Waktu menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit. Hari ini masih sama dengan hari – hari lain kami masih stay at home tepatnya di rumah masing – masing dengan aktivitas yang dilakukan di dalam rumah. Sudah hampir enam bulan tepatnya kami diharuskan di rumah walaupun saat ini peraturan new normal telah diberlakukan. Suara azan subuh berkumandang pagi ini pertanda waktu sholat subuh telah masuk waktu. Aku segera beranjak dari tempat tidurku dan berjalan menuju kamar mandi yang bersebelahan dengan kamar tidur kami. Sebelumnya aku ingin bercerita selama hampir enam bulan terakhir ini, setelah aku dan kakak perempuanku pulang dari kota dimana kami kuliah hampir delapan puluh persen kami selalu berada di kamar dan melakukan segala sesuatu di dalam kamar. Hal yang sangat membosankan bukan?

Mentari tampak tidak bersahabat denganku pagi ini, ia tak mengeluarkan sinar indahnya. Setelah selesai sholat subuh tadi aku bersama dengan ibuku melakukan pekerjaan rumah, seperti memasak, mencuci piring dan mencuci pakaian. Ibuku selalu berkata jika pekerjaan seberat apapun jika dilakukan bersama-sama maka akan selesai juga dan bahkan dalam waktu yang lebih cepat pula. Tak terasa posisi matahari sudah meninggi bersama dengan cahayanya yang juga lebih terang. Pagi ini seperti biasanya aku menyapu teras rumah dan hampir setiap hari ketika aku melihat kearah langit biru yang terang akibat pantulan dari air pantai yang mungkin berada dipelosok kota ini. Ya, rumah kami berada dipusat kota sedangkan untuk liburan kepantai saja membutuhkan waktu yang lumayan lama untuk tiba disana.

Mimpi sekedar melihat jernihnya air pantai dan tenangnya langit biru seakan menghantui pikiranku setiap saat dikala pandemi ini terjadi. Bebas, sejauh mata memandang melihat pasir-pasir pantai tatkala kepiting berjalan di depan mataku. Tenangnya air laut dengan ombak-ombak yang saling berkejaran seakan aku ingin berlari bersama mereka juga. Angin sepoi-sepoi juga membuat suasana semakin sejuk bersama dinginnya air es kelapa yang masuk ke kerongkongan  membuat energiku kembali pulih. Cii..sepertinya aku mendengar suara ibuku memanggil namaku. Iya bu, ada apa bu, jawabku. Cii, bangun sambil ibuku menggoyang-goyangkan tanganku untuk membangunkanku dari lelapnya tidurku. Aihh..ternyata aku hanya bermimpi.

Mungkin saat ini aku hanya ingin merasakan pikiranku bebas tidak terikat apapun selama waktu perkuliahan belum tiba. Bebas melakukan apapun sesuka hatiku. Hal yang sangat disayangkan semua agenda dan rencana yang sudah diatur dengan sedemikian rupa semua hilang begitu saja sejak berita pandemi masuk ke negara yang memiliki sejuta keindahannya ini. Sempat berpikir ini mungkin hanya sementara waktu, tapi dari pemberitaan yang ditayangkan diberbagai saluran televisi jumlah pasien covid malah semakin tinggi saja.

Hari ini tiba-tiba saja moodku buruk sekali, rasanya ingin berteriak sekeras-kerasnya karena mungkin hati dan pikiran belum sejalan. Tapi tak banyak yang dapat kita lakukan, berusaha memperbaiki diri dan terus berupaya tetap produktif agar waktu tidak terbuang sia-sia begitu saja. Hari itu aku bersama dengan kawan-kawan kakakku berangkat untuk jalan-jalan melihat air terjun yang sudah sangat terkenal dan hampir semua orang ingin pergi kesana. Cukup menguras tenaga untuk tiba disana, tapi semua capek dan letih terbayarkan dengan indahnya air terjun yang berada ditengah hutan tersebut. Mungkin itu merupakan pengalaman yang akan masuk ke list hidupku yang ingin sekali bebas melihat betapa indahnya ciptaan Tuhan dan tak dapat tergantikan dengan apapun itu.

Ditulis : Suci Meliza

Editor: Nanda Sri Wahyuni Pulungan

+5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..