Mimpi Seorang Gadis Cengeng

Hujan turun, langitku pun mendung. Aku seorang  yang  getir, belum punya keberanian lagi untuk bermimpi setelah semua kejadian dulu menebas dengan tajam relung  hatiku yang masih sangat semangat-semangatnya membakar mimpi. Yang masih sangat percaya akan keajaiban. Sebelum awan hitam menangis, menjadi seorang penakut adalah musuh terbesarku. Aku juga bukan seorang yang suka bergantung kepada orang lain. Menutup diri.

Aku seorang yang pemberani. Hari-hariku adalah belajar. Hari-hariku adalah perihal bagaimana mimpiku berkibar. Mengombinasikan antara warna biru dengan kuning menjadi hijau, Kombinasi warna merah dengan biru menjadi ungu Aku ingin sampai ke awan dan melihat betapa tak ada satu nikmat pun yang harus didustakan dari apa yang diciptakan penciptaku.           

Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan, menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin hidup yang ujungnya tiada disangka. Aku mendamba kehidupan dengan kemunginan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat, mengganda, berkembang, terurai, dan terpencar ke arah yang mengejutkan. Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut dicengkeram dingin. Aku ingin hidup yang menggetarkan, penuh dengan penakhlukan-penakhlukan ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup! Ini sekapur sirih tulisan paman Andrea yang sangat menginspirasiku hingga aku berani bermimpi di usia beliaku, 16 tahun.

Aku sangat percaya sesuatu itu tidak ada yang tidak mungkin. Semua mungkin karena kuasa Tuhan amatlah luas. Yang membedakan setiap orang yaitu usaha yang dijalaninya dan doa yang selalu ia munajatkan. Aku tak pernah menyerah. Disaat teman-temanku bermain bercanda gurau menikmati masa remajanya. Aku tak peduli itu. Yang ku ketahui hanya belajar, belajar, dan belajar. Aku tak mau diremehkan semua orang.

Aku tak mau memperkenalkan diri pada setiap orang. Aku ingin hidup sebagai orang yang dikenal dengan segala prestasi-prestasi yang ku gapai. Aku tak pernah merasa lebih baik dari orang lain. Waktu itu, aku adalah seorang gadis pendiam tak begitu banyak bicara mungkin ketika bersua hanya sedikit menorehkan senyum tak begitu banyak basa-basi. Aku tak suka dengan orang yang banyak bicara apalagi yang di bicarakan sesuatu hal tidak penting sama sekali. Aku adalah seorang yang IQ rata-rata tak ada yang istimewa dariku. Teman-temanku pun tak begitu suka bergaul denganku.

Tapi entahlah, aku tak begitu mengambil hati apapun yang dikatakan orang lain tentangku. Aku hanya ingin namaku dipanggil di acara penerimaan rapor dan orangtuaku maju mendampingiku. Aku tahu semua itu tak mudah karena aku sekolah di sekolah favorit di kotaku. Namun, AKU PERCAYA AKU BISA.

Dengan kerja keras dan kerja cerdas, aku berhasil menyandang tiga periode JUARA UMUM per semesternya. Juara 1 Olimpiade Biologi tingkat Kabupaten. Dan prestasi-prestasi lainnya. Hingga pada satu titik waktu semua berubah.

Pada keragu-raguanku yang tersudut harapan tak bertuan. Teka-teki tak berkaki dari suara-suara tersembunyi makna, aku goyah. Hidupku terasa hambar.  Ketika semua keyakinan-keyakinan yang kutanam tak terjadi sesuai yang di harapkan. Aku marah pada Tuhan. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang selalu menghantuiku. Ia melemahkanku. Aku selalu mengeluh , aku merasa Tuhan tak adil. Aku jatuh. Jatuh sejatuh-jatuhnya. Hatiku goyah imanku bobrok. Aku hanya ingin tidur berharap semua kegagalan yang menjumpaiku terlupakan ketika aku bangun. Namun, nyatanya hingga kini setahun berlalu kejadian itu belum bisa benar-benar aku musnahkan. Kini, aku takut bermimpi. Aku bukan seperti yang dulu lagi.

