Setiap jenis kehidupan, mulai dari virus yang sederhana sampai pohon yang terbesar atau manusia yang paling rumit, mempunyai karakteristik fungsionalnya sendiri-sendiri.Kenyataannya bahwa kita sekarang ini masih tetap hidup hampir diluar kendali kita. Karena rasa lapar akan mendorong kita mencari makanan, rasa takut mendorong kita mencari perlindungan dan sensasi dingin akan mendorong kita mencari kehangatan. Dorongan lain akan membuat kita mencari teman hidup dan berkembang biak. Jadi, sebenarnya manusia bergerak secara otomatis.Semua ada reseptornya masing-masing.

Pada akhirnya, semua adalah hasil elektrifikasi dan reaksi kimia dalam otak. Bahkan ketika kamu jatuh cinta sekalipun itu adalah permainan reaksi zat kimia atau neurontransmitter dalam tubuh kita, seperti dopamin, norepinefrin, epinefrin dan lainnya. Dan mengapa kita dapat mengindera, merasa dan mengerti segala sesuatu?Itu merupakan rangkaian kehidupan yang berlangsung otomatis. Sifat-sifat khusus ini memungkinkan kita bertahan dalam berbagai macam kondisi. Dan sungguh ini adalah nikmat Allah yang tak bisa kita dustakan.

Begitu spesifik setiap unit terkecil dalam tubuh manusia, entah itu organ, jaringan, sel hingga materi genetik. Hal ini, sangat menarik bagiku, beberapa hari yang lalu aku baru saja selesai menonton 16 episode drakor yang berjudul “Romantic Doctor” season 2.Aku tertarik banget sama fakta bahwa rasa mual yang dirasakan Cha Eun Jae setiap kali di kamar mayat atau saat operasi bedah ternyata hanya gangguan pencernaan akibat tekanan psikis yang dialaminya. Dia pengen memberikan yang terbaik tapi sisi lain selalu ada perasaan tertekan.Cha Eun Jae sosok yang keren banget menurutku. Karena bisa ngelawan dan menyelesaikan semua ketakutannya satu per satu. Cha Eun Jae yang merupakan dokter fellow bedah kardiologi (jantung) berasal dari keluarga Ellit, yang keluarganya semua dokter.

Tapi sebenarnya, cita-citanya pengen jadi pemain biola. Keinginan orangtuanya yang selalu ingin ia menjadi dokter. Jadi, ia mati-matian belajar untuk diterima di Fakultas Kedokteran, setelah itu harus masuk bedah. Karena rata-rata semua dosen seniornya selalu meremehkan perempuan bisa menjadi dokter bedah. Yang dikit-dikit nangis, muntah dan ga kuat (kata mereka).

Suatu saat, profesornya bertanya,”Kamu ga ada niat buat nikah? Mending nikah aja sana, kalo udah nikah pasti sibuk ngurus anak, kamu ga ada waktu di ruang operasi,'”

Dan jika aku diposisi itu, rasanya sakit banget ya diremehkan sama orang lain, terlebih-lebih mengatasnamakan gender alias selalu perempuan dianggap lemah.Cha Eun Ja menjawab dengan tegas.

“Yang bermasalah itu saya, bukan perempuan. Jangan mengatasnamakan perempuan atas kelemahan saya yang muntah dan kabur dari ruang operasi!”

Mohon maaf, saya tidak bisa mengatakan bahwa saya pendukung kesetaraan gender. Tapi sebagai manusia kita selayaknya tidak mengucilkan orang lain terlebih membawa-bawa dia perempuan, lemah dan dia anak siapa.Balik lagi, rasa mual yang Cha Eun Ja rasakan itu timbul karena tekanan psikisnya dan secara fisiologis tubuh akan memberikan perlindungan secara Otomatis ketika merasa tertekan atau menganggap itu bahaya. Itu sebabnya, ada respon mual dan muntah.

Hal lainnya yang paling penting adalah tidak menjadi diri sendiri. Selalu menjadikan oranglain sebagai validasi bagi diri kita, tolak ukur kesuksesan kita, membuat kita benar-benar stress dan bisa-bisa depresi.

Kuncinya adalah yakin kepada kemampuan diri sendiri dan melawan keterbatasan itu dengan percaya diri.Berani mengatakan bahwa kita tidak nyaman ketika harus mengikuti semua kata orang-orang padahal kita ga suka.Kita tidak berhak memutuskan hidup oranglain, kita hanya sebagai orang yang mengarahkan jikalau melewati batas koridornya.

Pernah dengar hukum koi?

Tergantung dari akuarium atau kolam tempat mereka dipelihara, koi tumbuh dengan ukuran tertentu. Orang-orang melakukan sebaik apa yang mereka percayai, mereka menjadi sekuat yang mereka inginkan, dan tumbuh sebesar yang diakui. Lingkungan sekitar dan pola pikir yang kita pilih, akan menghasilkan perbedaan besar.

Hukum Koi
+1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..