Halo teman-teman, sudah mulai menulis belum? Menulis itu mengasyikkan kan? Banyak banget maanfaat yang bisa kita dapatkan dari kegiatan menulis diantaranya menulis bisa menjernihkan pikiran, mengatasi trauma seperti Boy Candra dan Bung Fiersa Besari yang menuliskan cerita patah hati dan menulis setelah putus dari mantan yang akhirnya menjadi pundi-pundi rupiah kan? Seru banget ga tuh, kalau kita jadikan pengalaman menjadi sesuatu yang menginspirasi oranglain dengan menulis. Tapi kan, saya ga bisa menulis. Upss, benar-benar ga bisa atau ga mau nih fren?

Yups, kalau kita lihat dari istilah alasan, alasan adalah sesuatu yang sering dikatakan oleh orang yang tidak mau atau tidak mampu mengerjakan suatu pekerjaan. Kalau mau mencari alasan, memang selalu ada alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Seperti lagu Siti Badriyah itu fren, “Seribu alasan setiap kali ku ajak jalan, aja ada alasan kau tolak aku dengan senyuman..”. Hehehe, siapa yang baca sambil nyanyi nih?

Misalnya, orang yang terlambat beralasan karena macet dijalan, bangun kesiangan, kendaraan mogok, ke bengkel dulu tadi, kehabisan angkutan umum, dan sebagainya. Coba deh, sebutin dikomentar alasan kamu masih ga mau menulis?

Demikian juga banyak alasan orang tidak bisa atau tidak mau menulis. Jawaban (baca:alasan) mereka antara lain: ah, saya tidak berbakat, saya sibuk tak punya waktu, saya capek bekerja, saya hanya ibu rumahtangga dan banyak pekerjaan rumah, ah saya berpendidikan rendah, saya hanya drop out dari sekolah atau kuliah, dan lainnya. Padahal semua (alasan) itu bisa disiasati kalau mau dan punya niat/tekad yang kuat untuk berusaha.

Ah, saya tak berbakat. Alasan ini bisa jadi klise. Mungkin karena malas dan tak ada kemauan keras. Padahal dia belum mencoba, belum belajar, dan belum mempraktikkannya langsung. Belum apa-apa sudah menyerah, kalah sebelum berperang. Bakat atau tidak kalau belum dicoba tidak akan terlihat. Kalau sudah dicoba misalnya sepuluh kali, kok tak bisa mungkin agak beralasan, namun belum dicoba sudah mengatakan tidak berbakat. Inilah kesalahannya.

Karena dalam buku karya David Eipsen, Range: ‘Why Generalists Triumph in a Specialized World’  yaitu dengan meletakkan sikap generalis dan spesialis pada porsi yang tepat, kita dapat berkembang lebih optimal dibandingkan harus mengkotakan diri dalam satu label saja. Kalau begitu, memang lebih baik bukan?

Selagi masih muda yuk asah skill kita dalam berbagai hal.

Nanda Sri Wahyuni

Ah, saya sibuk tak punya waktu. Alasan ini juga klise. Kalau tidak pandai mengatur waktu biasanya waktu terasa padat dan tak jelas mau apa. Biasanya orang yang banyak kegiatan akan pandai mengatur waktu,sebaliknya orang yang banyak menganggur biasa tak pandai mengatur waktu. Sehari 24 jam, jumlah waktu itu bisa diatur sedemikian rupa agar rencana kegiatan kita bisa terlaksana dengan baik.

Ah, saya ibu rumah tangga banyak pekerjaan dan anak-anak masih kecil. Saya mahasiswa, tugas banyak, praktikum, skripsi dan organisasi, ga sempat nulis. Alasan ini kalau mau dijadikan halangan akan menjadi hambatan. Tapi kalau kita mau mensiasati kita tetap bisa melakukannya. Banyak juga contoh-contoh blogger dan penulis yang merupakan ibu rumah tangga. Ibu rumah tangga yang nyambi nulis.

Apapun profesinya, kita bisa menjadi penulis kalau kita mau. Seorang guru, mahasiswa, dosen, dokter, karyawan, pegawai, buruh, pengacara, pengusaha, petani, tukang becak , pengangguran, dan sebagainya.  Menulis bisa dipelajari dan dipraktikkan sesuai bakat dan minat kita di bidang apa. Banyak bidang yang bisa kita garap dalam dunia menulis. Fiksi atau nonfiksi. Fiksi seperti cerita, novel, puisi. Nonfiksi seperti artikel, esai, naskah pidato, biografi dan sejenisnya.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”
― Pramoedya Ananta Toer

Nah, bagaimana denganmu?

Silahkan mencoba fren.

Salam,

0

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..