Landak Bergelung Korban Corona

Oh, rindu yang keparat menyapa tubuh malasku mengingat usia tiba-tiba dilipat angin musim memburu tanpa rambu.

Rasa asing menyayat di sela sepi sendiri ku terperanjat.

Kaum rebahan tercipta. Rutinitas yang itu-itu saja. Bosan!

Gembar gembor slogan di rumah aja.

Sekonyong-konyong hemat energi, aku malah makin gembel gembul bak landak bergelung diterpa dingin di atas singgasana tilam kapuk pujaanku itu.

Bagaimanapun, manusia tidak bisa hibernasi dalam jangka waktu yang panjang.
Kehadiran Corona tanpa di sangka-sangka telah menyulap gaya hidup peradaban dunia, menghantui jiwa menimbulkan cemas, stres, paranoid dan rasa terasing selama karantina.

Langit terus kelabu, mengelabuiku.

Harusnya kata-kata tak pasang surut dan terlepas menjauhiku.

Entah menjelma menjadi apa aku ini selama pandemi, menjemukan!

Tak mungkin sanggup aku seperti tikus dormice yang bersembunyi di bawah tanah atau koloni kelelawar yang berlindung di gua atau beruang tidur di sarangnya.

Kutimbang-timbang sebelum mati rasa. Aku ikut saja. Berkarya.

Kurenung-renung dalam doa.

Apa salahnya mencoba? Aku hanya pengangguran korban PHK gara-gara Corona.

Tapi, ku punya cita rasa luarbiasa.

+4

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..