Lewat Puisi

Merangkai dan membahaskan  rindu dalam kata-kata adalah pekerjaan paling menyenangkan. Aku berencana menulis cerita-cerita senja tentang kita  barangkali rinduku atau mungkin juga rindumu terlunaskan.

Sudah lama aku ingin bertanya. Yang membuat aku tertegun lama dan bingung memikirkannya. Kenapa aku bisa mencintaimu? Pertanyaan itu  aku sampaikan pada diriku, dan kutulis di sekujur tubuhku agar seluruh orang dapat melihatnya. Dengan sudi membantuku menjawabnya. Tembok-tembok  yang berjejer di jalanan dari pagi sampai kembali pagi telah penuh dengan tulisan “Kenapa aku bisa mencintaimu?”.

Mampus aku dikoyak-koyak rindu. Dia dan aku akan ada jeda. Jeda ada karna ia punya makna. Untuk masing-masing menyelesaiakan jejak-jejak  tak beraturan. Dengan satu tujuan menggapai asa dengan mendidik diri dalam rindu sendu yang mengharu kalbu terbias hingga ke langit ataupun laut biru.

Aku menyebutnya Rama. Dan aku menyebut diriku Bunga.

Rama dan Bunga?

Pada mulanya kita diam, tak saling kenal. Bunga tidak mengenali Rama. Tapi Rama sangat mengenal Bunga. Sejak bunga masih kecil, Rama sering berkunjung dan melayang-layang di udara mengelilingi bunga. Bunga melihat semua yang terjadi dengan sikap seperti biasa karena bukan hanya Rama satu-satunya kupu-kupu yang mengunjungi Bunga. Bunga adalah cinta. Tapi Rama tetaplah Rama yang tak pantang menyerah. Aku tahu dia teguh dan gagah karena keramahannya tersembunyi, menyapa semesta dengan keikhlasan hatinya.

Sampai detik ini, aku tak juga tahu dari mana kata rindu bermula? Apakah kau tahu?

R  I N D U ?

ABSTRAK. MISTERIUS. KAKU.KIKUK.MAYA.TAK MENENTU.

Di suatu hari di  awal bulan Juni. ABSTRAK. Karena aku tak  tahu, tetiba kau datang tanpa mengetuk dan aku membiarkanmu masuk. Begitu saja. Apa itu sebuah kesalahan? MISTERIUS. Karena kedatanganmu yang tak tepat waktu hingga aku tak  tahu kapan waktu yang tepat untuk menyimpan semua barang kenangan dalam bingkai kepergian. Melepaskan tak semudah menerima. Itu sulit hingga membuat mu KAKU dan aku KIKUK. Perasaan berdetak meliuk-meliuk dengan diam tanpa medium. Membisu seribu bahasa . Seolah cahaya dan gelombang bunyi membeku dan nyata menjadi berbatas, jadi MAYA. Aku merasakan keberadaanmu tanpa pernah tahu bagaimana perasaanmu. Jawabmu: TAK MENENTU..

Bunga pagi hari mungkin tak perlu bertanya, mengapa Rama menghampirinya. Tapi, ada satu yang pasti, bahwa Rama menginginkan madu darinya.

Bunga pagi hari mungkin tak perlu bertanya, mengapa Rama menghampirinya. Tapi, ada satu yang pasti, bahwa Rama menginginkan madu darinya.

Nanda Sri Wahyuni

Aku bingung. Semesta seakan membenci Rama. Apakah dulu dia ulat yang cacat? Apakah dulu dia ulat yang tak tahu berterimakasih? Meninggalkan ranting tempatnya menempuh waktu untuk bertransformasi metamorfosa sempurna dengan acuh tak acuh. Aku tak tahu dia yang dulu. Yang kutahu dia sedang mencari jati diri dengan dewasa  mendengarkan nurani. Apakah itu benar Rama? Benar kan? Ku mohon, jelaskan padaku.  Jujur, aku tak ingin kepercayaanku yang ku pertahankan sedemikian rupa perihal semesta yang mencacimu tanpa cela , perihal aku yang berusaha menebalkan pendengaran, kau sia-siakan begitu saja. Sungguh, hari-hari ku menangis. Sesak selalu mengiris. Aku tak tahu cara bertahan lagi. Ingin rasanya, ku menumpahkahkan semua rasa yang kurasa padamu. Namun, kurasa tak perlu. Mungkin, kau takkan mengerti. Kau selalu asyik berlogika. Itu hanya melengkapi opinimu bahwa aku benar-benar gadis cengeng. Seperti kata ayahku juga, katanya hobby-ku menangis. Biarlah, mungkin itu benar adanya.Karena aku tak tahu harus kemana lagi  menyampaikan cerita bahkan burung dara pun letih mengirimkan surat tanpa alamat yang ku goreskan terus menerus. Kepadamu,   aku memilih luka sebelum banyak cerita.

Maka memang hanya itu modalku untuk terus bertahan : satu keyakinan bahwa suatu saat rindu itu akan terbayar setuntas-tuntasnya. Bahwa dinding itu akan roboh, menyatukanmu dengan diriku yang telah lelah sendiri. Seperti sajak yang kau tulis kemarin lusa  padaku, “Kita akan bertemu sebagai dua buah bintang di angkasa pada suatu malam sehabis senja ,  kau yang akan menemukanku yang tengah sendiri menunggumu di akhir Juli”.

Biarlah aku pergi. Meninggalkan mu pelangi dan senja.

Rama. Kupu-kupuku terbanglah tinggi. Berkelanalah semaumu kemanapun yang kau suka. Kenanglah, bahwa kau pernah bersamaku pada detik yang kita sebut kemarin, pada rentang yang kita namai masa lalu. Setidaknya, aku pernah menyebut namamu, sesekali dalam lamunanku. Dan kenanglah, sepuas kau ingat, sebab melupakan adalah sia-sia.  Aku tak pernah tahu kau akan kemana. Dari nirwana aku hanya bisa tersenyum melihatmu memetik kenangan.

Rama, bila nanti kau ingin datang lagi. Ketahuilah, Bunga tidak lagi berada di tempat yang dulu lagi,  di tepi sebuah jalan dimana kau pertama kali  menemukannya. Yang dengan mudah bisa dipetik oleh siapapun. Tidak lagi disana. Bunga sudah berada di ujung  jurang yang curam. Bunga ingin indah di tempat yang tak seorang pun bisa memetik sesukanya. Melainkan, jika dia memang bisa membuktikan bahwa dia seorang pejuang. Hingga taruhan terbesarnya adalah kematian. 

Semoga kelak kau sadari bahwa seluruh bumi, bernyanyi merdu untukmu lewat puisi.

Tak ada yang perlu ditakutkan selain kamu yang harus menjaga hati.

logo
+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..