Pertama kali dengar kalimat “Allah yang mampukan kita” pas nonton video tentang haji muda di YouTube BPKH RI (Badan Pengelola Haji RI).
Jujur, aku pengen banget haji muda. Melihat semangat Ibu, setiap hari jualan baju keliling di pasar pagi, becek-becekan di jalan berlumpur karena pasar di kota Panyabungan ini sangat-sangat menyedihkan sekali. Mengumpulkan dua ribu, tiga ribu, lima ribu untung dari jualan dan menyisihkannya dalam kaleng tabungan. Aku malu melihat semangat Ibuku.
“Apa ga capek tiap pagi dan sore jualan keliling?”

Dan setelah ku renung-renungkan, itu semua mungkin dilakukan hanya untuk kami, anak-anak Ibu. Karena Ibu punya tujuan yang jelas. Kebahagiaan ada ketika melihat anaknya bisa makan, bisa kuliah dan belajar. Sudah jelas, aku sampai pada posisi hari ini, tak jauh-jauh dari doa ibu. Yang sedari awal, mendoakan ku lulus fakultas kedokteran. Katanya, senang melihat dokter-dokter pake jas putih yang baik-baik di Puskesmas.
“Ambil jurusan itu aja ya,” pinta Ibu sungguh.
Aku yang masih bingung, tak bisa menolak keinginan itu. Banyak, banyak sekali konflik batin dalam memilih jurusan itu.
~
Baru kusadari kemudian, makna rukun Islam yang kelima, naik haji bagi yang mampu bukan hanya tentang kita punya uang beli tiket dan antrian mendaftar ke Mekkah tapi perkara panggilan hati. Jika hati sudah tergerak, apapun rintangan halau marabahaya akan dihadapi dan disitu Allah datang memampukan kita untuk sampai disana.
Allah itu baik banget ya sama kita. Tapi memang kita seringkali tidak bersyukur. Ibu juga baik banget, Ayah jugaa, tapi kadang kita abaikan.
Kita debat perkataan mereka seolah-olah kita yang paling mengerti, padahal Allah yang memampukan kita untuk bisa bicara dan orangtua perantara untuk mengajarinya.
Kita seolah tinggi rasa. Manakala punya uang ratusan juta tapi hanya dihabiskan untuk foya-foya dan hedonisme semata.
Sia-sia.
~
Allah yang membantu orang-orang yang berani bermimpi.
Jikalau hari ini, tulisanku ini enggan kau baca. Tak apa. Semoga ada yang tergerak hatinya. Satu saja pun tak apa. Semoga ridho Allah senantiasa.
Terimakasih Allah.
Assalamualaika ya Rosulallah.
Kecup sayang ayah ibu.
Dari anakmu.

+1

4 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..