Hidup mungkin juga seperti plangiprop. Campuran dari jamur, cukai apel dan cabai membuat suatu sensasi ledakan meletup-letup dalam mulut.Plangiprop mengingatkanku akan hidup yang juga bisa berbentuk filamen panjang (hyphae) dan kusut semacam tikar menjelma mycelium pada jamur. Beberapa Hifa membentuk dinding transverdal(septate hyphae).

Ketika kita sudah berjalan panjang menjalani hidup, ditengah jalan pikiran kita menjadi kusut, tak berpikir jernih, emosi, marah dan ketika itu semua energi dan usaha kita kerahkan untuk bertahan, mau tidak mau kehidupan bisa merubah dirikita.Pada awalnya, kita adalah anak kecil, yg bebas bermain kemana saja dengan siapa saja tanpa takut. Kemudian setelah dewasa, kita membatasi diri, membuat septum, dinding pembatas dengan oranglain.Bisa jadi, karena kita takut disakiti oranglain/kehidupan, menjaga privasi atau tidak mau membuka diri.

Kita menjadi sangat protektif kepada apapun. Sampai lupa, hidup tidak semenyeramkan itu.Kemudian kita coba cukai apel, rasa asam yang segar. Ditengah jalan bisa saja kita bertemu dengan seorang yang sama penderitaannya dan akhirnya menikmati lara berdua membawa hawa baru yang tak pernah dirasakan sebelumnya.Cabai? Pedas tapi nagih. Ketika kita sudah menikmati hidup dengan segala bahagia dan sedihnya.

Kita jadi semakin sering tersenyum. Menikmati galau, sendiri dan sepi tak buruk.Aku pergi jalan-jalan ke mall, pasar, kemanapun sendirian dan lebih nyaman karena tidak ada oranglain yg harus dijaga perasaannya karena menungguku lama misalnya ketika sedang memilih barang yg ingin dibeli, ketika aku ingin makan lama tak ada yang mendesakku. Atau aku tidak akan membuat kesal mereka karena aku terlalu plin-plan dalam memilih.

Ketika aku sendiri, aku menikmati segala kekuranganku, aku menerima itu dan berbahagia merayakannya.

Jangan lagi, jangan menganggapku aneh-aneh.

+5

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..