Minggu, 22 November 2020

Terimakasih banyak kepada kawan yang belum pernah berjumpa, tapi saling mengenal di Forum Penulis Madina, Ainun Lubis. Sajak diatas benar-benar membuatku tersentuh. Huhuhu. Aku memang belum punya banyak pembaca dan mungkin tulisan-tulisanku juga tak seberapa, masih terhitung berapa orang yang mau membacanya. Tapi, itu tak mengapa bukan? Ya, semua ini kulakukan bukan hanya untuk sekedar menjadi seorang yang terkenal, kualitas kita juga ga harus dinilai dari berapa likes, comments, subscribers atau views. Aku sudah cukup untuk berada pada tahap itu, memang siapa sih yang tidak berharap tulisannya ada yang membaca? Tapi, jikalau selalu menggantungkan harap dan pertolongan kepada manusia, sudah pasti kecewa adalah sasaran empuknya. Manusia lemah, manusia terbatas, manusia akan mati dan pertolongan itu juga akan terhenti. Hanya Allah yang abadi dan selalu mau menolong kita.

Terimakasih juga untuk keluargaku, ayah, ibu, adik-adik, abang yang sangat baik hati, teman-teman dikehidupan nyata dan dunia maya, keluarga di Forum Penulis Madina, koran Mohga News dan mandailing online yang sudah mengapresiasi dan mendukung Nanda untuk terus berkreativitas dan berkarya. Bagiku, setiap semangat dan motivasi itu sangat berharga. Semoga Allah membalas surga kepada kita yang mendoakan oranglain dalam diamnya dan tanpa perlu diminta.

Kebaikan tentu saja memiliki sayap. Entah dimana sayap itu akan berlabuh dan singgah, kita tak pernah tahu. Kata-kata adalah kebaikan jika ditempatkan sebagaimana mestinya. Namun, bisa jua ia menjadi pedang yang menghunus penulisnya dan juga bisa menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam jurang yang curam.
Dalam puisi juga begitu, cukup sulit untuk menginterpretasi makna dalam pilihan kata-kata si penulis, untuk masuk kedalam suasana hatinya dan menemukan pesan tersirat yang ingin disampaikan kepada kita.
Tak sedikit orang yang tidak suka membaca puisi, ribet banget katanya, rumit.
Tapi yakinlah, dibalik itu ada perenungan yang begitu dalam tentang makna hidup, kehidupan dengan segala cuaca dan juga masa depan, kematian yang mengejar-ngejar kita.

Jika ketekunan di gabungkan dengan tekad yang kuat dan di perkuat dengan kesabaran, niscaya akan menjadi aset yang cukup berharga bagi siapa yang ingin sukses di bidangnya.
Kesabaran ini memang terasa pahit, tapi buahnya sangat manis. Jika ingin lebih berhasil dari oranglain, kita tidak punya pilihan. Kecuali, bekerja dengan lebih keras dan rajin.
( An Wan Seng)


Satu hal yang menarik tentangnya, “Ketekunan adalah barang yang teramat mahal harganya.”


Ketekunan adalah barang yang teramat mahal harganya.

Yuppy, menulis butuh ketekunan dan kekeraskepalaan dalam derajat tertentu.Tapi semua hal memang butuh ketekunan, teman. Dan masih banyak yang lebih tekun daripada kita. Mari berlomba-lomba dalam kebaikan. Orang yang pintar sekalipun bisa dikalahkan orang yang tekun. Selalu ingat “Man Jadda Wa Jada”, barangsiapa yang bersungguh-sungguh pasti akan mendapat.
Yuk saling mendoakan, semoga segala mimpi bisa tercapai. Dan sabar bisa kita tuai. Aamiin.

Man Jadda Wa Jada

Tetap semangat, teman.

+2

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..