Sudah, sudah ribuan kali, mungkin angka dan persentasenya terus bertambah setiap hari, aku diremehkan bahwa di kucilkan dan dianggap angin lalu yang tak berguna. Ya, kadang-kadang telingaku panas mendengarnya, terkadang hatiku memberontak merasakan hinaan itu, terkadang juga itu membakar semangatku. Apakah kamu pernah merasakannya?

Aku masih ingat kalimat itu,

“Saya takut kalau kamu ga lulus SNMPTN undangan itu, kamu susah mendapat peluang di SMBPTN, kamu kan juara umum, kalau gak lulus dimana-dimana, malunya luarbiasa,”

“Kamu kan anak kampung,”

“Masih muda udah penyakitan,”

“Ngapain nulis? Nulis apa? Paling curhat galau lagi,”

“Dokter itu matre, mata duitan, ga punya nurani, bisa-bisanya mikirin uang disaat orang lain sekarat,”

Well, sukak-sukakmu lah ya ngomong apa. Ya, memang sukak-sukakmu, mulut-mulutmu juga ye kan? Maafkan logat Medanku yang mulai kambuh. Kadang lucu juga kalau jumpa sama senior yang merasa sangat senior. Orang senior yang mengutamakan keseniorannya adalah seorang senior yang merasa terancam dengan orang muda.

“Saya tuh udah dari tahun 1800sekian masuk kuliah, sudah 30 tahun lebih bekerja dibidang ini, kamu kan anak bawang baru masuk kemarin sore, udah nurut aja sama kata saya!,”

“Apasih yang kamu tahu, saya sudah lebih lama hidup,”

Hanya tahun masuk kok bisa dibanggakan? Mungkin, seorang senior yang sedang tidak percaya diri. Hahah. Kami menghargai bapak/ibu terhormat karena ada yang tidak bisa kami beli sebagai orang muda yaitu pengalaman. Pengalaman baik, hitam putih, pahit manis getir kehidupan yang para senior sudah alami sangat kami butuhkan untuk inspirasi dan introspeksi di jaman ini.

Tapi, bukan berarti karena senioritas itu menjadikan kami tidak dihargai dan direndahkan. Cobalah sesekali melihat dari sudut pandang kami. Memang, kalau ditanya siapa yang lebih sibuk dari siapa, setiap orang akan merasa dirinyalah yang paling sibuk. Namun, setiap masa ada orangnya, setiap orang ada masanya. Cara memandang sesuatu bagi tiap-tiap orang juga tentunya berbeda. Jangan mendiskriminasi oranglain hanya supaya pendapatmu disetujui.

Kalau bicara sibuk, Allah lebih sibuk mengurus semua hambaNya, mendengarkan, melihat, membuatnya belajar dari kesalahannya tanpa menghakimi, diberi kebebasan dalam bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang menghebatkan dirinya.

“Aku ini anak ibuku, jauh sebelum kelahiranku, dia tak lelahnya selalu mendoakanku,. Apa hakmu merendahkanku?,”

Setiap manusia spesial dan tidak semua orang bisa melihatnya. Ketulusan tak selalu menampakkan wajahnya dengan terbuka. Adakalanya ia tersembunyi dibalik beningnya hati.

Seringkali, kita temukan orang-orang yang salah menggunakan kekuasaan. Kekuasaan membuatnya semena-mena, bicara suka-suka, merekrut dan mengeluarkan anggota tanpa diskusi, serta-merta tanpa ampun. Semua dilihat berdasarkan sudut pandangnya. Didepan teman-teman terpandangnya, mereka saling palsu, tertawa dan tersenyum bersama, namun dalam hati penuh gemuruh balas dendam dan bercampur bumbu iri dan cemburu atas prestasi atau kenaikan pangkat dan gaji orang lain.

Aku memang kurang tabah. Sangat tidak tahan dengan kepalsuan. Benar bahwa hidup adalah sopan santun yang palsu. Terkadang memang dibutuhkan untuk berpura-pura. Namun tidak ada cinta yang bisa bertahan lama diatas kepalsuan. Berkoar-koar atas azas kekeluargaan tapi terselip kepentingan pribadi yang dengan tipu muslihat yang direncanakan. Permainan semakin seru karena semua orang sudah terbius dengan iming-iming gratisan. Hah? Gratis? Tidak ada hidup yang gratis, kawan,

Coba sebutkan? Apa ada yang gratis didunia ini?

Semuanya adalah aksi reaksi. Mana ada orang yang rela mengorbankan waktunya untuk mengajarimu yang bodoh itu? Setidak-tidaknya, ia ingin popularitas, pengakuan orang lain bahwa ia sangat keren. Itu mengangkat pamornya dalam kancah perpolitikan apapun. Kamu mau tidak mau, suka tidak suka, adalah alat menuju ke puncak kesuksesannya. Banyak cara yang orang halalkan untuk mencapai popularitas. Kalau istilah di dunia artis adalah panjat sosial (pansos). Sekarang, semua dinilai berdasarkan angka. Angka adalah tolak ukur yang sangat jelas terlihat berapa followersmu? berapa likes setiap postingan yang kau buat? Tak lain sebenarnya, ujung-ujungnya adalah uang.

Atau jika ia memang orang baik, ia akan berharap semoga Tuhan membalas kebaikannya beribu kali lipat dan masuk surga kelak. Mungkin, sudah sangat langka kita temukan orang-orang yang memiliki tujuan selain uang.

Dan setiap kita adalah pelayan bagi yang lainnya. Menjadi pemimpin adalah menjadi pelayan bagi anggotanya. Menjadi guru adalah pelayan bagi murid-muridnya. Ia tidak boleh terlalu ikut campur dalam hal pribadi, tapi ia ada untuk mengawasi, mengingatkan dan meluruskan jika muridnya melalukan kenaifan.

Namun, jika ada anak buah, anggota, murid yang dimanfaatkan untuk kepentingan pribadi pemimpinnya, gurunya, cara paling ampuh adalah ikhlaskan. Sembari mendoakan dia karena doa-doa orang terzholimi sangat mustajab dikabulkan. Kita beri hadiah yang memuliakan kita daripada balas dendam yang menyiksa.

Kekuasaan itu luka bagi kita yang bukan siapa-siapa. Tapi gunakan kekuatan dari rasa sakit dan luka yang kamu rasakan itu untuk menghebatkan diri.

Nanda Sri Wahyuni

Lakukan yang baik bagimu. Kalau kita tidak baik, kita tidak bisa baik kepada siapapun.

+1

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..