Apakah benar yang seseorang katakan itu bahwa hidupku sangat dramatis seperti kisah-kisah dalam novel? Aku mau mengikuti ketidakberdayaan itu. Mengapa aku begitu sulit melawannya. Mungkin, karena aku belum menjumpai jawaban dari pertanyaan itu.

Apakah orang kampung sepertiku tak boleh bermimpi terlalu tinggi?

Apakah orang kampung sepertiku tak bisa diberi kepercayaan bahwa aku bisa menjadi seorang yang luar biasa?

Apakah dana pendidikan ke pelosok tersumbat di tangan penyumbat hingga kami tak layak tuk dapatkan pendidikan lebih?

Kami juga ingin berkarya.

Masa-ku adalah masa-masa tersulit. Di saat aku punya kemauan dan ingin mewujudkan tapi tak ada yang memfasilitasi. Apalah dayaku? Aku tak punya hak untuk berbicara apa yang ku rasakan. Aku malah dicaci maki di sana-sini. Karena aku terlalu lancang bermimpi. Karena sikapku yang mengutamakan penciptaku.

Aku heran.

Alangkah lucunya negeri ini.

Aku tak mau di era keemasan Indonesia yang di perjuangkan nenek buyutku terdahulu hancur ditangan orang-orang yang tak berTuhan. Di tangan orang-orang yang tak berperikemanusiaan. Aku tak mau manusia diperlakukan seperti hewan yang tak berakal.. aku tak ingin semua itu.

Aku ingin Indonesia maju.

Tapi semua orang mengganggap sebelah mata. Lagipula, mana mungkin untuk suatu perubahan besar dilakukan seorang diri. Orang-orang disekitarku begitu egois. Mereka hanya memikirkan diri mereka sendiri. Tak adakah lagi tali persaudaraan di antara sesama? Aku tak suka semua ke egoisan itu. Semua harus bekerja sama semestinya.

Sudahlah, itu hanya keinginan-keinginan kecil dari seorang yang masih kecil ini. Saat ini, aku hanya mengikuti alur saja. Yang aku yakini, bahwa Tuhan akan mempermudah jalan untuk apa seorang hamba diciptakan. Yang aku yakini, setiap manusia diciptakan karena ia diperlukan dan memerlukan orang lain. 

Bukankah Tuhan menciptakan semua ini dengan keteraturan ?

Lalu mengapa masih saja ingin di hancurkan?

Memang betul, kita terkadang serakah, Kawan.

Lalu mengapa saling membunuh?

Memang betul,kita gila tahta. Hukum rimba masih terus saja berlaku. Yang kuat kaya raya yang berkuasa.

Lalu mengapa tak maju-maju?

Kita egois dan tak bekerja sama demi kejayaan dan kesejahteraan.

Lalu mengapa tetap tak berkembang?

Betul sekali, budaya membaca hilang oleh gemilang barang import yang ingin membutakan generasi emas bangsa. Hilang arah karena tak mengerti Al-Quran. Allah di urutan kesekian. Hedonisme merajalela kawan.

Dari seorang gadis cengeng sepertiku, apakah kau tega kawan membiarkanku sendiri di tepi jalan menghabiskan waktu melambai-lambaikan tangan hanya untuk mengharap belas kasihanmu ikut berjihad denganku,yang lewat pun hanya satu persatu. Tak kah dirimu peka untuk ikut bersamaku membentuk satu garis lurus pagar pelindung bangsa kita dari kaum kafir? Si gadis cengeng ini sangat membutuhkanmu, jangan berdiam diri saja didepan gadget-mu.

Nanda Sri Wahyuni

Ayo bergegas, belajar sungguh-sungguh supaya pola pikir kita berkembang, ciptakan alat yang membentuk kekuatan untuk masa depan. Kritis. Hidup tak melulu bersenang-senang. Kita harus bayar hutang kita pada pahlawan-pahlawan. Kita adalah pemimpin. Pimpin dirimu dan bergeraklah,hingga kelelahan itu lelah mengikutimu. Aku hanya ingin kita bersama-sama. Itu saja.

+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..