Masih. Aku melihatmu masih ada di dalam diriku. Terus ada. Hingga nanti.
Jua matamu, binar itu, masih menatapku dengan cinta malu-malu. Tapi, aku tahu, kau benar-benar merindukanku.
Sore itu, ditemani pohon bercabang sebatang kara dengan ranting yang telah kehilangan daunnya, kita duduk diatas batu panas yang sudah di panggang matahari seharian. Berhadapan dan menyantap somay yang kau beli sendiri untuk kita berdua.
Aku masih ingat, wajahmu yang memerah karena kepedasan. Dan kau yang tak ragu-ragu memakan porsiku karena aku sudah kenyang.
Sepanjang itu, kita bercerita banyak hal. Tentang gunung yang menjadi background figuran dialog kita yang sangat indah karena dikelilingi awan.
Aku memang suka sekali melihat gunung yang dibalut dinginnya awan. Aku suka aroma udaranya.
Kau suka pantai dengan senjanya. Aku suka apapun yang kau sukai. Dan kau juga ikut-ikutan, menyukai apa yang ku sukai.
Apa benar rasa itu sudah membuat kita lupa akan semua keegoisan diri?
Kemudian mengajari kita saling menerima perbedaan yang nyatanya sangat menyenangkan untuk di jalani?
Bagaimana mungkin jika kita selalu menyukai hal-hal yang sama, sepertinya kita akan jarang bertengkar? Haha. Terkadang, aku suka wajahmu yang cemas melihatku susah untuk dibujuk. Terkadang juga, aku kesal jika kau menghindariku.
Namun, biarkan semua berlalu dan silih berganti. Hanya satu yang abadi, kamu akan terus hidup dalam diriku. Kuharap kau juga begitu.

+2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..