Lamaran Malaikal Maut

Pada saat itu, satu sosok yang tak ku kenali tampak keluar dari kekosongan yang gelap bagai kabut yang turun dari permukaan langit yang sebelumnya jelas kupandangi masih ada pepohonan begitu indahnya,  hewan-hewan begitu lincahnya, bunga-bunga bermekaran dengan beraneka warna.

Namun, tiba-tiba, rembulan menarik sehelai kerudung indah, hijab yang berasal dari kota seberang dan keheningan membalut diriku seorang.

Reruntuhan kesakitan membuatku sekarat dan sekawanan raksasa menertawakan ku terbahak-bahak.

Tapi seseorang yang tak ku kenal datang menghampiriku, membawa sebuah teko kecil berisi air.

Dia duduk di sampingku. Sejurus kemudian mendekati telingaku dan berkata dengan suara lirih yang menggoncang sukmaku seperti gema yang dikumandangkan kembali oleh lembah ngarai yang jauh tapi terasa sangat dekat.

Sepi menyeretku.

Aku menggigil, wajahku pucat pasi,badanku kaku, sakit sekali seperti ditusuk-tusuk duri tajam.

Mataku mencari kesana-kemari dimana suami yang aku cintai? Dimana anak yang kubanggakan? Dimana ibu dan ayah yang kusayangi? Dimana sanak saudara yang selama ini selalu bersama?

Semua istana yang telah ku bangun selama usiaku, ku lihat runtuh didepan mataku.

Kini, mereka rata dengan bumi dan tiada sisa.

Kecuali jejak yang kutinggalkan dalam kebaikan.

Itupun entah ada nilai kebaikan yang ternilai oleh kacamata Allah dalam hidupku.

Maka, aku bertanya. Ya Allah, orang macam apa aku ini?

“Air… Air… Air..”, rintihku tak terperikan.

Aku merasa sangat haus bagai di tengah padang gurun gersang tidak ada satu sudut pun tampak seseorang begitupun tak ada sumber mata air yang memancar atau menggenang.

Hanya dia, hanya dia yang datang.

Dia menawarkan air kepadaku. Katanya, aku sedang berada dalam proses  lamaran malaikat maut, Izroil. Tapi, dia memiliki syarat agar aku bisa mendapatkan air itu.

Dia meminta agar aku mengatakan Muhammad itu pendusta.

Aku bingung. Aku tidak bisa berkata apa-apa.

Pada saat itu, yang berbicara adalah mataku, tanganku, kakiku dan semua bagian tubuhku. Tak bisa ku mundurkan barang sedetikpun untuk menebus segala kelemahan ku yang suka terlena di dunia. Menimbun maksiat saat demi saat.

Saat kematianku tiba, laksana bunga diambil wewangiannya, tak ada guna, sia-sia.

Demikianlah langkah jiwa yang keliru. Manakala semua di ambil, tak berdaya.

Dia datang melepaskan mantel kekuatan fisik dan kekuasaan itu karena merasa jemu akan ketamakanku pada harta, sibuk mengurusi yang fana, hilir mudik memasuki pasar dan plaza-plazanya, menyinggahi hotel dan rumah-rumah diskotiknya.

Sesudah itu, nafas waktuku tersengal-sengal, perlahan, aku tak melihat apapun, pun tak ku dengar suara apapun, aku sendirian, karena aku telah kembali ke realitas ku yang sebenarnya.

+3

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..