GALAU

Cerpen By Nanda Sri Wahyuni

Sepi. Ketika  Fajar mulai memajang pesona sinarnya, menyingsingkan senyum lebarnya yang  gembira, ia ingin segera bangun dari tidur lelapnya. Tapi entah mengapa, kesedihan membalut hatinya. Dibalik awan ia mengintip malu-malu. Sepertinya ia ketakutan, enggan ataupun tak ingin membuka kedua bola matanya yang lentik itu. Ia harus berpikir dua kali untuk melirik dunia. Namun, mengapa? Apa yang terjadi dengan Fajar? Melihat alam semesta dan jagad raya dengan segala estetika yang menawan dan sungguh memikat seharusnya menyenangkan. Semuanya lukisan mahakarya yang luar biasa! Tak ada hak ku untuk menafikan itu, bahwa semua goresan karya ini harus kami syukuri. Nikmat yang  begitu nikmat. Semua ini milik Allah.

“Huufffttt….!!!”, ku tarik nafasku dalam-dalam dan perlahan ku hembuskan kembali dengan perlahan. Aku masih terheran-heran. Bumi hari ini tak secerah hari-hari kemaren. Mendung.  Mentari  ngambek lagi kayaknya . Ia, dia punya dua nama, ketika langit masih samar-samar, antara gelap dan terang, dia bernama Fajar.Tapi ketika sudah terang, dia bernama Mentari. Karena melihat kelakuan Mentari yang begitu mengherankan. Aku, manusia antah berantah yang berada di bumi lekas bertanya kepada Mentari.

“Mentari, mengapa kau hanya sembunyi dibalik awan?,”

“Aku merindukanmu”.

Kau tahu? cahaya kuning bersih nan  indah yang kau pancarkan sangat bermanfaat. Ketika kau membagi cahaya panasmu, tubuhku terasa hangat dan bersemangat. Aku bertenaga lagi seraya Ironman. Hehehe. Semangat pagimu alirkan degup kehidupan menjalari tubuhku. Dedaunan rimbun yang sejuk kau bantu berfotosintesis tanpa pernah meminta imbalan.

“Aku sangat senang sekali,yey”.

“Aku ingin kita selalu bersahabat selamanya, apa kau mau?” tanyaku penasaran.

“Ya.. dari dulu kau sudah aku anggap sahabat ku, sahabat baikku,” jawab Mentari tersenyum malu-malu tapi mau.

“Lantas apa yang membuatmu seperti ketakutan melihat alam ini, duhai sahabat baikku yang periang?”

“Aku tidak suka jika aku, kamu, semuanya diperlakukan seenaknya saja, mereka tidak memiliki perasaan ingin menjaga, lupa bersyukur kepada Sang Pencipta,” balas Mentari dengan nada kesal.

“Apa maksudmu, sahabatku? Mau kah kau menjelaskannya kepadaku?”

“Ya, akan ku jelaskan padamu, sahabatku.”                                                                    

                *******

Camar-camar menari sekonyong-konyong di udara. Mereka bersuka ria. Suara nya merdu sekali, apalagi jika didengarkan dengan posisi yang lebih dekat dengan mereka, tepat di bawah pohon rindang, pagi hari. Ya, pagi hari ada waktu yang tenang untuk memulai hari dengan nyanyian. Aku senang suasana ini. Mereka selalu hinggap di ranting-rantingku. Mereka bertengger bahagia menceritakan hal-hal yang membuat mereka bahagia pada hari itu. Selayaknya seorang sahabat, jika sahabatku bahagia aku juga turut ikut bahagia.

Selayaknya seorang sahabat, jika sahabatku bahagia aku juga turut ikut bahagia.

Aku bisa merasakan apapun yang mereka rasakan. Karena aku habitat mereka. Bersama ku mereka dari kecil hingga sekarang. Aku melihat metamorfosa hidup mereka. Rasa sayangku pun tak tergambarkan lagi. Setiap hari kami bermain dan bergembira. Ku pandangi  sahabat-sahabatku itu satu per satu, berkejar-kejaran ria dengan suka cita. Bunga-bunga kembang berwarna warni sangat menarik untuk didekati. Duduk disampingnya saja sudah membuat bahagia. Sehingga kupu-kupu pun tak jemu-jemu untuk hinggap mengambil nektar-nektar bunga-bunga cantik itu.

