Tiba-tiba hidup menjadi serba realistis. Kadang aku menyangkal kenyataan tapi air mataku menetes sendiri. Sedang apa aku ini? Berusaha menyembunyikan identitas diriku yang dulu hobby nya berimajinasi dengan kata-kata puitis dan keinginan-keinginan yang tak sanggup ku hidup sendiri. Hingga ia menjelma, cemas, takut, bimbang dan hanya kadang-kadang merasa lega karena sudah mencobanya. Kemudian ku bertanya lagi? Sampai kapan kita terus mencoba? Mencoba sesuatu yang tak disuka. Menjadi seseorang yang lain agar disukai? Jika hidup memang hanya sekedar suka dan tidak suka, lalu bagaimana? Bagaimana akhir hidup ini jika kita sukanya mati dengan nama tapi kejadian pahit menemui kita babak belur dengan sandiwara semacam orang bodoh yang ingin membodoh-bodohi orang bodoh lain. Betul, hidup ini kadang ada bangsat-bangsatnya. Karena mataku terbatas, aku mungkin tak bisa menyangksikan semuanya. Tapi hal yang dulu bisa saja tergantung dengan hal lain yang lebih dibutuhkan keberadaan nya. Orang-orang tak suka takut. Kamu?

Aku? Ada juga yang ku takut kan, kadang lebih suka berpura” semua dalam kendali. Beralasan mencari jalan lain, namun sebenarnya aku hanya takut tersandung lagi. Aku takut menyesal karena jatuh di lubang yang sama berkali-kali. Itu membuatku cukup malu dan ingin selalu menutupi kelemahanku. Sampai aku sadar kalau aku hanya melarikan diri. Mencari-cari entah kesana kemari tempat melarikan diri paling aman. Sekarang aku sudah memilih. Dari pada terus menerus dihantui ketakutan, aku lebih suka bersyukur. Bersyukur menenangkan. Aku punya kunci rahasia dalam kehidupanku, yang selalu coba kuulang saat semua tak sesuai ke inginan bahwa “Masalah paling besar dalam hidup bukan lah tentang uang, bukan tentang profesi, bukan tentang teman, bukan tentang pasangan, bukan tentang tanggung jawab atas harapan, tapi tentang perasaan”, kalau kay mampu bersahabat dengan perasaan/emosional, kau akan mampu berdiri lagi dan melihat jalan yang lebih baik. Maka, mari bersahabat dengan baik.

Pesan dari ku untuk kita🏎️

+4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..