“Temukan jati diri dalam kesepian”. Penggalan ini seperti bianglala di pikiranku. Berputar dengan ritmik slowmotion seolah-olah setiap sudut lingkarannya dirancang sedemikian rupa hingga aku tak bisa memikirkan apapun kecuali tentang kita. Aku coba memandang sepi dari sudut pandang yang lain. Sisi dimana aku memandang tak sama dengan sesiapapun yang memandangnya walaupun kami sama-sama berdiri di titik yang sama. Aku ingin melihatmu sesukaku, aku ingin mengertimu sesukaku, aku ingin memahamimu sesukaku, aku ingin disampingmu saja, aku tak ingin dibelakangmu ataupun di depanmu. Sebentar, jangan kau beri opini dulu mengenai keinginanku ini. Nanti, kuberikan waktu untukmu menyampaikan apa saja yang kau mau.

Semua bermula dari aku dan kau yang masih menyimpan banyak teka-teki yang harus dijawab masing-masing. Dan berakhir dengan keputusan memilih jalan masing-masing. Kenapa aku tak paham bahwa kau tak paham? Seharusnya aku paham bahwa kau tidak paham. Bukankah di awal kita sudah sepakat untuk belajar memahami tanpa ingin dipahami? Belajar untuk mengerti tanpa ingin dimengerti? Belajar untuk memerhatikan tanpa ingin diperhatikan? Belajar untuk membebaskan? Ada oranglain yang lebih menginginkanmu ataupun menginginkanku melebihi keinginan kita.. Ahh.. Intinya aku ataupun kau  harus benar-benar paham apa itu paham yang harus sama-sama kita pahami.

Awalnya aku tak paham, bahwa diammu mengisyaratkan kau ingin apa yang kita jalani baik-baik saja. Lebih tepatnya aku baik-baik saja. Bahkan kau pun tak memikirkan apa yang kau rasakan demi aku yang harus tetap baik-baik saja. Aku mengira, diammu adalah ketidakpedulianmu. Tapi aku salah, diammu justru caramu berdamai dengan dirimu saat aku tak bisa memahamimu. Aku tahu kau keras kepala. Aku tahu tak semua hal bisa kau sampaikan dengan baik, meski niatmu selalu baik. Walaupun kau tak pernah menyampaikannya padaku tapi aku tahu bahwa kau tahu diam lebihbaik adanya meskipun rindu tetap saja menyiksa daripada memperpanjang cerita.

Relakanlah orang-orang yang kau cintai melakukan kebaikan-kebaikan yang akan menumbuhkannya. Meski itu berarti melepaskannya untuk selalu berada didekatmu. Meski itu berarti membangun jarak yang kelak kau kutuki setiap hari. Meninggalkan ataupun ditinggalkan sama saja, sama-sama memaksaku untuk ikhlas.

“Jadi, apa yang bisa menjawab teka-teki itu?”, tanyaku.

“Waktu”, jawabnya.

“Dan orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggalnya.”

 (QS. An-Naziat[79]:40-41)

Ayo, sekarang giliranmu yang bercerita.

+3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..