Meskipun aku hanya terdiam menatap tingkah aneh, tingkah konyol tapi seru sahabat-sahabatku itu, mereka lebih dari apapun bagiku. Mereka sudah adalah keluarga berharga. Mereka yang memberi pelangi dalam hidupku.

Namun, tiba-tiba suara derum kendaraan sahut menyahut saling beradu mengusik fajar sejuk yang ku rindukan.

Mungkin ini maksud dari tingkah aneh Mentari. Beberapa bulan yang lalu, lahan kami dibuka oleh seekor gajah kuning yang besar. Dia merasa sangat gagah sekali dengan belalainya itu. Tanpa ampun memporakporandakan semuanya. Ya, traktor besar yang dikemudi manusia serakah telah memakan lahap-lahap lahan kami. Teman-temanku tumbang satu persatu, mereka menjerit-jerit kesakitan, tubuh mereka di gergaji alat-alat tajam, darah mereka tumpah bersama getah keperihan. Aku hanya bisa menangis, melihat dari kejauhan. Apa yang bisa dilakukan sungai kecil sepertiku. Kami hidup di kaki gunung. Tapi kini rumah kami sudah menjelma menjadi perumahan-perumahan, gedung-gedung pencakar langit menabur dimana-mana.

Ketika fajar tiba, orang-orang mulai sibuk dengan urusannya. Bergegas meninggalkan dinginnya peraduan. Suara kendaraan terdengar riuh pikuk, hingar bingar, tak pernah berhenti hingga malam tiba. Seolah sudah menjadi musik latar pengiring yang melengkapi setiap untaian melodi reot bertemakan kesibukan, ambisi dan kepenatan. Kepulan asap terlihat terus naik perlahan mencoba menaklukkan tingginya langit. Langit biru cerah kini berhiaskan awan hitam korban asap-asap pabrik, polutan yang tak berpendidikan. Begitu juga dengan lautan biru yang dulu bersih dan indah menawan, kini berhiaskan pernak-pernik beraneka warna buatan manusia yang biasa mereka sebut dengan sampah. Sampah berserakan tak ada yang pedulikan.

Sungai-sungai yang dulu dipenuhi ikan warna-warni kini mati tak berdaya, sampai tubuhnya jika dibelah dipenuhi sampah beraneka ragam. Bahkan permukaannya sudah tidak terlihat lagi karena bungkus kadonya adalah sampah. Bertumpuk-tumpuk sampah yang bergerak perlahan menuju hilir seperti kereta api, tapi kali ini tak ada ujungnya. Ingin rasanya kubunuh orang-orang ini satu persatu. Orang-orang yang setiap hari memberiku sampah dengan kejam tanpa memikirkan perasaanku. Bau yang meyengat karena busuk, tertumpuk dan tergenang. Mengendap dan diabaikan. Aku tak bisa mengalir jernih, suara deras yang merdu itu hilang, tak seperti dulu lagi. Mereka tidak tahu aku rindu? Mana peduli manusia denganku. Karena yang mereka lihat sekarang, aku tak penting dan tak genting. Entah lah, aku hanya bisa pasrah sambil terus sabar berjam-jam, berhari-hari dan bertahun-tahun melalui waktu dengan manusia yang semena-mena.

Karena hanya sedikit orang yang peduli pada sampah, padahal jika manusia-manusia serakah itu memutar otaknya sedikit saja sampah-sampah itu bisa menjelma menjadi rupiah dan bisa juga membawa keuntungan untuk tanaman-tanaman mereka. Ah, sudahlah, jangan kan sampah, tanaman, bunga atau sejenisnya saja sudah tak lagi berharga. Ini sebuah energi dan kekuatan yang besar. Budaya membuang sampah dalam badanku, badan sungai, tepi sungai, hilir atau hulu, sama saja. Itu semua adalah bagian dari diriku. Sungai bukan ada dari beberapa hari yang lalu tapi sudah sejak berjuta-juta tahun yang lalu. Apakah aku harus menunggu tindakan pemerintah? Ku tertegun dalam kegaduhan. Ya, tak bisa dipungkiri tindakan tegas mereka yang diperlukan sekarang. Karena mereka wakil rakyat dan apa yang mereka katakan tentunya akan mudah di terima masyarkat. Tidak, kepada wakil rakyat pun warga sudah tak lagi hirau. Tak usah ya bawa-bawa pemerintah, setelah mereka menjabat, semua janji raib ditelan angin. Jadi, siapa? Harus bagaimana?

