Mozaik 2

Polemik Memilih Jurusan

Malam itu menjadi sangat panjang karena pikiranku bercabang melintasi pulau Sumatera, menjelajahi Indonesia, menghampiri Benua Asia hingga Afrika. Novel Andrea Hirata Sang Pemimpi dan Edensor terngiang-ngiang berputar seperti bianglala di kepalaku. Sesaat aku menjadi begitu berani pemimpi, sesaat kemudian bisa jatuh tersandung angan-angan hingga menjadi seorang gelandang di tengah jalan yang tak jelas tujuannya. Kenapa aku ini? Begitu cepat perubahan moodku. Terkadang aku menjadi begitu impulsif, melakukan tanpa berpikir panjang. Terombang ambing di riak dan tenggelam.

Keputusan itu tak selamanya bak menuai padi pada musim panen, semua gembira? Tidak. Aku terjebak polemik dengan seorang teman seangkatanku di SMA. Ya, dia sahabat yang menjadi dekat denganku dua tahun belakangan. Kami berbagi cerita suka dan duka tanpa mengenal waktu. Terkadang kami sampai tidak tidur, sambil mengerjakan soal matematika atau sekedar membuat mading kelas atau untuk dikumpulkan ke kementerian jurnalistik. Sialan, memang aku seorang teman yang tak peka. Aku tidak tahu bahwa dia juga mengingkan jurasan kedokteran. Aku tidak tahu bahwa dia begitu berambisi. Aku tidak tahu semenjak ibunya sakit-sakitan karena kanker yang menggerogoti seluruh tubuhnya bahkan hatinya sudah penuh dengan sel-sel kanker yang berprofeliferasi dengan cepat, satu sekon? nol koma lima sekon? tak ada yang tahu pasti kecepatannya tapi bisa menjadi berlipat-lipat jumlahnya dalam sesaat. Dan akhirnya, ibunya meninggal dunia meninggalkannya sebagai anak sulung dan tiga orang adiknya beserta seorang suami yang kuat. Aku kenal ayahnya, ayah yang senang tersenyum sangat bertolak belakang dengan Mayra, wajah murung dan minim senyum menutupi parah wajahnya yang elok itu. Dia cantik, berkulit sawo matang khas orang Asia, giginya tersusun rapi, kecil-kecil, tapi sangat introvet. Pernah ketika itu, dia tertidur lebih awal, oiya, hampir lupa, kami satu kamar di asrama, dan buku diary nya terbuka di lantai. Amboi, kalau kamu melihatnya, tulisan sambung bertalinya rapi sekali, ditulis dengan hati dan penekanan yang kuat sampai menembus ke kertas di halaman sebelumnya. Dia suka menulis puisi tapi tak pernah mau dipublikasi. Ia menutup diri kecuali kepada seorang lelaki yang juga temanku, tetangganya di rumah, tak berjarak. Ketika dipagi hari membuka jendela, pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah pacarnya itu yang sedang membantu orangtuanya mengaduk kuali besar berisi Alame, sejenis dodol tapi cukup berbeda kekenyalannya, makanan khas Mandailing. Jika belum tahu, kamu harus mencobanya.

“Buk, ini ga adil, pilih kasih!,” mukanya memerah dan matanya berlinang belum mengeluarkan air mata.

“Kenapa, Mayra?,” jawab Buk Siti berusaha memahami. Buk Siti adalah guru bimbingan konseling disekolah kami. Biasanya, menjelang pemilihan jurusan, Bu Siti adalah seksi sibuk, karena semua murid akan berlomba-lomba dan membuat janji temu dengannya. Pengalamannya tentang penjurusan dan peminatan siswa sudah tidak diragukan lagi. Seorang sarjana psikologi yang menurutku kompeten, realitis dan mudah membius semua murid untuk bercerita apapun kepadanya termasuk masalah percintaaan, kehidupan pribadi dan tentunya tentang kehidupan berasrama.

“Ibuk ga adil, kenapa Nadin yang mendapatkan jurusan kedokteran?”

“Nilai rata-ratanya bagus, besar peluangnya untuk lulus Mayra,”

Aku yang juga berdiri diantara mereka hanya diam, tak kuasa berkata-kata.

“Ihh, ibuk ga adil, kenapa dia boleh, aku enggak? Dari dulu kan dia ga pernah bilang mau FK buk?” nada suaranya meninggi, alis nya berkerut, menggerutu sendiri sambil lari meninggalkan kami.

“Gimana nih Buk?”

