Rasanya hidup kian terburu-buru dan melelahkan juga.

Kadangkala aku mengaso sekedar mangalami hidup yang lain.                            

Tapi tak ada tempat atau rumah satu-satunya yang membuatku betah.

Dan kadangkala aku mulai cemas.

Jangan-jangan aku tersesat diantara rimba yang entah dimana ujungnya.

Rasanya hidup ingin merubah diriku yang sebenarnya.

 Disuguhkannya kepadaku bermacam-macam kehebatan dunia hingga aku lupa akan ada saatnya semua ini berakhir sebagaimana mestinya.

Life is simple, right?

Yang rumit itu, karena kau banyak maunya.

Dan di sistem Firaun yang sekarang adalah mematikan heroik laki-laki dan membuat wanita haus akan popularitas dan kekuasaan. Tolabul Ilmi atau menuntut ilmu itu hakikatnya adalah kebutuhan bukan kewajiban. Namun, sekarang bergeser makna menjadi pengejaran materi dan sosial. Dan kebutuhan menuntut ilmu bagi seorang wanita adalah kelak persiapannya untuk menjadi seorang istri dan ibu bukan untuk bekerja. Karena wanita memiliki kemampuan mengatur perasaan (sunnatullah) sebagai pintu gerbang peradaban dan sebagai sumbernya kasih sayang.

Sekolah itu berasal dari kata sekole, bahasa Yunani yang artinya tempat bergembira.

Di jaman Rosulullah belum ada sekolah.

Namun yang terjadi sekarang adalah sedikit saja orang-orang bergembira dengan sekolah, semua dikejar-kejar target yang membuat stress, frustasi dan terkadang sampai bunuh diri.Sekolah bagi wanita menjadi suatu kewajiban yang penting dan genting. Padahal yang secara naluriahnya adalah penting dan tidak genting.

Hingga yang kita dapati sekarang adalah wanita secara naluriah nya berubah yang seharusnya keibuan, pengasih dan penuh cinta, wanita namun sifatnya seperti laki-laki yang lebih banyak berlogika.

Padahal yang sebenarnya dibutuhkan wanita adalah perhatian dan kepedulian.

Yuk, refleksi dulu.

Hijrahkan fikriyah nya dan menajemen qolbunya.

Hakikatnya, hidup itu harus memberi sebanyak-banyaknya.

Dan kehidupan yang hari ke hari prioritas nya adalah Allah dan Rosulullah.

Kuncinya adalah ridho, ikhlas dan bersyukur.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..