Ada yang Mendadak Hilang

Ada yang mendadak hilang, baru saja pagi sudah tiba-tiba petang. 

Kemudian berganti menjadi malam berselimut kelam.Jalanan mengombak tanpa bunyi.

Pepohonan diam tanpa ekspresi.

Sementara aku berbisik, rindu ini kian berisik. 
Ada yang masih berusaha keras abadi.

Ya, aku.

Mengapa aku masih juga berharap sementara kamu sudah semakin gelap?

Mengapa aku tak sempat untuk bertanya?

Mengapa aku tak sempat untuk kecewa dan menyesalinya?

Mengapa semua ini seolah sia-sia?

Begitu kosong waktu bertahun-tahun yang sudah kita lewati.

Masih adakah cahaya diantara gelap menujumu?

Masih adakah bunga lambang cinta yang ku tanam dihatimu?

Alangkah angkuhnya langit yang tak memperbolehkan matahari bersinar lagi.

Biar kujelaskan dulu, bukannya aku tak sayang padamu.

Kemarin, hujan turun tak jemu.

Aku memilih kaku meratapi hujan sepanjang hari, sendiri, dan membiarkan semua nya sepi.

Hingga aku tak sadar, di ujung sana kau menantiku tak peduli aku harus menerjang hujan atau badai yang penting aku segera datang di hadapanmu.
Ya, kita saling mementingkan perasaan sendiri.

Aku dengan persepsiku, bahwa menepi adalah cara terbaik menenangkan diri.

Kamu dengan persepsimu, bahwa aku sudah tak mengingatmu lagi karena aku senyap tiba-tiba tak mengabari.
Awalnya, aku kira, kamu mengerti aku.

Dan aku mengerti kamu.

Ternyata tidak. Ku pikir, jeda itu perlu untuk memaknai arti hari-hari yang telah kita lalui.

Ternyata bagimu, tidak perlu juga. 


Hmm, aku tersesat diantara bayang-bayangmu. Hatiku risau.

Kau sudah berbunga lagi sebelum musim menanggalkan daun-daun.

Kau sudah tersenyum lagi sebelum airmataku kering.

Kau sudah menata mimpi-mimpi lagi bersama orang lain sebelum mimpi-mimpi kita yang dulu ku sembunyikan.

Semua seperti mimpi.

Kau meninggalkanku dengan desak.

Dan aku masih tegak, tergagap gugup tak kuasa menahanmu untuk tetap bertahan bersamaku.

+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..