Selamat Datang

Assalamualaikum NaFren/Nanda’s Friend..

Namaku Nanda Sri Wahyuni Pulungan. Teman-temanku sering memanggilku Nanda, tapi nama kecilku sejak dulu adalah Unik. Lahir sesudah masa anak cukup dua dari seorang ayah pendiam dan bijaksana yang mengajariku untuk jangan berhenti berjuang sebelum berperang & ibu yang tangguh, anggun, perkasa dan pantang menyerah. Tertanggal 31 Juli 1999 di suatu kelurahan mungil yang diberi nama Pasar Hilir bumi gordang sambilan, Mandailing Natal. Negeri beradat, taat beribadat. Sebagai anak pertama dari lima bersaudara. Si sulung yang selalu belajar menjadi contoh yang baik kepada empat adiknya.

Mungkin, hobby ku sejak dulu adalah belajar. Aku suka belajar. Aku suka banyak hal baru atau pemberontak terhadap hal-hal baru semacam obsesi untuk menantang diri menemukan jati diri. Salah satu dari sekian banyak itu adalah biologi. Hal kedua dari sekian banyak itu adalah puisi. It’s so complicated about my reason to like that. Faktanya, semasa SMA dalam Al-Quranku ku selipkan sepotong kertas yang berbunyi, “Biologi akan menjadi identitas yang kamu banggakan”. Aku sangat tertarik dengan genom, the blue of double helix DNA. Hal itu berlanjut dengan lulusnya aku di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara tahun 2017. Menjadi dokter bukanlah hal yang kurencanakan tapi terjadi begitu saja. Mungkin semesta mendukungku meniti jalan pengabdian untuk ummat. Ini rahasia kita saja ya, dulu aku ingin masuk fakultas sastra. Tapi ternyata,tak ada jalan kesana.

Aku tidak ragu akan munculnya kejutan-kejutan dahsyat dalam beberapa tahun mendatang. Dan untuk kesekian kali yang tak terhitungnya, setiap hari, setiap ilmu yang para guruku ajarkan, setiap buku yang kubaca, setiap hal yang kupahami kemudian dari kisah yang membingkai resah, membuatku sadar betapa sedikit pengetahuanku tentang diriku sendiri. Betapa dramatisnya lika-liku dalam hidup. Untuk mengerti satu hal, kita harus mengorbankan banyak airmata, duka, merana dan kesepian.

Dan puisi adalah Nanda. Nanda adalah puisi yang memintal emas dalam penanya. Mujahidah Pena. Puisi adalah dakwah. Puisi adalah konser kesunyian. Puisi adalah pemberontakan. Puisi adalah rasa. Puisi adalah cinta. Puisi adalah bunga mawar dalam topi pesulap. Puisi adalah siluet abstrak yang hadir dari kontemplasi teater dalam pikiranku. Puisi adalah imajinasi. Puisi adalah kreativitas dalam narasi, permainan bunyi dan curahan emosi.

Aku masih mengingat betul, perkenalan pertamaku dengan puisi. Aku benar-benar susah payah mengenalmu puisi. Duhai, itu sebabnya aku sangat susah melepaskanmu. Aku susah mengucapkan kata perpisahan kepadamu, puisi. Apakah kau mengenalku? Atau sampai nanti, kita tak pernah mengenal satu sama lain? Karena kita dalam ruh yang sama. Kita orang yang payah dalam hal mengenal diri. Kita seringkali bingung dengan mau kita. Tapi mereka selalu berkoar-koar dengan nada memaksa untuk segera memutuskan jalan. Dan jangan terlalu lama berdiri dipersimpangan cabang arah ketidakpastian. Aku pikir-pikir, hanya doa yang bisa kukirimkan kepada Sang Pencipta hati bolak balik ini. Of course, I enjoy every single thing that I have. Thank you, Allah.

Dalam ramuan kata-kata ku racik obat yang menemani sari-sari kerinduan dalam blog sederhana penuh makna, sastra dengan rasa, rumahku kembali, membangun esok hari, kenang-kenangan kepada manusia di bumi, nandsy.com.

Jangan lupa tinggalkan comment di setiap postingannya ya. Terimakasih banyak teman.