Kamis, 19 November 2020

Beberapa minggu ini aku disibukkan dengan pembuatan blogku ini. Sebenarnya, membuat nandsy.com adalah salah satu resolusi impian yang ingin ku wujudkan sebelum 2020 berakhir. Entah karena apa dan tanpa alasan yang jelas aku ingin sekali membuat blog ini. Mungkin, sebagai kenang-kenangan bagi diriku sendiri dimasa mendatang atau jika berkenan menjadi bahan hiburan perenungan untukmu, masyarakat bumi yang ku kenal ataupun tidak. Semoga ada manfaatnya.

Mungkin, bagi sebagian orang ini adalah hal yang sepele atau tidak pernah terpikir sebelumnya dalam benaknya. Tapi, aku tidak, aku suka menulis. Sangat-sangat mencintai menulis. Entah kapan bermula, aku juga tidak tahu pasti. Sebenarnya aku udah punya blog yaitu nandsy.blogspot.com, awalnya aku memberinya dengan nama nandapuisi.blogspot.com. aku masih sangat ingat, pertama kali buat blogspot itu di warnet tak jauh dari rumahku yaitu akhir desember 2015. Dan sejak itu pula aku publish puisiku. Tapi tidak ku urus dengan baik blog itu karena waktu itu juga belum punya laptop dan hp juga masih tipe jadul. Tidak ada tujuan apa-apa dalam pembuatan blog itu, hanya agar puisi-puisi yang ku tulis dengan hasil begadang semalaman dan pikiran penuh perenungan seharian. Aku hanya menulis disebuah buku notes standard ukuran medium yang kubawa-bawa kemanapun ku pergi. 

“Aku takut lupa.”

Nanda Sri Wahyuni

Tapi yah memang betul, aku sangat pelupa. Pernah beberapa kali, bukan, sangat sering malah, sebelum berangkat kuliah lupa bawa buku, lupa bawa tempat minum dan paling sering lupa letakin ikat rambut dimana. Hahah. Sampai adik-adikku sangat kesal dengan pertanyaan yang ku ulang-ulang itu. Setiap hari ada setidaknya lebih tiga kali aku menanyakan tentang itu. Apa tidak kesal ya.

Hari ini, mungkin umurku 21 tahun. Semua mimpi masih terasa jauh memang tapi prinsip yang selalu ku pegang adalah setidaknya aku telah memulai. Aku tidak naif untuk berharap lebih harus dikenal semua orang dan punya fans dimana-mana. Aku juga takut tidak bisa memberikan yang terbaik kepada mereka. Hari ini, sudah lima tahun sejak pertama kali aku memulai untuk belajar menulis. Mungkin lima tahun kedepan atau sepuluh tahun? Dua puluh tahun? Atau sampai aku meninggalpun tulisanku tidak banyak yang memperdulikan, tidak apa. Tapi berharap sekali, anak-anakku nanti membaca ini. “Ibu, takut lupa nak. Ibu takut nanti saat kau beranjak dewasa, ibu ga ada disampingmu karena ibu tahu tidak enak rasanya kesepian dan sendirian. Itu sebabnya ibu menulis. Ibu merasa ada teman. Dan ibu tidak sendirian.”

Pertama kali dapat tugas dari guru bahasa Indonesia untuk menulis diari itu kelas dua smp. Hahaha. Paling ingat sama kosakata  ‘perut keroncong’. Karena di diari itu kami disuruh untuk mengganti beberapa kalimat yang umum dengan kalimat yang seperti mempunyai majas atau sinonim yang lebih baik. Mungkin, waktu itu aku menuliskan tentang aku yang tidak suka olahraga tapi masih terus mengikuti kata guru walaupun perut udah keroncongan. Walaupun sulit, tapi cukup menantang bagiku. Mungkin, tanpa sadar aku menyukai pelajaran bahasa indonesia.

Oke, back to topic. Aku sama sekali tidak mengetahui dunia blogger ini. Dan semakin kesini, aku semakin memahami bahwa memang semua memiliki ilmunya masing-masing. Menjadi blogger juga bukan asal tulis aja, ternyata harus paham SEO, analisis trafik pembaca, buat konten yang menarik gimana. Sama halnya juga, dengan dunia youtuber dan medsos. Semua ada caranya biar video kita diklik, pembukaan videonya gimana, editingnya, desain sampul banner blog atau youtube, juga memikirkan logo, motto sampai pemilihan warna. Dan aku tahu, aku tidak bisa banyak hal. Hahahah.

