Ia, Sutarjo bin Sutejo, suamiku, lebih tepatnya, mantan suamiku, kami sudah punya dua putri kecil, Nana dan Nini. Masing-masing berusia dua dan satu tahun. Umur pernikahan kami hanya bertahan pada gerbang tiga tahun saja. Enam bulan lalu ia mengirimkan pesan singkat berisi permintaan maaf tidak bisa pulang ke rumah karena ingin pulang ke kampung asalnya, Sidoarjo. Sekaligus, kutahu kemudian bahwa dia sudah menikah sirih dengan wanita lain yaitu Lana, seorang pelayan di kedai kopi malam “Usah Kau Pulang Lagi” tempatnya bekerja, tambang emas desa Hutabargot. Ia adalah perantau di bumi gordang sambilan, tanosere, Mandailing Natal. Jika kau tidak tahu dimana tempat itu berada, kuberitahu itu salah satu desa di pedalaman Sumatera Utara.

Apakah kau sudah memahami bagaimana rasanya ditalak sepihak oleh suamimu dan ditinggalkan tanpa uang sepeserpun untuk anak-anakmu? Tak sempat bertatap muka. Surat perceraian dikirim langsung ke alamat rumah menyapamu tanpa basa-basi. Tepat saat ini sedang kugenggam surat cerai dengan jutaan amarah yang menggebu dalam deru yang tak terperikan, dibalut penyesalan tak berkesudahan dan rasa dendam yang tak bisa diekspresikan. Pak pos yang datang mengantarkan hanya tersenyum, meminta tanda tangan, ku kira itu kiriman uang atau bingkisan kado dari suamiku karena aku sedang merayakan ulang tahun yang ke dua puluh tiga tahun. Aku nikah muda di usiaku yang masih belia seusai lulus pesantren yang tak banyak muridnya. Realitanya, aku selalu mendapat predikat terbodoh dikelas.

Aku bertemu dengan Sutarjo keparat itu setelah berkenalan di Facebook. Dia yang tiba-tiba mengirim pesan di dinding messeger.

Hai adik manis, boleh kenalan kan?,”

“Boleh Mas,”

“Adik orang mana?,”

“Aek Banir, Mas,”

“Di Mandailing Natal ya?,”

“Ia mas.”

Aku termakan rayuan dan gombalnya. Kenapa pula mudah saja membalas pesan dari seseorang yang tak kukenali. Sangat naif memang.

“Adik sudah punya pacar? Atau sudah menikah?”

“Belum Mas,”

“Mau menikah dengan Mas, dik?”

Aku tidak membalas pesannya seminggu lamanya. Pertanyaannya itu mengejutkanku hingga dadaku berdegup kencang, denyut nadiku tak karuan dan hatiku jangan tanyakan lagi, mekar bak bunga tulip yang indah di Noordeijkerhout pada bulan Maret hingga Mei. Apalagi yang kuharapkan? Pasca tammat sekolah, aku bingung mencari pekerjaan. Ayah baru meninggal dan Ibu hanya seorang buruh tani kerawitan dengan delapan anak, dua diantaranya sudah menikah dan sisanya masih dirumah.

Setelah kutanyakan kepada Ibu dan kakakku, mereka menyetujuiku menikah saja. Daripada luntang lantung tak jelas arah. Maka aku indahkan nasehat itu.

“Mas, boleh kita bertemu?,” kusapa dia lagi di dinding messeger.

“Boleh dik,” jawabnya selang semenit kemudian.

Akhirnya, jadilah kami berjumpa di sebuah café kopi yang tak begitu ramai tapi cukup asyik sebagai tempat berbincang. Tanpa proses lama, aku tertarik kepadanya. Dan kami menikah satu bulan kemudian. Aku menikah dengan mahar yang kecil karena dia hanya pekerja tambang emas serabutan dan aku pengangguran. Cukup termarginalkan orang sepertiku, ditambah aku hamil duluan karena dia membawaku ke sebuah gubuk kecil di tengah hutan dan kami berbuat zina atas azas sama-sama mau. Aku tahu aku bodoh, tapi itulah jalan terakhir dari orang sepertiku. Yang nyaris tak punya harapan dan miskinnya ketulungan. Dan setelah menikah, ternyata, Sutarjo adalah suami yang suka melakukan kekerasan di rumah tangga. Dipukulnya aku sampai lebam sekujur badan. Pulang-pulang marah-marah tak beralasan. Aku tak melawan, karena malu kepada Ibuku. Ku pertaruhkan semua harga diriku, untuknya.

Kenapa? Kenapa banyak manusia yang memilih bertahan padahal dia tersiksa? Tak mau melepaskan padahal hatinya terluka?

“Tidak, kamu tidak boleh cerai, jangan cegeng. Kamu itu harus dewasa. Jangan dikit-dikit mintai cerai.” Begitulah perkataan Ibuku kepadaku setelah kuceritakan semuanya. Aku juga bertahan karena putri-putri kecilku.

“Masih kecil sudah tidak punya Ayah, apa kata tetangga?,”

Aku tak kuasa.