“Biarkan ajalah Din, dia lagi emosi. Nadin ga usah takut, emang nilai Nadin lebih tinggi kok, ya mau gimana lagi?”

Tak kusangka buk Siti memihak kepadaku. Tapi aku juga tetap tak enak hati kepada Mayra.

“Aduh, bagaimana ini? Malah tempat tidurku berada diatas tempat tidurnya lagi, bagaimana aku harus menghadapinya?,”  bayangan-bayangan tentang pertengkaran besar akan terjadi setelah ini memenuhi kepalaku.

Memang begitu, sistem di sekolahku. Di semester akhir semua nilai selama lima semester akan ditotalkan dan dirangking satu angkatan. Aku yang meraih juara umum angkatan berturut-turut selama satu semester, empat kali juara satu kelas sudah pasti akan menduduki peringkat atas. Itu sebabnya, beliau merekomendasikan aku. Aku juga tidak pernah terpikir akan jurusan ini. Selama ini, aku menempel logo UGM di dinding tempat tidurku, aku mendambakan jurusan biologi dan sastra indonesia. Aku juga merasa sangat bersalah. Tapi ini peluang besar, sudah empat tahun belakangan sekolah kami ini tidak pernah lulus ke Fakultas Kedokteran, mungkin persaingannya ketat? Aku juga tidak tahu karena tidak pernah mencari tahu.

Semenjak kejadian itu, nanti kuceritakan kejadiannya, aku berjanji kepada diriku untuk tidak mau melanjutkan studi di Sumatera Utara. Sumut menurut rumornya adalah singkatan dari semua urusan uang tunai. Tapi kenapa takdir membawaku kesana?

Aku dilanda dilema berat. Mayra sudah tidak mau menyapaku lagi. Semua menjadi canggung dan dipenuhi amarah. Aku berpasrah. Aku hanya berusaha menetapkan hati dengan rutin sholat istikhoroh, duha, tahajjud dan sholat hajat.

Mungkin, ini salah satu dampak negatif dari dihapuskannya UN. Mereka tidak lagi merasakan nikmatnya berjuang. Pasalnya, jika kau tanya kelas dua belas menjelang UN, akan memperbanyak ibadah, yang dulunya tidak pernah ke mesjid menjadi mendadak rajin, sholat, mengaji dan ibadah sunnah lainnya tidak ketinggalan. Maklum, karena ada maunya.

Pada suatu malam, amarahnya meledak tiba-tiba, aku yang duduk sambil membaca buku diatas tempat tidurku terkejutkan dengan sindiran-sindiran keras itu. Riuh menyesakkan ruangan kelas yang disulap menjadi asrama itu. Dalam satu ruangan ada lima puluh orang, asrama putri namanya. Tempat tidur bertingkat dan hanya sedikit sekat seperti labirin-labirin, disamping setiap tempat tidur hanya ada lemari kecil menyimpan baju atau buku.

“Dasar ga punya malu, bisanya ngambil hak orang,”

“Plin-plan banget, ga tetap pendirian, hari ini maunya itu, besok maunya ini,”

“Jangan mentang-mentang kamu nilainya tinggi jadi berbuat sesukamu ya,”

Entah kalimat apalagi yang akan keluar dari mulutnya, lagi-lagi aku hanya membisu. Tanganku gemetar dan jantungku berdegup kencang. Rasanya ingin menangis. Tak ada satu orangpun yang membelaku.

“Aku harus bagaimana?,” pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya .

Kalau dipikir-pikir, itu tak sepenuhnya salahku. Dari sisi egoisnya, aku mendapatkan kesempatan itu karena selama tiga tahun aku sudah mati-matian belajar untuk mendapatkan nilai itu. Anggap saja itu semacam bonus atau hadiah. Aku menghargai proses belajarku karena selalu kujunjung tinggi kejujuran.

Bukankah benar? Allah akan mengangkat derajat orang-orang berilmu dan terkadang rezeki datang dari arah yang tidak disangka-sangka. Bersihkan hati, luruskan niat, sungguh-sungguh. Terkadang ketika kita mengharapkan sesuatu, sesuatu itu akan menjauh dan teramat sulit untuk didapatkan. Dan ketika kita tidak meminta tapi terus berusaha memberikan yang terbaik, segalanya akan mendekat, menyapamu tanpa kita minta.

Untuk membaca Mozaik 1: https://nandsy.com/sastra/novel/berteman-dengan-langit-novel-by-nanda-sri-wahyuni/

+2

2 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..