Seorang temanku, dia adalah salah satu sungai di Singapura pernah cerita kepadaku, warga-warga di sana itu patuh dan taat pada peraturan, walaupun tong sampah berada sekitar 20 meter jauh dari mereka, mereka akan tetap kesana untuk membuang sampah karena sudah dibudayakan. Dan juga ada beberapa negera yang dengan bijak meminta denda bagi mereka yang membuang satu sampah saja yang tidak pada tempatnya. Ya, begitulah mereka. Budaya itu dibentuk, tidak mutlak selalu di sambung tangankan.

Dan jauh dari pada itu, jelas sudah, bukan harus menunggu kebijakan dari pemerintah saja kan? Manusianya juga harus mulai bijak pada dirinya sendiri. Sadar dampak dan maanfaat jika merawat dan menjaga kami, lingkungan tempat tinggal mereka. Apakah itu yang disebut dengan khalifah? Apakah itu yang disebut manusia? tanyaku heran. Aku memang hanya sungai kecil tapi percayalah kaum pohon, kaum sungai atau kaum hewan dan tumbuh-tumbuhan bisa berbicara sesama mereka. Manusia yang katanya, bukan katanya, tapi benar dalam Al-Quran dijelaskan, bahwa makhluk paling mulia di muka bumi adalah manusia. Makhluk yang  memiliki akal untuk berpikir, memiliki hati untuk bisa merasakan! Makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara makhluk-makhluk Allah lainnya. Makhluk yang bahkan malaikat pernah bersujud padanya.

Tapi apa? Mereka meracuniku dan hampir-hampir membunuhku dengan sampah mereka. Mereka menyiramiku dan membasuh sekujur tubuhku dengan limbah industri, pabrik, limbah rumah tangga sampai efek detergen menitipkan zat-zat toksik bercampur dengan sungai, mengandung berbagai zat kimia yang siap sedia membunuh semua ekosistem sungai seperti ikan dan tumbuhan air. Hingga bermuara ke laut dengan ekosistem yang lebih luas. Sungguh menjijikkan, itu semua dari pabrik-pabrik yang mereka dirikan dengan bangga. Egois bukan main, kawan!

Bahkan mereka lupa tanpa air mereka bukan apa-apa. Padaku semua jenis kotoran mereka di salurkan. Dariku, air sawah untuk menanam padi menjadi beras dan diolah menjadi nasi yang mereka makan. Jika sungai kering siapa yang panik dan resah? Inikah balasan mereka untukku? Sedikitpun mereka tidak menghargaiku! Hiks. Tahukah mereka kalau aku marah? Aku adalah unsur kehidupan! Mereka membutuhkanku untuk hidup. Tapi aku sama sekali tidak butuh mereka. Mereka tidak akan bertahan di muka bumi ini tanpa kehadiranku. Namun aku akan baik-baik saja tanpa kehadiran mereka, bahkan aku akan menjadi lebih baik tanpa kehadiran mereka yang tak bijaksana. Tidakkah mereka ingat ketika aku marah? Ketika ku terjang dan kuhantam kediaman mereka, ku hempaskan pemukiman mereka dan kutenggelamkan separuh daratan. Mereka berlarian kesana kemari, seperti kawanan semut yang menyelamatkan diri. Tahukah mereka kalau aku menutupi tiga per empat permukaan bumi ini? Aku pernah menutupi seluruh permukaan bumi ini, dan aku bisa melakukannya lagi kalau Tuhanku mau. Aku tidak butuh manusia.

“Aku tidak butuh kalian!!!”, ketusku dalam hati.

Daun-daunan pun berguguran kemudian terurai berarak di terbangkan angin dalam kegaduhan hatiku. Ku harap diantara keheranan ini kesejukan dan permai yang akan menyelimuti dan semuanya di hari-hari mendatang. Hingga Mentari pun datang menghampiriku dengan senyuman merekah yang indah.

Salam,

0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..