena ingin bertemu Ibu, ayah tidak tahu bagaimana cara menenangkan kami. Akhirnya kami memutuskan untuk pergi diam-diam  ke SMK tempat ibu bekerja dan kami menaiki pagar sekolah dan teriak-teriak padahal orang-orang lagi belajar.

Aku masih sangat mengingat kenangan itu, sebagai seorang kakak sejak kecil perasaan untuk selalu melindungi adik itu sudah muncul tanpaku sadari.Mungkin, itu juga salah satu alasan ayah menyuruh ibu berhenti kerja, hehehe.  Karena kami selalu tidak bisa lama-lama di tinggal ibu.Aku tak tahu sampai detik ini, ketika aku menuliskan kata demi kata ini, aku masih merasakan  begitu semanngatnya aku untuk belajar kala itu. Aku sendiri tidak tahu dari mana semua energi itu berasal. Apakah memang sudah timpaan orangtuaku sejak aku dalam kandungan atau mungkin memang karena keadaan yang membuatku seperti itu. Kami tinggal di rumah kontrakan yang tidak besar hanya ada satu kamar, satu kamar mandi kecil dan satu ruang tengah sempit untuk menonton televisi. Walaupun umurku masih belia, aku sudah paham dengan kondisi keluarga kami.

Mungkin, itu sebabnya aku punya daya juang dan keinginan belajar yang cukup tinggi.Ketika di sekolah, aku suka cemburu juga melihat anak-anak kelas A dan B. Mungkin, mereka anak-anak orang kaya dari raut wajah dan warna kulitnya saja sudah kelihatan. Tapi semua itu membuatku semakin semangat. Sejak saat aku mengetahui suatu fakta , jika mendapat   juara satu di kelas 1, nanti di kelas 2 akan masuk ke kelas 2A. Setelah melewati satu semester aku berhasil mendapat juara 3 di semester 1, suatu awal yang baik bagiku, kemudian aku tak lantas berpuas diri. Di semester 2, sekolah mengadakan lomba membaca koran, aku pun berniat untuk mengikutinya. Aku berlatih sungguh-sungguh membaca koran yang ukuran tulisannya kecil-kecil jika dilihat dari sudut pandang anak umur enam tahun.

Tibalah, hari perlombaan, aku mengikutinya antara cemas dan harap tapi orangtuaku selalu menyemangatiku. Akhirnya, hasil lomba di umumkan ketika penerimaan rapor semester 2, aku mendapat juara satu. Aku tidak pernah menyangka. Dalam satu hari, aku mendapatkan dua hadiah, hadiah sebagai juara satu kelas dan hadiah juara satu membaca koran. Aku senang sekali akhirnya di kelas 2, aku masuk kelas A dan bisa bergabung dengan mereka. Niatku yang tulus untuk membahagiakan orangtua tercapai. Aku berhasil membuktikan dengan belajar sendiri di rumah tidak TK pun aku bisa bersaing dengan teman-teman lainnya.Aku mulai semua itu dari hal-hal yang kecil yaitu niat yang tulus dan ikhlas lalu meningkatkannya sedikit demi sedikit. Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantongnya dengan kerikil pasir, memberatkannya tapi tidak bermanfaat. Satu-satunya pondasi untuk mengubah segalanya adalah dengan lebih dulu membereskan diri sendiri. Jika sesuatu sudah melekat, kemudian lepas. Dengan demikian ikhlas dalam makna global seperti tidak adanya tuntutan hati untuk meminta balasan, pujian, sanjungan, kecuali balasan dari Allah. Karena prestasiku, ayah membelikanku hadiah yaitu sepeda dengan roda bantu berwarna merah. Aku memang sangat menginginkan sepeda itu, tapi aku tidak pernah memkasa ayah untuk membelikannya untukku. Tapi aku bersyukur. Karena tidak ada balasan untuk kebaikan kecuali kebaikan pula.

“Jadi, bagaimana cara memulai?”

Cara memulai adalah dengan memulainya tanpa banyak berpikir, tanpa banyak alasan, lakukan saja dulu yang terbaik yang kita bisa.

Setidaknya, semua telah ku mulai. Jangan berhenti, Nan.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..