Aku kadang kesal kepada diriku sendiri jika tahu aku sebodoh itu. Ya, memang aku cukup bodoh. Dan ini bukan pengetahuan yang dibuat-buat. Tapi menurutku, seseorang yang memanfaatkan kepintarannya untuk membodohi oranglain demi kepentingan orang lain dan parahnya itu untuk alasan uang belaka, dia jaug lebih bodoh. Aku tahu, bukan hakku untuk mengatakan itu. Aku hanya sedikit kesal. Bukan, cukup membuatku tertantang belajar lebih banyak hal lagi agar aku tidak buta, tidak melek informasi dan kabur tentang kompetisi didunia persilatan teknologi ini.

Ya, aku kesal dengan ketidaktahuanku. Aku kesal kenapa dulu aku tidak ada keinginan sedikitpun untuk membuka mata dengan skala yang jauh tidak hanya sebatas rutinitas dan lingkup yang kupelajari. Masalahnya, itupun, tak tuntas alias remedial. Apa yang aku kuasai dengan pro? expert? tidak ada. Aku ini sangat plin-plan. Tidak jelas dan menyebalkan sudah pasti. Dikasih saran malah sewot, itulah aku. Si pesimis yang sering menolak dirinya sendiri.Dan itu lebih menyakitkan daripada ditolak orang lain. Aku tak bisa terus-terusan meminta orang lain untuk menasehatiku jika si pesimis dalam diriku mendominasi, tak ada yang tahan. Aku saja tidak tahan dan kewalahan bagaimana cara keluar dari pikiran-pikiran itu.

Berbagai cara sudah dilakukan semacam try dan error, tapi tetap saja ada yang merasa dikorbankan dan memilih menghilang. Kenapa ya? Semua seolah tak bermakna. Hari-hari yang dilalui, diskusi-diskusi yang diselesaikan dan pertemuan-pertemuan yang dilakukan tak cukup menulis sebuah kenangan manis dalam ingatan. Tiba-tiba semua tak saling kenal, menghilang dan perlahan saling melupakan. Kamu dengan urusanmu, aku juga begitu. Menanyakan kabar sudah tak begitu penting di jaman ini. Apa gunanya coba? Semua orang gila-gilaan mengejar masa depannya, takut tak punya kerjaan, takut ga punya uang. Atau hanya aku yang merasa untuk mencapai sesuatu tak perlu dengan membuang sesuatu, masih banyak jalan tapi tidak dengan perpisahan. Namun, jika memang sudah tak lagi tahan dalam lingkungan yang kau anggap racun itu, tak ada juga yang melarangmu pergi. Itu pilihanmu dan kamu bebas memilih.

Hidup adalah sekotak kado rahasia yang tak perlu tergesa-gesa kita buka.

Akhir-akhir ini, aku merasa cukup. Aku bahagia dengan kesederhanakan. Menyederhanakan pemikiran ternyata menenangkan. Selama ini, aku terlalu takut. Aku takut menghadapi kenyataan pahit. Aku takut terluka dan menangis karena orang-orang melukaiku dengan kejam hingga aku tak selera makan, tak mau mandi apalagi belajar. Hanya tidur sembari berusaha menganggap semua rasa sakit itu mimpi dan tidak nyata. Itu hanya pelarian saja.

Nyatanya, hidup memang harus dihadapi karena hidup adalah penderitaan. Kita melakukan sesuatu juga akan dibalas. Aku memilih untuk terus berjalan, tidak apa pelan-pelan saja. Berhenti sejenak ketika lelah dan melanjutkannya kembali sembari menyiapkan amunisi dan motivasi. Menyederhanakan hidup. Minimalism. Baik itu dalam ambisi atau kehidupan sehari-hari, aku juga tidak begitu tertarik dengan hal-hal yang diinginkan gadis seusiaku. Tas mewah? Aku tidak punya, lebih senang tas ranselku itu. Sepatu tumit yang mengkilap dan mahal? tak ada juga. Make Up juga tidak punya dan gak bisa juga makainya.

Semoga kelak kamu sadar bahwa seluruh dunia menyanyi merdu untukmu lewat puisi. Puisi apasih harganya? Cuman saya suka. Menulis apa sih gunanya? Hanya saya merasa ada yang mendengarkanku tanpa menghakimiku. Dia menerimaku dengan segala kebawelan dan kegelisahan ini tanpa menuntut apa-apa. Terkadang, kadang-kadang ya, bukan absolut, lebih senang ngomong sama tembok ini, dinding menulis ini, daripada dengan manusia.

Tapi, sejujurnya, kamu akan suka kalau melihatku bercerita karena mataku akan berbinar bahagia. Aku cerewet, suatu saat kamu akan rindu. Jangan menyesal, jika sudah tak melihatku lagi.

Lihatlah, emosiku begitu cepat berubah ketika menulis. Di baris awal, aku kesal, kini di akhir kalimat ini, aku lega dan sudah ingin tidur. GutNite!

+4

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..