Bebas

Pada pagi yang sejuk di awal musim semi, ketika bunga pertama mekar, otot terbang tawon besar akan berkontraksi dengan cepat, seperti otot manusia yang berkontraksi cepat ketika menggigil. Panas yang dihasilkan oleh otot-otot yang berkontraksi akan menghangatkan lebah itu hingga suhunya mencapai lebih dari 30ᶹC, suhu dimana sayapnya dapat mengepak cukup cepat untuk dapat terbang. Kemampuan yang luarbiasa ini menyebabkan tawon besar mampu mencari makanan di saat sebagian besar serangga lain tidak mampu bersaing dengannya untuk mendapatkan sumberdaya karena suhu sekeliling sangat dingin. Pencarian makanan, pembangkitan panas tubuh, pemberian respon terhadap stimulus (rangsangan) eksternal, dan semua aktivitas-aktivitas  memerlukan bahan bakar dalam bentuk energi kimia. Kemampuan menjadikan diri agar cukup hangat untuk bisa terbang pada musim dingin bergantung pada kemampuan tawon besar untuk mendapatkan cukup bahan bakar, paling tidak menyamai laju penggunaan energi kimia oleh sel-sel tubuhnya.

Pada pagi yang sejuk pula di awal semester satu, ketika pohon-pohon yang kering mulai menghijau kembali, aku bersemangat menyambut hari-hari setelah masa orientasi pengenalan kampus selesai. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal kecil apapun terjadi karena kebetulan. Seperti tawon besar yang mempunyai kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dingin dalam jangka panjang, aku juga harus cepat beradaptasi dengan lingkungan baru ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, seleksi alam akan berlaku disini. Minggu pertama adalah minggu yang cukup berat bagiku. Bangun pagi-pagi sekali sebelum adzan subuh sayup-sayup berkumandang dan pulang ketika magrib datang. Ibu sudah pulang ke kampung halaman setelah mengantarku masuk asrama dan menemaniku memberi perlengkapan-perlengkapan untuk tinggal di kota yang penuh gemerlap ini. Sebuah kota baru yang masih sangat asing bagiku, Medan. Penuh gemerlap bunyi klakson yang panjang,  kemacetan yang cukup membosankan dan banjir setiap hujan.

Hari minggu, sehari sebelum masa orientasi mahasiswa baru dimulai, kami semua di kumpulkan di aula Fakultas Kedokteran bersama para kakak kelas. Ternyata perkumpulan itu semacam Taa’ruf akbar yang pernah kurasakan dulu di masa putih abu-abu. Adik-adik junior akan melakukan apapun perintah dari kakak senior dan mau tidak mau semua harus di turuti jika kau tidak ingin mencari-cari masalah. Dan dihari itu juga adalah hari pertemuanku kembali dengan abang kelas yang menyambutku dulu ketika daftar ulang SNMPTN. Aku lulus dari jalur undangan. Mendapat beasiswa uang kuliah dan diberi tunjangan perbulannya.

Bang Andri, abang dari organisasi Persatuan Mahasiswa Tabagsel Fakultas Kedokteran. Tinggi, baik dan juara silat nasional. Aku bersyukur mengenalnya, karena dia aku tak di suruh oleh kakak senior. Aku cukup duduk di sampingnya dan siapapun tidak ada yang berani memanggilku. Tapi berbeda dengan temanku, Kiki dan Titi kami berasal dari kampung yang sama. Abang kelas menyuruh mereka untuk mengukur keramik dengan pulpen dan mereka mau-mau saja, mungkin mereka sudah sangat ketakutan. Aku hanya diam melihat mereka. Tapi, setelah itu kami disuruh untuk menyanyi lagu dangdut trio.