Tapi satu yang aku tahu, manusia bertumbuh. Dan ku harapkan semakin bertambahnya hari, semakin aku bertumbuh, semakin banyak yang ku tahu bahwa aku tidak tahu. Cara pandangku berubah selama pandemi ini. Aku juga berterimakasih akan hikmah dari kejadian pandemi COVID-19 ini, akhirnya, aku bisa melakukan hal yang tidak bisa kulakukan selama ini. Selama tiga tahun kuliah, aku ga pernah ikut lomba-lomba ilmiah karena setiap lomba pasti butuh desain poster, edit video edukasi dan selalu saja aku menganggap bahwa diriku tidak bisa. Padahal, aku saja yang tidak mau mencobanya. Dan aku coba ikut desain poster, hasilnya tak terkira, juara satu dipercobaan pertama dapat hadiah pulsa seratus ribu. Itu sudah sangat lumayan buat beli paket, guys. Heheh.

Setelah itu, keputusan ku bulat untuk buat blog, cukup mahal bagiku untuk beli domainnya tapi itu harga normal menurut pasar. Dilihat dari sisi lain, aku juga belum punya gaji atau pekerjaan. Semoga blog ini bisa jadi investasi masa depanku, aamiin.

Aku suka ketika dapat hadiah karena aku menulis. Hadiahnya adalah kelegaan dalam hati. Lebih plong. Aku senang menulis, itu aja sih. Apa sih yang bisa ku dapatkan? Ga ada. Sampai sekarang aku ga pernah dibayar untuk menulis di blog, untuk buat konten menarik di medsos, youtube dan lain-lain. Tapi kenapa aku begitu semangat ya? Kadang waktu yang seharusnya untuk belajar ku habiskan untuk menulis. Mudah-mudahan semangat ini bukan cuman di awal-awal saja ya guys.

Ini blog buat liat progres menulisku, proses kreatif Nanda Sri Wahyuni, heheheh. Kalo diliat dari hasil karya-karya yang dulu sampai sekarang, semua mengalami diferensiasi ya, perubahan dari waktu ke waktu. Semua mulai dari nol dan terus menaiki anak tangga.

Kalau diliat dari hasil karya-karya yang dulu sampai sekarang, semua mengalami diferensiasi ya, perubahan dari waktu ke waktu. Semua mulai dari nol dan terus menaiki anak tangga.

Nanda Sri Wahyuni

Oiya, aku suka kata-kata yang ada dalam buku  When Breath Becomes Air dibawah ini:

Alih-alih kesuksesan, aku lebih terdorong oleh upaya memahami dengan sungguh-sungguh: Apa yang membuat kehidupan manusia bermakna?
Apakah benar kebahagiaan adalah tujuan hidup?

Pikiran hanyalah hasil kerja otak. Walaupun manusia punya kehendak bebas, kita juga organisme biologis–otak adalah organ, tunduk pada semua hukum fisika juga.
Kesusastraan memberikan berbagai penuturan mengenai makna menjadi manusia; maka otak adalah mesin yang entah bagaimana memungkinkan itu.
Rasanya seperti sihir.
Ya, kata-kata itu sihir yang membuat mu lupa akan dirimu sendiri jika kau mendalaminya.

Kesusastraan memberikan penuturan terbaik mengenai kehidupan pikiran, sementara ilmu saraf memaparkan peraturan-peraturan otak yang paling elegan. Bermakna walaupun merupakan konsep yang rumit.

Penderitaan bisa menjadikan kita kebal terhadap penderitaan nyata oranglain. Conrad, atas pemahamannya yang sangat peka mengenai betapa kesalahan komunikasi diantara orang-orang bisa begitu berdampak terhadap kehidupan mereka.
Kesusastraan bukan hanya menjabarkan pengalaman orang lain atau dirinya sendiri, melainkan aku yakin juga memberikan materi terkaya untuk perenungan moral.


Jika kehidupan yang tak disertai pemahaman tak layak dijalani, apakah kehidupan yang tidak dijalani layak dipahami?
Ada momen, titik puncak, ketika jumlah total pengalaman yang terhimpun digerus detail-detail kehidupan.Kita tak pernah sebijak ketika hidup dalam momen itu.
Sebuah kata menjadi bermakna hanya diantara orang-orang tertentu, berkaitan dengan kedekayan yg kita bentuk.
Aspek hubungan manusialah—yaitu “keterhubungan manusia” yang melandasi makna.
Dan entah bagaimana proses ini berlangsung didalam otak dan tubuh kita.


Aku menyukai sastra. Aku menyukai puisi. Tapi masih belum mengenalnya secara keseluruhan. Tapi tak seperti menyukai diriku sendiri. Bedanya, aku menyukai diriku sendiri dalam diam tapi aku menyukai puisi terang-terangan. Kau perlu belajar Nanda. Lebih banyak lagi. Agar suka berubah menjadi cinta. Dan cinta membuatmu tak ingin jauh darinya.

Sekian dulu ya ceritanya, kapan-kapan kita sambung lagi. Tetap semangat, Nandaku sayang. Jangan mudah menyerah ya. Sedikit lagi, kita sampai.

With love,

Nanda Sri Wahyuni (21th)

+2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..