Hai, selamat berjumpa kembali dengan Nanda, kali ini aku mau ceritain gimana proses kreatifku selama menulis. Oiya, mau minta maaf dulu, kalau tulisan dibawah ini tidak menggunakan bahasa baku ya. Ini, aku tulis, ngalir aja yang terpintas dipikiranku. Oke?

Ada beberapa yang nanya, gimana sih cara nulis? Susah banget, idenya dapat dari mana? Itu kakak biasanya baca berapa buku? Aku ga bakat nulis, tapi pengen coba..

Oke, jadi cerita nya dulu tuh aku ga minat sama sekali baca novel apalagi puisi.

Semua berawal dari waktu SMP, ketika dapat tugas dari guru bahasa indonesia buat resensi buku. Yang mengharuskan aku harus berkunjung ke perpustakaan dong, saat itu aku baca buku tipis banget tentang sampah. Tapi saat itu masih belum tertarik sama novel atau bacaan sejenisnya, ke perpus cuman untuk tuntutan tugas itu aja.

Tapi suatu ketika terjadi banjir dan banyak buku2 yang basah dan kotor karena digenangi lumpur. Kami akhirnya ga belajar, tapi gotong royong bersihin sekolah.

Nah, disitu aku ikut bersihin perpustakaan. Ada beberapa buku yang ku pinjam. Salah satunya adalah Edensor- novel tetralogi laskar pelangi Andrea Hirata. Sebelumnya sih, pernah ada satu buku yang berusaha banget aku selesaikan yaitu Surat Kecil untuk Tuhan karya Agnes Davonar. Buku itu booming banget kan dulu, tapi aku juga baca buku itu karena minjam sama teman, segan juga kalau minjam kelamaan, makanya aku buat deadline untuk membacanya, aku ingat banget. Buku itu sampe aku bawa waktu bersihin halaman, abis gantian cangkul rumput sama ibu, aku lanjutin baca. Masih samar-samar sih, tapi kayaknya itu buku pertama yang buat aku jatuh cinta. Seperti kata mbak Najwa Shibab, kita hanya perlu menemukan satu buku, untuk mulai mencinta membaca.

Dan aku baru sadar, ternyata banyak banget buku-buku bagus di perpustakaan, namanya juga ga pernah ke perpus kan? Waktu itu perpustakaan kami cuman kelas biasa yang disulap dengan banyak rak buku. Dan pengunjungnya juga sedikit haha.

Edensor, benar-benar buku yang bisa membuatku berani bermimpi dan disitulah awal mulanya juga membaca nama Andrea Hirata, yang sampai saat ini tetap menjadi penulis favoritku. Ga ketinggalan deh sama buku-buku terbarunya. Kalau Pak Cik Andrea dengerin podcast ini, makasi banyak ya pak, sudah menulis kata-kata se ajaib itu.

Nah, ketika masuk sma, aku baru sadar ternyata banyak banget lomba-lomba dan olimpiade. Dan semua murid berlomba-lomba untuk ikut tes olimpiade tingkat sekolah, jika bisa menjadi salah satu tim olimpiade, maka akan menjadi perwakilan lomba tingkat kabupaten.

Waktu itu, aku mencoba tes olimpiade biologi, tapi ga lolos di tes pertama yaitu tes tertulis, isian, ga ada pilihan gandanya.

Aku sangat sedih sih waktu itu, karena pengen banget masuk tim biologi, waktu smp juga ikut olimpiade biologi tk kabupaten, tapi belum menang, waktu lomba madrasah science competition di psp, alhamdulillah masuk rangking 28 dari 300 peserta se sumut. Itu senang banget sih wkwk.

Walaupun ga lulus seleksi biologi, aku coba ikut olimpiade kimia

Siapa sih yang nyangka, aku lulus tes kedua olimpiade kimia, tapi akhirnya ga lulus juga. Terus aku coba lagi kebumian, sama sekali ga paham sama kebumian. Ga nak ips akunya, dan alhasil gagal juga.