Entah kenapa aku tak bisa berhenti tertawa ketika menyanyi sementara kedua temanku itu masih tetap terus menyanyi. Dan yang paling menarik, kami di ajari salam dewa dewi. Yaitu suatu gerakan seperti ular, mendesis dengan kaki setengah di tekuk. Lebih setengah jam salam dewa- dewi membuat kaki dan tangan pegal sekali. Tapi itu seru, mungkin sampai nanti pengalaman itu takkan pernah ku lupakan. Kenapa ular? Karena symbol kedokteran adalah ular yang melingkar disebuah tongkat. Konon ceritanya dewa Asclepius percaya bahwa ular bisa dipakai sebagai penyembuh. Kemudian ular yang berganti kulit dianggap sebagai simbol kelahiran Kembali atau pembaharuan. Sehingga ular yang melingkar di tongkat itu merupakan simbol penyembuhan.

“Catat dengan menggunakan tangan kiri. Besok bawa papan nama menggunakan kertas karton yang dilapisi kertas jeruk, isi identitas kalian beserta foto kemudian tali penggantungnya adalah tali plastik yang di kepang.

“Mengerti?,” ucap kakak senior yang entah siapa karena kami disuruh tunduk, tunduk dan tunduk.

“Mengerti kak,” jawab kami keras-keras karena sudah kesal.

“Kemudian bawa softex isi telur, darah merah dan larutan fisiologis,” sambung kakak yang sama.

“…..” Aku bingung dan bertanya-tanya entah apa yang di ucapkannya. Aku hanya menuliskannya saja. Tulisanku pun tidak ada yang terbaca karena aku tidak mahir menulis dengan tangan kiri. Sesampai di asrama aku bingung. Tapi ku ketahui kemudian dari teman-teman seangkatan bahwa softex isi telur itu maksudnya roti dengan isian telur, darah merah itu sirup marjan berwarna merah dan larutan fisiologis itu pocarisweet. Kreatif memang dan membuatku sedikit tertantang. Semua itu kami bawa untuk makan siang masing-masing.

Hari berlalu, walau lelah menguasaiku, semua ini hal baru yang harus di lalui dengan semangat menggebu-gebu. Tibalah hari terakhir, masa orientasi mahasiswa, kami di minta untuk menulis surat cinta untuk Abang kelas. Tak ada yang terpintas di benakku, selain ingin memberikan surat ini kepada Bang Andri, pahlawanku.

Dear Bang Andri.

Sebab dikau, Abanganda.

Ketakutan terasa hilang. Harapan datang.

Hari-hari berjalan dan berlalu tak seperti biasanya.

Semua menjadi istimewa, luar biasa, perputaran matahari, desis angin, pergantian siang dan malam menjadi sangat mempesona.

Berangkat MOS pagi hari dan pulang di senja hari yang keemasan dengan melodi indah tak terperi.

Sebab dikau, Abanganda.

Pagi merubah ronanya menjadi ceria, kicau burung yang melompat dari ranting ke ranting yang merdu,  cahaya yang menerobos dedaunan kemudian masuk ke ventilasi jendela yang hangatkan tubuhku.

Juga desis angin yang biasa menggoyang pucuk pepohonan tetiba mekar,  ramah menyapaku.
Bahkan mentari pun naik di cakrawala yang di tutupi kabut tebal
dengan tanpa ragu.

Suasana yang begitu bahagia dan diselimuti semangat baru.

Terimakasih abangku, kau lah orang satu-satunya yang sangat peduli kepadaku betapa tak cantiknya pun aku.

Terimakasih karena sudah membawaku bebas dari ketakutan.

Setelah hari ini, aku bebas, melayang dan bermain bersama mimpi-mimpiku.

Medan adalah kota impianku dan semakin berwarna karena kamu.

                                                                                    Dari Adikmu, Dinda yang lugu.

“Mak, Pak.. putrimu masuk FK dan menemukan cinta pertama,” teriakku dalam hati.

Tapi ku merasakan teriakan itu keras sekali sampai menggema di rongga dadaku. Aku Bebas. Tidak lagi siswa SMA yang tinggal di asrama dengan peraturan tidak boleh pacaran dan guru-guru yang menyebalkan.

+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..