***

Aku hanya membaca pesannya tetapi tidak membalasnya, pikiranku kacau seperti kapal pecah, perasaanku risau dan dadaku sesak sekali rasanya. Tanganku gemetar, kakiku goyah, benar-benar ingin membanting handpone tulalit itu. Apa yang selama ini kutakutkan telah menjadi kenyataan. Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur.

“Apakah sudah bulat keputusanmu itu, Mas?,” ucapku dalam panggilan telepon.

“Sudah,”

“Jangan hubungiku lagi, urus saja sendiri kedua anakmu itu,”

“Tapi, tapi Mas..,” tak sanggung kulanjutkan kalimat itu, airmata membasuh pipiku dan Sutarjo sudah menutup panggilan itu.

“Tet, tet, tet, nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi, mohon periksa kembali nomor panggilan ini.” Kuhubungi berkali-kali tak menyahut.

Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Bagaimana cara menghindar dari apa yang dipikirkan orang-orang tentangku dan kebejatan suamiku? Sejak awal pernikahan saja, kami sudah dikucilkan dilingkungan sekitar rumah. Kami mengontrak di sebuah rumah susun berdindingkan papan dan beralaskan tanah. Tanpa lampu, hanya lampu cimporong—sebuah lampu sumbu minyak tanah yang kecil, menemani kami setiap malam menjemput dirinya. Akhirnya, kuputuskan untuk pulang kerumah Ibuku karena sudah tidak sanggup membayar uang sewa kontrakan, anak-anak tidak tahu mau makan apa karena aku tak bekerja. Uang simpanan pun tak ada, cincinku satu-satunya juga sudah dijual untuk pengobatan Nini yang kejang demam dua hari lalu.

Aku malu menampilkan wajahku didepan Ibu, kakak dan adik-adikku. Aku melangkahi kakakku maksudnya aku lebih dahulu menikah daripada dia. Tapi apa mau dikata? Aku benci dengan kelemahanku—watak yang penuh iba, lugu dan bodoh bersatu padu. Bahkan hampir enam bulan setelah itu, tak ada pekerjaan yang menerimaku. Aku hanya bertumpu dan berpaku dari nafkah Ibuku. Untuk susu anakku saja tak bisa kuusahakan apalagi untuk imunisasi tak pernah kupikirkan, itulah sebabnya anakku jadi sakit-sakitan. Aku tak punya banyak persiapan tentang pernikah. Otakku dangkal.

Angin bertiup kencang memporak-porandakan hidupku. Semua harapan gugur tanpa kuperintahkan. Dan mulai gila ditampar berkali-kali oleh kebodohan. Dan disaat yang lain ada puisi indah masuk melalui sms ke nomorku. Menjelang tidur dan bangun, setidaknya dua puisi kudapatkan setiap harinya, dari seorang misterius, tak mau menyebutkan namanya.

“Maaf ini siapa ya?,”

“….” tak ada balasan.

“Apakah salah kirim?,”

Aku tak ambil pusing tapi cukup membuatku penasaran.

“Kalau terganggu blokir saja nomornya, masukkan ke daftar hitam, Sari,” pesan Rani kepadaku, ketika aku menceritakan kisah itu kepadanya, Rani sahabatku sejak SD.

“Tak usahlah, biarkan saja, aku suka puisinya.”

“Terserahmu saja.”

Selang seminggu kemudian tersiar kabar yang menggemparkan bahwa aku pergi berdua dengan seorang duda, beranak lima, ia masih punya istri tapi sakit-sakitan. Katanya, ia ingin menceraikan istrinya dan menikahiku. Tapi syaratnya, harus menikah di Jakarta. Jarak Jakarta-Panyabungan adalah tiga hari tiga malam dengan bus jalur darat. Aku mempertimbangkan syarat itu. Aku menemuinya lengkap dengan polesan riasan wajah, maskara, bulu mata, lipstik merah merona yang tebal dan pakaian seksi tentunya. Sengaja, aku bosan. Masih muda, hidup hanya dihabiskan mengurus dua anak yang kerjanya menangis terus. Semua tetangga tahu bahwa setiap hari aku selalu berteriak dan memarahi anak-anakku. Aku benci melihat mereka. Melihat mata Nana dan bibir tipis Nini yang seperti Sutarjo. Mereka mirip ayahnya tak ada yang mirip denganku.

“Tak tahu malu, dasar janda,”

“Memang begitu, kalau janda sukanya genitin suami orang,”

“Dasar pelakor,”

Dengan cepat semua rumor itu merayap seantero kampung. Aku sudah meminta izin kepada Ibu untuk menikah lagi tapi Nana dan Nini tidak kubawa. Karena calon suamiku tidak mau membawa anak ke rumahnya.

“Tak usah ya, Ibu tak menganggapmu anakku lagi kalau kamu pergi menikah lagi,” suara Ibu lirih dan pasrah.

Akhirnya, kuputuskan tidak pergi. Pada malam yang tak menentu, berantakan, aku cemas memikirkan diriku sendiri. Hari berikutnya, ada yang menawarkanku buruh cuci di salah satu rumah makan. Dan aku menyanggupinya. Kuharap, Sutarjo karam didasar lautan ditelan hiu besar, mati kedinginan.

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..