Aku sempat putus asa karena ga ada yang masuk. Lomba empat pilar kewarganegaraan apalagi, mana ku tahu kalau mau masuk tim itu dilihat dari nilai ulangan hariannya.

Dan aku mencari cara lain, ya, lomba fls2n. oiya, ini tes nya dikelas 1 sma ya, biasanya dari kelas satu sudah diseleksi untuk lombo di tahun berikutnya yaitu kelas 2 sma.

Aku mencoba peruntungan di cabang cipta puisi. Aku sebenarnya ga tahu apa-apa soal puisi.

Sebelum ikut tesnya, aku ngajak ibu ke pasar nyari buku puisi, tapi memang langka banget buku puisi di mandailing natal. Toko buku yang besar ga ada, cuman kios-kios biasa. Dan udah nyari-nyari keliling pasar, cuman ketemu satu buku, yang kecil, tipis 76 halaman, judul nya ungkapkan isi hati melalui puisi. Dan itula awal mula perkenalanku dengan puisi, 2015.

Karena biasanya tema-tema FLS2N tentang kemerdekaan dan indonesia, aku mencari buku 35 tahun indonesia merdeka yang kertasnya sudah kuning. Aku ingat buku itu, ketika kakek meninggal, kami bongkar buku-bukunya, kakekku seorang kepala sekolah SD. Nah, aku baca bukunya.

Dan ketika tes puisi di minta untuk nulis dua halaman double folio, banyak banget.

Dan akhirnya aku lulus. Tapi disitulah perjuangan dimulai.

Tiap minggu itu ada tugas buat nulis puisi, dari guru bahasa indo ku, buk Lia, salam buk, terimakasih buk, udah minjamin nanda buku2 puisi ibuk, disaat teman-teman lagi olahraga sore, aku konsul tuh ke buk lia tentang puisi yang udah kutulis, apa yang kurang, gimana selanjutnya,

Yaps, disinilah pentingnya, menambah kosa kata, aku juga baca-baca kamus bahasa indonesia, setiap kata bagus di buku puisi itu, aku catat. Dan kadang sambil nunggu apel pagi masuk kelas, aku duduk di depan kelas, sendirian, bayangin deh apapun yang aku liat.

Jadi semua hal bisa kita masukkan ke puisi, paling penting tentuin dulu tema nya apa, supaya alurnya jelas juga, karena ini latihan untuk persiapan lomba jadi harus biasaan nulis panjang.

Begitulah ku persiapkan selama 2 tahun, sambil nunggu waktu lomba, aku ikut lomba buat cerita islami, sebanyak 70 halaman, dan itu perjuangan banget, banyak buku di perpustakaan yang ku pinjam, aku jadi lebih rajin ke perpus

Dan cukup sulit ditambah laptopku ga ada kan, rusak, jadi ibuku beli notebook seken, yang ternyata pas dipake mesinnya itu berputar keras banget, kalau mau dipake sambil carger pun harus copot batrenya.

Laptopku yang awal rusak usb-nya, jadi ga bisa pindahin file, aku sampe minjam laptop sekolah, minta bantuan ke guru BK dan minjam sama teman juga.

Klo ingat2 masa itu, kenapa ya dulu aku tetap perjuangin, padahal media ku aja ga ada. Dan pengetahuan ku tentang novel itu masih dikit banget.

Setelah noveletnya selesai, untukk mengirim naskah juga harus lewat pos, dan waktunya udah mepet banget. Dan untuk ke pos harus izin sekolah, karena kami sekolah dari jam 7 hingga 4.

Kalo nunggu pulang, kantor pos udah tutup.

Coba bayangin, sma ku di tengah hutan, kalau mau ke jalan besar, becak jarang banget lewat, oiya kami asrama.

Sekitar setengah jam nunggu, ga ada juga, aku sampe ke kantin mau minjam sepeda anaknya bude yang kecil. Benar-benar panik, kalo telat ngirimnya nanti ga keterima naskahnya

Tapi akhirnya, aku naik becak barang, mas imam, anak bude juga yang jualan tahu bakso di sekolah.

Ketika sampe jalan raya, harus naik angkot lagi. Setelah naik angkot, jalan kaki lagi ke dalam, ke arah rumah sakit umum panyabungan.

Tapi ga juara juga. Hahahah. Entahlah, entah naskahnya sampai ditangan panitia atau malah terlambat. Aku juga ga tahu karena tahun 2016, belum tahu cara lihat resi pengiriman di internet. Kalau mau buat tugas aja harus ke warnet. Hp pun belum ada.

Dan sampai sekarang itu masih menjadi misteri.

Setelah itu kabar tak ku harapkan datang menikam hatiku, pupus sudah mimpi ke palembang kalo lulus fls2n nasional, 2016, kasus korupsi sedang parah2nya dikota ini, hingga lomba tingkat kabupaten ditiadakan. Yang menjadi perwakilan tingkat provinsi adalah sekolah yang menang tahun lalu, dan cabang cipta puisi, tahun lalunya, kami ga menang.

Disitulah, aku down banget, dua tahun buat persiapan lomba itu, tapi ga jadi.

Siapa yang tega menampar mimpi anak kampung seperti ku ini. Hmm.. tanya pada rumput yang bergoyang.

Tapi hal lain yang menggantikannya adalah, aku masuk tim olimpiade biologi tanpa seleksi dan akhirnya juara satu tingkat kabupaten.

Nah, aku ga berhenti sampai disitu

Selama kuliah, aku juga masih sering nulis. Dan pernah ikut lomba nulis puisi se-USU, alhamdulillah juara satu, ikut FK Talent juga yang cabang non puisi, juara tiga hahah, lawannya teman-teman yang jago dance.

Itulah, aku sering bingung sih, milih nulis atau FK, dan akhirnya aku ga bisa pisah dari menulis ini. Aku suka, dan ga punya alasan yang panjang untuk mencintainya. Nulis buat aku lega. Aku juga nerbitin buku di semester 3 dan 5, puisi2 yang udah kutulis selama sma sampe kuliah, ku racik dalam buku.

Jadi, totalnya udah enam tahun lebih latihan menulis, kadang stress, kadang muak, kesel, pengen berhenti, apasih enaknya? Ga ada, cuman aku suka aja.

Buat teman-teman yang mau nulis juga, ga ada salah nya loh mencoba. Aku selalu bilang sama diriku, setidaknya semua sudah kumulai. Walaupun kadang di praktiknya kita pengen banget karya kita di baca orang, dapat like.

Pastinya ga akan lepas dari cibiran, hinaan orang-orang. Alah, pasti nulisnya curhat, baper banget sih jadi orang, dia ga tahu aja kalau nulis perlu membangun emosi dan banyak jenisnya.

Jujur, aku sangat terganggu itu, sering banget aku ga percaya diri sama tulisanku, entah sudah berapa kali instagramku diganti, postinganku banyak yang ku hapus, gara-gara ga tahan sama ucapan oranglain.

Tapi menurutku itu adalah proses pendewasaan. Ada yang suka dan ada yang tidak. Dibalik itu ada juga teman-teman, guru dan keluarga yang mendukungku.

Walaupun sebenarnya, ga dukung penuh wkwk. Tapi balik lagi, kuncinya sebenarnya ada pada diri sendiri. Tujuan kita menulis buat apa?

+2

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Nanda Sri Wahyuni Pulungan

Assalamualaikum, aku Nanda
Mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penyuka puisi, membaca dan menulis. Menulis sejak 2015.Penulis dua buku kumpulan puisi yaitu Hujan di Semenanjung Gersang(2018) dan Usah Kau Kenang Lagi(2019).Terimakasih sudah singgah dan salam kenal..